Lee Jae-myung: China Telah Lampaui Korsel di Beberapa Sektor Teknologi

Avatar photo
Lee Jae-myung: China Telah Lampaui Korsel di Beberapa Sektor Teknologi
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menggelar pertemuan resmi di Beijing, Minggu (4/1/2026). (Foto:Yonhap via AP/Kim Do Hun)

SUDUTPANDANG.ID – Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae-myung menilai China telah menyamai, bahkan melampaui Korea Selatan (Korsel) dalam beberapa sektor teknologi. Pernyataan ini disampaikan Lee dalam wawancara dengan China Media Group (CMG), menjelang kunjungan resmi ke Tiongkok, pada Minggu (4/1/2026).

Dalam kunjungannya, Lee Jae-myung memimpin delegasi sekitar 200 perwakilan perusahaan Korsel. Kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya persaingan industri antara kedua negara, terutama di sektor otomotif dan kendaraan listrik.

Lee Jae-myung menyatakan bahwa kerja sama ekonomi Korsel-Tiongkok sebelumnya bersifat vertikal. Negaranya menyuplai teknologi canggih dan modal, sementara China menyediakan tenaga kerja. Namun, perkembangan pesat China kini menuntut pendekatan kerja sama yang lebih setara dan horizontal.

Lee menambahkan, kolaborasi masa depan sebaiknya fokus pada bidang-bidang teknologi tinggi, termasuk kecerdasan buatan dan pengembangan perangkat lunak kendaraan.

BACA JUGA  Ketahanan Keluarga Sangat Penting Hadapi Era AI

Ia berpandangan, hal ini mencerminkan pergeseran dinamika industri otomotif, di mana China telah menjadi produsen dan eksportir kendaraan energi baru terbesar di dunia. Sementara Korsel tetap menjadi pemain kunci dalam manufaktur otomotif global, elektronika daya, dan rantai pasokan baterai.

Pasokan Baterai

Ia menyatakan bahwa rantai pasokan baterai menjadi area utama persaingan sekaligus saling ketergantungan. Perusahaan-perusahaan China menguasai produksi baterai lithium besi fosfat dan pemrosesan hulu mineral penting, sementara perusahaan Korsel tetap menjadi pemasok utama baterai lithium ternary untuk produsen mobil global.

Kendati demikian, lanjutnya, perusahaan Korea menghadapi tekanan dari alternatif China yang lebih murah seiring meluasnya adopsi kendaraan listrik.

Selain itu, batasan persaingan di perangkat lunak kendaraan dan sistem pengemudian cerdas semakin menyempit. Produsen mobil China mempercepat adopsi sistem bantuan pengemudi canggih dan fungsi berbasis kecerdasan buatan pada model massal.

BACA JUGA  Susi Pudjiastuti: Bedakan Persahabatan dengan Pencuri Ikan

Sementara itu, perusahaan Korea meningkatkan investasi pada kendaraan yang ditentukan perangkat lunak, pengemudian otonom, dan kecerdasan buatan untuk mempertahankan daya saing domestik dan internasional.

Data perdagangan menunjukkan ekspor kendaraan China ke Korsel meningkat, sementara pemasok suku cadang Korea menghadapi tekanan dari produsen komponen China di motor listrik, elektronika daya, dan material baterai.

Lee menekankan bahwa rantai pasokan industri kedua negara sangat terintegrasi, sehingga menghindari konfrontasi menjadi kunci dalam hubungan ekonomi.

Bertemu Xi Jinping

Lee Jae Myung mendarat di China pada Minggu (4/1/2026), untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan mitra dagang terbesar Negeri Ginseng

Kunjungan ini juga sekaligus menjaga membahas isu sensitif seperti hubungan China dan Taiwan yang tengah

BACA JUGA  Pesawat Berpenumpang 132 Orang Jatuh di Pegunungan China, Tidak Ada yang Selamat

Selama kunjungan, Lee dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Tiongkok dan perwakilan bisnis, membahas kerangka kerja kerja sama di sektor manufaktur canggih, termasuk otomotif dan energi baru.

Kunjungan ini menjadi momentum bagi kedua negara untuk menyesuaikan strategi industri di tengah persaingan ketat kendaraan listrik, baterai, dan teknologi otomotif.(01)