JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Industri sepak bola Indonesia menawarkan peluang kerja yang semakin beragam bagi lulusan perguruan tinggi. Tidak hanya menjadi pemain atau pelatih, mahasiswa juga dapat berkarier sebagai media officer, analis data, tenaga operasional, hingga profesional di bidang komunikasi dan manajemen olahraga.
Peluang tersebut diperkenalkan I.League melalui program I.League Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur, Senin. Kegiatan ini diikuti sekitar 800 mahasiswa dari berbagai program studi, mulai dari informatika, fisioterapi, ilmu olahraga, bahasa Indonesia, komunikasi, hukum, hingga psikologi.
Manager Corporate Share Value (CSV) I.League, Hanif Marjuni, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan industri sepak bola sekaligus memperkenalkan pilihan profesi yang dapat ditekuni setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Menurut Hanif, sepak bola saat ini telah berkembang menjadi sebuah industri yang melibatkan banyak bidang keahlian. Kondisi tersebut membuka kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi dari berbagai disiplin ilmu untuk mengambil bagian dalam pengelolaan kompetisi dan pengembangan ekosistem sepak bola nasional.
“Sepak bola telah menjadi industri, artinya banyak profesi yang bisa digeluti mahasiswa ketika sudah lulus kuliah. Ini yang selama ini kurang dilihat, jadi kami memberikan penjelasan,” kata Hanif dalam kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, pengelolaan kompetisi sepak bola profesional membutuhkan dukungan tenaga kerja yang memiliki kompetensi beragam. Selain pemain, pelatih, dan ofisial pertandingan, klub serta operator kompetisi juga memerlukan tenaga profesional untuk menjalankan fungsi administrasi, komunikasi, analisis, pelayanan kesehatan, dan operasional.
Analis data, misalnya, dapat berkontribusi dalam pengolahan statistik pertandingan maupun evaluasi performa tim. Sementara itu, media officer berperan mengelola komunikasi klub dengan media dan publik, termasuk menyampaikan informasi resmi kepada suporter.
Lulusan informatika juga berpotensi terlibat dalam pengembangan sistem digital, pengolahan data, dan teknologi pendukung kompetisi. Adapun lulusan komunikasi, hukum, psikologi, serta bidang olahraga dapat mengembangkan keahlian sesuai kebutuhan organisasi sepak bola.
Keragaman profesi tersebut menunjukkan bahwa peluang berkarier di sepak bola tidak terbatas pada mereka yang menempuh pendidikan khusus olahraga. Mahasiswa dari berbagai program studi juga memiliki kesempatan selama mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Hanif menambahkan, besarnya aktivitas ekonomi dalam kompetisi sepak bola Indonesia menjadi salah satu indikator potensi industri tersebut. Berdasarkan riset BRI Research Institute yang dirilis pada 2024, perputaran uang dari penyelenggaraan kompetisi sepak bola divisi teratas Indonesia mencapai Rp10,4 triliun.
“Di balik angka ini banyak profesi yang bisa digeluti teman-teman mahasiswa,” ujarnya.
Besarnya nilai ekonomi tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi sepak bola melibatkan berbagai kegiatan yang saling berkaitan. Penyelenggaraan pertandingan membutuhkan dukungan sektor transportasi, perhotelan, pemasaran, penyiaran, teknologi, keamanan, hingga layanan bagi penonton.
Aktivitas tersebut membuka ruang bagi tenaga profesional untuk bekerja di klub, operator liga, perusahaan mitra, agensi olahraga, maupun berbagai sektor pendukung lainnya. Namun, untuk memanfaatkan peluang itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan keterampilan praktis, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, dan pemahaman mengenai karakter industri sepak bola.
Melalui I.League Goes to Campus, I.League berupaya mendekatkan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Program ini diharapkan membantu mahasiswa memahami jenis pekerjaan yang tersedia sekaligus memberikan gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja.
Hanif mengatakan program tersebut tidak berhenti di Universitas Muhammadiyah Malang. I.League berencana melanjutkan kegiatan serupa ke sejumlah daerah, antara lain Parepare, Samarinda, Jepara, Kediri, Surabaya, dan Yogyakarta.
Perluasan program tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Dengan demikian, informasi mengenai peluang kerja di industri sepak bola tidak hanya diterima mahasiswa yang berada di kota-kota besar atau memiliki akses langsung ke lingkungan klub profesional.
Dari sisi perguruan tinggi, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara pembelajaran akademik dan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa dapat mengenali penerapan ilmu yang dipelajari di kampus dalam lingkungan profesional, termasuk pada bidang yang mungkin belum banyak mereka pertimbangkan sebelumnya.
Ketua Pelaksana I.League Goes to Campus UMM, Abdul Rahman Muzaki, menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun sinergi antara dunia pendidikan dan industri sepak bola.
Ia berharap semakin banyak lulusan UMM yang mampu mengambil peran dalam perkembangan sepak bola Indonesia, terutama mereka yang memiliki latar belakang pendidikan olahraga.
Abdul secara khusus menyoroti potensi lulusan Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga untuk berkontribusi dalam ekosistem sepak bola. Dengan kompetensi yang sesuai dan kesempatan pengembangan karier, lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat mengisi kebutuhan tenaga profesional di berbagai lini.
Kolaborasi antara kampus dan industri menjadi penting agar lulusan tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga memahami tuntutan pekerjaan. Pengenalan profesi, pengembangan keterampilan, serta perluasan jaringan profesional dapat menjadi langkah awal untuk mempersiapkan mahasiswa memasuki industri sepak bola.
Melalui program ini, I.League berharap sepak bola Indonesia semakin dikenal sebagai sektor yang menyediakan peluang karier lintas disiplin ilmu.
Keterlibatan lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat mendukung profesionalisme pengelolaan kompetisi sekaligus memperkuat perkembangan industri sepak bola nasional. (AGF/09).











