JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang sarat makna dan menggugah emosi. Sutradara kenamaan Anggy Umbara bersama sang saudara, Bounty Umbara, siap merilis film ‘Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel’ pada (4/12/ 2025).
Film ini diadaptasi dari kisah nyata Cristalino David Ozora, anak dari tokoh publik Jonathan Latumahina, yang sempat menjadi perhatian nasional akibat kasus penganiayaan brutal yang menimpanya. Namun, Anggy menegaskan bahwa film ini bukan dokumenter, melainkan drama fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata.
“Kami tidak menggunakan nama asli, tapi 90 persen adegan, blocking, dan kronologi kami sesuaikan dengan kejadian aslinya,” ujar Anggy saat konferensi pers di XXI Kemang Village, Jakarta Selatan, Rabu (22/10/2025).
Film Ozora menghadirkan perspektif berbeda bukan dari korban langsung, tetapi dari sisi sang ayah yang berjuang keras menuntut keadilan untuk anaknya.

“Awalnya saya ingin mengangkat isu bullying dari sudut pandang yang jarang diangkat: perasaan dan perjuangan seorang ayah korban kekerasan,” ungkap Bounty Umbara, yang juga menjadi penulis naskah.
Anggy menambahkan, ia sempat ragu karena dalam industri film Indonesia, korban kekerasan biasanya digambarkan sebagai perempuan.
“Tapi setelah mengenal sosok Jonathan Latumahina, saya merasa kisahnya begitu kuat dan penuh inspirasi. Kami berdua bahkan berasal dari skena musik metal yang sama,” ucapnya.
Aktor papan atas Chicco Jerikho dipercaya memerankan tokoh ayah yang terinspirasi dari Jonathan Latumahina. Dalam film ini, Chicco tampil dengan karakter yang emosional, keras namun rapuh di dalam, menggambarkan sosok ayah yang berjuang di tengah ketidakadilan.
“Peran ini sangat personal buat saya. Saya berusaha menyalurkan rasa sakit, kecewa, dan pasrah seperti yang dirasakan Bung Jo, tapi tanpa berlebihan,” ungkap Chicco.
Selain Chicco, sejumlah aktor ternama juga turut bergabung, antara lain Muzakki Ramdhan sebagai David Ozora, Tika Bravani, Donny Damara, Erdin Werdrayana, Annisa Kaila, dan Mathias Muchus
Sebelum produksi dimulai, tim Umbara Brothers melakukan komunikasi langsung dengan Jonathan Latumahina. Dalam pertemuan tersebut, Jonathan memberikan dukungan penuh terhadap pembuatan film ini.
Menurut Bounty, dukungan tersebut menjadi semangat tersendiri agar film Ozora tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pesan sosial tentang perlawanan terhadap kekerasan dan ketimpangan hukum.
Film “Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel” bukan sekadar drama keluarga, melainkan cermin realitas sosial tentang ketimpangan kekuasaan dan lemahnya perlindungan terhadap korban.
“Lewat film ini, kami ingin masyarakat lebih peka terhadap isu kekerasan, bullying, dan ketidakadilan hukum. Ini adalah bentuk perlawanan lewat karya,” pungkas Anggy Umbara.(04)









