BPOM: 168 Produk Obat Sirop Dinyatakan Aman

Kepala BPOM Penny K Lukito saat mengumumkan daftar produk obat sirop yang dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Pengumuman itu disampaikan melalui konferensi pers di Gedung BPOM Jakarta, Kamis (17/11/2022). FOTO:dok.Ant

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengumumkan tambahan 168 produk obat sirop yang dinyatakan aman karena tidak mengandung zat kimia berbahaya Propilen Glikol, Polietilen Glikol, Sorbitol, dan Gliserin/Gliserol yang dikaitkan dengan kejadian gangguan ginjal akut.

“Sebanyak 168 produk obat sirop itu tidak mengandung cemaran Etilon Glikol/Dietilen Glokol (ED/DEG) dan aman untuk diedarkan. Produk sirop obat itu aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai,” kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/11/2022).

Kemenkumham Bali

Ia mengatakan daftar tersebut merupakan hasil investigasi lebih lanjut terkait temuan obat sirop yang mengandung cemaran (EG/DEG) melebihi ambang batas, sebesar 0,1 persen.

BACA JUGA  Kasus Gagal Ginjal, Alexius Tantrajaya: Jangan Dulu Salahkan Dokter

Ia mengatakan BPOM melakukan intensifikasi surveilans mutu produk sirup obat beredar dan bahan baku tambahan dengan metode penelusuran balik sebagai pengembangan pengawasan di jalur distribusi.

Verifikasi hasil pengujian bahan baku obat dilakukan secara mandiri oleh industri farmasi (IF), termasuk untuk cemaran EG/DEG, dalam rangka memastikan terjaminnya keamanan dan mutu sirop obat.

Verifikasi ini dilakukan berdasarkan pemenuhan kriteria, antara lain kualifikasi pemasok, pengujian bahan baku pada setiap kedatangan dan setiap wadah, serta memastikan metode pengujian mengikuti standar/farmakope terkini.

Selain itu, BPOM juga merilis 126 produk bahan baku pelarut obat sirop yang dinyatakan telah memenuhi ketentuan sesuai kriteria, sehingga direkomendasikan untuk dapat diedarkan.

BACA JUGA  Rumah di Petojo Terbakar, 16 Unit Mobil Damkar Dikerahkan

Menurut dia daftar tersebut berasal dari 15 industri farmasi yang memenuhi ketentuan dan aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai.

“Saat ini, tingkat maturitas industri farmasi masih perlu ditingkatkan, utamanya pada 24 persen industri farmasi yang tingkat maturitasnya minimal,” katanya.

Untuk itu, BPOM akan melakukan prioritas pembinaan pada industri farmasi tersebut untuk dapat menggambarkan maturitas industri farmasi yang lebih komprehensif, kata Penny K Lukito. (02/Ant)

Tinggalkan Balasan