JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Festival Seneng Soccer menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pembinaan sepak bola usia dini melalui pengenalan teknik dasar dan kesempatan bertanding bagi anak-anak sekolah.
Program ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk menemukan potensi pemain muda sekaligus mendorong sekolah membangun pembinaan secara berkelanjutan.
Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna, menegaskan bahwa Festival Seneng Soccer tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana bagi anak-anak untuk mengenal sepak bola dengan cara yang menyenangkan.
Menurut Satia, pengenalan teknik dasar harus menjadi tahap awal sebelum anak-anak diarahkan menuju pembinaan yang lebih terstruktur. Dengan menikmati permainan terlebih dahulu, mereka diharapkan tumbuh dengan minat kuat untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan.
“Tujuan utamanya adalah membuat mereka tahu bagaimana cara bermain bola, dimulai dari yang menyenangkan terlebih dahulu,” kata Satia, Sabtu (24/10/2026).
Ia menjelaskan, festival tersebut juga diharapkan membantu sekolah mempersiapkan tim untuk kelompok usia di bawah 10 tahun (U-10). Namun, proses menemukan pemain berbakat tidak bisa hanya mengandalkan hasil pertandingan dalam satu festival.
Satia menilai, latihan rutin dan pengamatan berkelanjutan dari pihak sekolah menjadi faktor penting dalam mengenali potensi anak. Guru dan pelatih sekolah memiliki peran utama untuk memantau perkembangan kemampuan siswa, sedangkan festival menjadi wadah untuk berlatih, bermain, dan mengukur kemampuan dalam pertandingan.
“Bakat itu justru yang melihat pihak sekolahnya,” ujarnya.
Satia menambahkan, Festival Seneng Soccer direncanakan berlangsung dua kali dalam setahun. Pelaksanaan berkala tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi sekolah untuk berpartisipasi, sekaligus memperluas jangkauan pembinaan sepak bola usia dini.
Perluasan wilayah peserta juga menjadi perhatian penyelenggara. Sekolah-sekolah yang belum banyak terlibat, termasuk dari Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat, diharapkan mendapat kesempatan untuk mengikuti festival dan memperlihatkan potensi pemainnya.
Pada seri pertama, Satia menyebut potensi pemain mulai terlihat, meskipun pemantauan dari sejumlah wilayah masih perlu ditingkatkan. Karena itu, proses pencarian bakat atau talent scouting diharapkan lebih intensif pada seri berikutnya agar penjaringan pemain berlangsung lebih merata.
Pentingnya festival sebagai ruang pembinaan juga dirasakan SDN Cipulir 03. Pelatih sekolah tersebut, Muhammad Soleh, mengatakan keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan sepak bola.
Soleh mengungkapkan, timnya berlatih dua hingga tiga kali dalam sepekan dengan memanfaatkan area lantai yang tersedia. Konsistensi latihan dan tingginya antusiasme siswa menjadi modal untuk membangun kemampuan bermain, meskipun sarana latihan masih terbatas.
Salah satu siswa yang menunjukkan potensi adalah Naufalyn Fikria Rabbani, yang akrab disapa Alyn atau Alin. Soleh menilai Alin memiliki kemampuan dasar yang cukup baik, terutama dalam menggiring bola (dribbling), menyundul bola (heading), dan menendang ke gawang (shooting).
Alin juga tidak hanya mengikuti pertandingan kelompok usia U-8, tetapi berani bersaing di kelompok U-10. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus menambah jam terbang bertanding.
Menurut Soleh, pembinaan pemain usia dini tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Anak-anak perlu mendapatkan latihan konsisten, pendampingan, serta pemahaman teknik dasar yang benar.
Ia mengapresiasi Festival Seneng Soccer yang didukung MilkLife karena membantu sekolah mengembangkan keterampilan pemain, mulai dari lemparan ke dalam (throw-in), mengoper bola (passing), menggiring bola, hingga menendang ke gawang.
“Festival Seneng Soccer benar-benar membantu kami dalam pembinaan. Anak-anak belajar bagaimana melakukan lemparan ke dalam, passing, dribbling, dan shooting dengan benar,” kata Soleh.
Dalam kegiatan latihan, Soleh juga dibantu oleh Jeni dan Iqbal untuk mendampingi siswa. Selain keterampilan teknis, sekolah menanamkan kedisiplinan melalui kebiasaan berbaris tertib dan mengikuti kegiatan sekolah sebelum latihan dimulai.
Sementara itu, Alin mengaku senang dan bahagia mengikuti kegiatan sepak bola. Ia mulai menyukai olahraga tersebut sejak kelas satu sekolah dasar dan mengenal permainan melalui kegiatan di sekolah.
Alin menyebut passing, dribbling, shooting, dan throw-in sebagai beberapa teknik yang dipelajarinya. Ia juga mengidolakan pemain bernama Ole dan ingin terus berlatih untuk mengembangkan kemampuannya.
Kisah Alin menggambarkan pentingnya akses terhadap kegiatan sepak bola usia dini, khususnya bagi sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas. Melalui festival, anak-anak memperoleh ruang untuk belajar, bertanding, dan memperlihatkan potensi mereka.
Sejalan dengan pandangan Satia, pembinaan sepak bola usia dini membutuhkan kesinambungan antara festival, latihan di sekolah dan pengamatan bakat.
Dengan dukungan pelatih serta lingkungan sekolah, kegiatan seperti Seneng Soccer diharapkan dapat menjadi fondasi untuk mempersiapkan generasi pemain sepak bola berikutnya.(AGF)











