“Mereka bukan sekadar pedagang/ Warung kecil. Mereka adalah agregator ekonomi lokal yang lahir dari seleksi alam pasar. Mereka bertahan bukan karena dilindungi kebijakan, tetapi karena dipaksa efisien setiap hari”
Oleh: Dr.Kemal H Simanjuntak,MBA
Mengapa Negara Terus Gagal Berdagang, Tapi Pedagang Jalanan Selalu Bertahan Belakangan ini, wacana “mengusir” ritel modern kembali dipanaskan lewat proyek Koperasi Desa. Narasinya tidak pernah berubah nasionalisme ekonomi, perlawanan terhadap korporasi besar, dan romantisme ekonomi rakyat.
Namun ada satu pertanyaan sederhana yang jarang dijawab secara jujur sejak kapan bisnis yang hidup dari subsidi mampu mengalahkan bisnis yang hidup dari disiplin pasar?
Sejarah ekonomi Indonesia penuh dengan eksperimen mulia yang runtuh karena satu kenyataan mendasar niat baik tidak pernah bisa menggantikan efisiensi. Banyak badan usaha yang dibangun dengan semangat kolektif dan perlindungan regulasi justru melemah ketika berhadapan dengan realitas arus kas, margin tipis, dan tekanan operasional sehari-hari. Uang negara seringkali tidak memperkuat naluri kewirausahaan justru menumpulkan-nya.
Publik kerap mengira minimarket unggul karena lebih bersih dan terang. Itu keliru. Kekuatan mereka bukan pada tampilan fisik, melainkan pada sistem yang tak terlihat rantai pasok terintegrasi, algoritma distribusi, sistem ERP, dan negative working capital menjual tunai hari ini, membayar pemasok berminggu-minggu kemudian.
Inilah mesin efisiensi yang membuat jaringan seperti dan mampu hidup dari margin tipis namun stabil. Tanpa skala ekonomi, bisnis ritel bukan soal keberanian, melainkan hitungan mundur menuju krisis arus kas.
Ironisnya, jika negara benar-benar ingin melihat ekonomi rakyat yang tangguh, mereka tidak perlu menciptakan model baru. Lihat saja kawasan padat seperti. Di sana, Warung Madura, warteg, dan rumah makan sederhana menjalankan kapitalisme paling murni tanpa subsidi, tanpa proteksi, tanpa program kebijakan.
Warung Madura mengalahkan keterbatasan skala dengan jam operasional ekstrem dan fleksibilitas lokasi. Warteg bertahan karena disiplin biaya harian yang nyaris tanpa toleransi kesalahan.
Rumah makan tradisional hidup karena reputasi rasa yang dijaga seperti aset finansial. Bahkan jaringan seperti menunjukkan sesuatu yang sering gagal dicapai koperasi formal standardisasi operasional, kemitraan sistemik, dan ekspansi berbasis insentif nyata bukan berbasis anggaran.
Mereka bukan sekadar pedagang kecil. Mereka adalah agregator ekonomi lokal yang lahir dari seleksi alam pasar. Mereka bertahan bukan karena dilindungi kebijakan, tetapi karena dipaksa efisien setiap hari.
Masalah utama kebijakan ritel kerakyatan sebenarnya bukan pada niatnya, melainkan pada peran negara yang keliru. Negara terlalu sering mencoba menjadi pedagang, padahal seharusnya menjadi arsitek ekosistem.
Alih-alih membangun toko baru, negara seharusnya membangun infrastruktur logistik terbuka, gudang regional berbasis sistem digital, pembiayaan inventori murah, dan akses harga grosir setara principal.
Jika pelaku kecil bisa membeli barang dengan harga yang sama seperti jaringan besar, maka pasar akan menyeimbangkan dirinya sendiri.
Retorika anti-ritel modern tanpa solusi efisiensi pada akhirnya hanyalah populisme administratif. Dalam hukum pasar yang sederhana dan kejam, hanya ada satu prinsip efisien atau tersingkir.
Warung trotoar telah membuktikan ketangguhan tanpa subsidi, sementara banyak proyek berbasis anggaran hanya bertahan selama dana tersedia.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti membiayai inefisiensi yang direncanakan, dan mulai memperkuat efisiensi yang sudah terbukti.
Karena dalam ekonomi nyata, bukan lembaga yang paling dilindungi yang bertahan melainkan pelaku yang paling adaptif.
Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tata Kelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)









