Iran Bantah Klaim Trump soal Permintaan Gencatan Senjata

Avatar photo
Iran Bantah Klaim Trump soal Permintaan Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Dok. Reuters)

SUDUTPANDANG.ID – Pemerintah Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Teheran telah meminta gencatan senjata. Iran menegaskan klaim tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan posisi resmi pemerintah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan, pernyataan Trump tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Ia menegaskan Iran tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Amerika Serikat.

“Pernyataan Trump tentang permintaan Iran untuk gencatan senjata adalah salah dan tidak berdasar,” ujar Baqaei, seperti dikutip dari laporan media pemerintah Iran, Rabu (1/4/2026).

Sebelumnya, Trump melalui platform media sosial Truth Social mengklaim Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata kepada Washington.

BACA JUGA  Kemlu RI Pastikan Pemulangan 97 WNI Bertahap via Azerbaijan

Namun, ia menyebut Amerika Serikat baru akan mempertimbangkan hal tersebut apabila Selat Hormuz kembali terbuka dan bebas dilalui kapal.

Trump bahkan menyampaikan pernyataan keras terkait kondisi tersebut.

Ia menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tuntutan tersebut dipenuhi.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Eskalasi konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang.

Dalam perkembangan selanjutnya, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan pesawat nirawak dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

BACA JUGA  Dirut PLN ke Prancis Bangun Kolaborasi Global Kembangkan Pembangkit Hidrogen

Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada stabilitas pasar global dan aktivitas penerbangan.

Situasi ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, di tengah perbedaan pernyataan antara kedua negara terkait kemungkinan gencatan senjata.(red)