CORONIS :
Corona bernuansa bisnis. Di tengah kebingungan, dan seiring berjalannya waktu banyak yang mulai sadar. Karena sebagian petinggi negara tidak begitu peduli tentang dampak Covid-19 yang dianggap mengerikan tersebut dan tetap saja memasukan ratusan mungkin sampai ribuan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Indonesia tanpa halangan. Dan mereka dianggap sebagai penggerak perekonomian negara di pusat-pusat perusahaan tambang dan industri.
Viral juga wawancara mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadillah Supari dengan Deddy Corbuzier tentang isu bisnis vaksin mahal dengan Amerika Serikat di beberapa tahun yang lalu. Dan terungkapnya kerjasama World Health Organization (WHO) dengan lembaga bisnis dalam pengadaan vaksin serta relevansinya dalam penyediaan bantuan pendanaan dari lembaga finance internasional buat negara-negara yang roda perekonomiannya melemah dan butuh bantuan pinjaman, dan sebagainya. Viral juga Ramalan “Jitu” Wabah Virus, dan Vaksin Anti-corona dari Bill Gates pada tahun 2015 tentang bakal munculnya kondisi pandemi wabah saat ini.
Di sisi lain secara antagonis ada kesaksian seorang Direktur RS di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyatakan bahwa Covid-19 tidak menyebabkan kematian, melainkan adanya penyakit lain yang membonceng pada Covid-19, yang menyebabkan kematian tersebut.
Seiring dengan itu, muncul juga perlawanan di salah satu Masjid di Subang Jawa Barat yang terletak bersebelahan dengan pasar tradisional. Masjid didatangi aparat setempat dan melarang diadakannya kegiatan ibadah. Sang Imam Masjid dengan penuh sikap santun dan lembut menjelaskan bahwa kegiatan mereka di Masjid adalah beribadah selalu mengutamakan kebersihan dengan sangat memperhatikan aspek maupun protokol Covid-19.
“Selama ini tidak ada di antara jamaah kami yang terpapar covid-19. Sedangkan pasar sebagai pusat keramaian di sebelah Masjid kami justru penuh manusia tetapi tidak dilarang bahkan cenderung dibiarkan begitu saja,” katanya. Sehingga larangan oleh aparat tersebut tidak efektif.
Sedangkan Italia merasa menemukan obat corona dan dicobakan kepada 1.400 orang positif Covid-19 bisa langsung sembuh. Rahasianya diketahui setelah dilakukan otopsi terhadap jenazah penderita. Terkuak tabir corona bukanlah virus melainkan bakteri, yang melebarkan pembuluh darah dan membeku (koagulasi intravaskuler diseminata
trombosit). Presiden USA Donald Trump menyatakan bahwa Covid-19 ini virus China dan menduga ada konspirasi antara China dan WHO untuk berbohong.
Di saat bersamaan, seorang Kyai kondang dari Bandung viral curhat di publik, merasa kecolongan setelah menyaksikan acara konser amal disiarkan TV diselenggarakan pemerintah (Ketua MPR yang bekerjasama dengan BPIP) tanpa menggunakan masker yang seolah melanggar sendiri peraturan yang dibuatnya sendiri. Sebelumnya sang Kyai sangat aktif menghimbau umat Muslim agar beraktivitas dari rumah (Work From Home) saja termasuk beribadah tanpa harus ke Masjid guna mendukung program pemerintah terkait covid-19.
Berita antagonis lainnya muncul dari anak almarhum seorang pasien salah satu RS di Manado yang merasa disuap jutaan rupiah oleh oknum rumah sakit agar bersedia mengakui bahwa si pasien terpapar Covid-19 dan jenazahnya rela diselenggarakan mengikuti protokol Covid-19 sesuai ketentuan WHO menurut petugas Gugus Tugas Covid-19.
Padahal menurut si anak kondisi almarhum tidaklah demikian dan cukup banyak yang menolaknya. Terkait dengan biaya penanganan Covid-19, Menteri BUMN Erick Tohir pernah menyatakan bahwa biaya penangganan setiap pasien Covid-19 cukup mahal, bahkan konon kabarnya mencapai ratusan juta rupiah yang harus ditanggung Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Sehingga menimbulkan prasangka di masyarakat, apakah ratusan juta rupiah tersebut merupakan paket komplit sejak pasien masuk rumah sakit sampai dikuburkan mengunakan protokol Covid-19 ?.
Maka dari itu, adalah lumrah jika adanya berbagai upaya melakukan rekayasa sosial maupun merekayasa alat-alat medis. Alat pendeteksi suhu badan made in China misalnya, ternyata bisa distel sedemikan rupa, dinaikan angkanya beberapa derajat. Modus seperti ini juga disinyalir ikut berperan menjerat/menjebak calon korban agar bisa dipaksa untuk dikarantina di rumah sakit. Nuansa bisnis oportunis yang sangat kentara dengan memanfaatkan pandemi Covid-19.
Sehingga banyak beredar hoaks di tengah masyarakat agar para ulama tidak bersedia ikut rapid test dengan alat kesehatan bantuan dari negara China yang diduga akan punya modus yang sama. Klop sudah, prasangka demi prasangka muncul ke permukaan, sembari mempertanyakan makhluk jenis apa covid-19 ini sebenarnya? Virus jenis ini diakui penyebarannya sangat cepat sekali karena sudah dimuati rekayasa genetik dengan asam amino segala.
Bahkan umat Islam pun yang mayoritas di negeri ini sempat mempercayai kedahsyatan wabah Covid-19 secara berlebihan ketakutannya dari pada imannya kepada Allah SWT, Tuhan YME Sang Pencipta. Tindakan mana sudah hampir mendekati syirik yang bakal dilaknat Allah SWT.
Tapi menurut sebagian dokter ahli mengatakan bahwa virus corona ini secara medis bisa ditangkal dengan daya imunitas tubuh manusia sendiri dalam rentang waktu 7 – 14 hari. Begitu juga peran sel memorinya dalam tubuh manusia hanya butuh 1 x 24 jam mempersiapkan imunitas tubuh bagi mereka yang pernah terpapar. Sehingga tidak ada dasar untuk takut berlebihan dalam menyikapi covid-19. Sejak 26 Mei Presiden Jokowi memberlakukan kondisi “new normal live” versi pemerintah (kebiasaan kehidupan baru) hidup berdamai bersama Covid-19 dengan dalih agar perekonomian negara tetap berjalan.















