BANDUNG-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Manajemen baru Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) pimpinan John Sumampauw menyatakan bahwa dengan rata-rata pendapatan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) sebesar Rp2,8 miliar hingga Rp3 miliar per bulan, pembiayaan perawatan sebanyak 700 satwa yang ada di dalamnya seharusnya cukup.
“Manajemen yang profesional seharusnya memiliki strategi dana darurat setara tiga sampai enam bulan biaya operasional, termasuk gaji karyawan, pakan satwa, tagihan listrik, air, dan biaya lainnya,” kata Humas YMT John Sumampauw, Ully Rangkuti dalam taklimat media yang diterima di Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/8/2025).
Karena itu, kata dia, dengan pendapatan sebesar itu, seharusnya tidak ada satwa yang terancam meskipun kebun binatang tutup untuk sementara waktu.
Ia menekankan perlunya transparansi dan pertanggungjawaban penuh terkait pengelolaan keuangan Bandung Zoo oleh manajemen YMT pada periode 2022 hingga Maret 2025.
Ia menyebut pendapatan tersebut mencakup pemasukan dari “animal feeding”, wahana permainan, acara khusus, serta bagi hasil dengan “tenant”.
“Mengingat pendapatan yang mencapai sekitar Rp36 miliar per tahun, kekhawatiran tentang penelantaran satwa seharusnya tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, timbbul pertanyaan besar, ke mana saja perginya dana sebesar itu?” katanya.
Untuk itu YMT di pihaknya mempertanyakan penggunaan dana itu selama periode tersebut, terlebih pengelola tidak membayar sewa lahan kepada Pemerintah Kota Bandung maupun pajak hiburan.
Ia menambahkan sejak kembali mengelola Bandung Zoo pada 21 Maret 2025 hingga diambil alih Pemkot Bandung pekan lalu, pihaknya mengetahui persis potensi pendapatan kebun binatang tersebut.
Tercatat pendapatan bulan April 2025 sebesar Rp6,04 miliar, Mei 2025 sebesar Rp2,88 miliar, dan Juni 2025 sebesar Rp3,09 miliar, demikian Ully Rangkuti. (PR/02)










