JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Mantan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Djohar Arifin Husin menilai sudah saatnya tokoh asal Asia memimpin Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).
Menurut dia, Asia memiliki sejumlah figur yang dinilai berpengalaman dan berpeluang memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut.
Djohar menyampaikan pandangan itu menjelang agenda pemilihan Presiden FIFA yang akan menentukan kepemimpinan untuk periode berikutnya. Ia menilai negara-negara Asia perlu mempersiapkan calon terbaik agar memiliki peluang memimpin FIFA.
“Sudah saatnya Asia memimpin FIFA,” kata Djohar Arifin Husin.
Menurut Djohar, sejak FIFA berdiri pada 21 Mei 1904 di Paris, Prancis, organisasi sepak bola dunia tersebut belum pernah dipimpin oleh tokoh yang berasal dari Asia.
FIFA didirikan oleh tujuh asosiasi sepak bola Eropa, yakni Prancis, Belgia, Belanda, Denmark, Spanyol, Swedia dan Swiss.
Djohar menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam perkembangan sepak bola dunia. Ia menyebut kepemimpinan FIFA selama ini lebih banyak berasal dari kawasan Eropa, sementara sejumlah tokoh dari benua lain juga pernah memegang posisi tertinggi di organisasi tersebut.
Ia mencontohkan Joao Havelange dari Brasil yang memimpin FIFA selama 24 tahun. Selain itu, menurut Djohar, Afrika juga pernah memiliki perwakilan dalam kepemimpinan FIFA.
“FIFA telah berdiri selama 122 tahun, namun dalam rentang waktu yang sangat panjang itu tidak satu pun presidennya berasal dari Asia. Ini rasanya hal yang sangat tidak adil di organisasi olahraga terpopuler di jagat raya yang mengedepankan fair play,” ujarnya.
Djohar berpendapat, kepemimpinan dari Asia dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap perkembangan sepak bola di kawasan tersebut.
Ia menilai Asia memiliki basis sepak bola yang sangat besar, baik dari sisi jumlah negara anggota FIFA, klub, pemain, penonton maupun pemirsa televisi.
Menurut dia, perkembangan sepak bola Asia juga terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertandingan sepak bola serta pertumbuhan kompetisi di berbagai negara.
Djohar juga menyoroti keberhasilan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Asia memiliki kapasitas untuk menjadi pusat perhatian dalam penyelenggaraan sepak bola dunia.
Atas sejumlah alasan tersebut, Djohar menilai Asia layak memiliki representasi di pucuk kepemimpinan FIFA.
Namun, ia menekankan pentingnya negara-negara Asia membangun kesepakatan sebelum mengajukan calon.
“Asia harus mempersiapkan tokoh sepak bola yang paling pantas memimpin sepak bola dunia, yang tentunya harus bisa diterima negara-negara anggota FIFA,” tuturnya.
Djohar kemudian menyebut sejumlah figur Asia yang menurutnya memiliki pengalaman dan kapasitas untuk dipertimbangkan sebagai calon Presiden FIFA.
Salah satunya adalah Tengku Abdullah Ahmad, yang disebut pernah menjadi Ketua Sepak Bola Malaysia dan memiliki pengalaman dalam organisasi sepak bola regional maupun internasional.
Djohar juga menyebut Tengku Abdullah pernah menjadi Senior Vice President FIFA serta anggota Komite Eksekutif FIFA.
Selain Tengku Abdullah, Djohar menyebut Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa sebagai figur lain dari Asia yang dinilainya memiliki pengalaman kuat di sepak bola internasional.
Sheikh Salman merupakan tokoh sepak bola Bahrain dan memiliki pengalaman dalam organisasi sepak bola Asia serta FIFA.
Djohar menilai kedua figur tersebut memiliki jaringan dan pengalaman yang dapat menjadi modal dalam persaingan menuju kursi Presiden FIFA.
Namun, ia menekankan agar Asia tidak mengusung lebih dari satu calon. Menurut Djohar, pencalonan satu figur yang mendapatkan dukungan luas dari negara-negara Asia akan memperbesar peluang kawasan tersebut dalam pemilihan.
Ia berharap Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) dapat berperan aktif dalam membangun konsolidasi negara-negara Asia.
Menurut dia, kesatuan dukungan menjadi faktor penting agar calon dari Asia memiliki kekuatan politik yang lebih besar dalam kongres FIFA.
Djohar memperkirakan calon dari kawasan Asia Tenggara berpotensi mendapatkan dukungan negara-negara ASEAN, sementara calon dari kawasan Timur Tengah juga memiliki jaringan luas di negara-negara Arab dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Karena itu, ia kembali mendorong negara-negara Asia untuk menyatukan pilihan dan mengusung satu calon dalam pemilihan Presiden FIFA mendatang.
“Saya sangat yakin calon Presiden FIFA dari benua Asia, insyaallah, akan didukung oleh mayoritas anggota FIFA,” kata Djohar.
Bagi Djohar, momentum pemilihan Presiden FIFA menjadi kesempatan bagi Asia untuk memperjuangkan keterwakilan di tingkat tertinggi sepak bola dunia.
Ia berharap konsolidasi dapat dilakukan sejak dini sehingga Asia memiliki kandidat yang kuat, berpengalaman dan mampu diterima anggota FIFA dari berbagai kawasan. (09/AGF).










