Lokakarya Pra-OWAKA FOKSI, Pakar Unpad Prediksi Harimau-Badak Sumatra Berisiko Punah 2051

Owaka 2026
Narasumber, peserta dan fungsionaris FOKSI berfoto bersama pada lokakarya pra-Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) bekerja sama dengan Gerakan Pramuka Unpad di Gedung D Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Selasa (28/7/2026). FOTO: HO-Pramuka Unpad-FOKSI

SUMEDANG-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Kepala Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Universitas Padjajaran (Unpad) Dr Susanti Withaningsih melalui pemodelan ilmiah terkait prediksi eksistensi satwa liar mengungkapkan bahwa harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) berisiko masuk extinction vortex (punah) sebelum tahun 2051.

“Risiko punah itu terjadi jika poaching (perburuan ilegal) dan inbreeding (kawin sedarah) tidak diintervensi secara agresif. Hal itu dianalisa berdasarkan teknik menghitung waktu yang tersisa dengan population viability analysis (PVA),” katanya dalam lokakarya pra-Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) bekerja sama dengan Gerakan Pramuka Unpad di Gedung D Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Selasa (28/7/2026).

Selain Susanti Withaningsih, narasumber lainnya adalah Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad, Prof Dr Ir Ganjar Kurnia, DEA, yang juga Rektor Unpad masa bakti 2007 hingga 2015, yang membawakan tema “Budaya Sunda Untuk Konservasi: Pendekatan Kultural dan Teknis Dalam Menjaga Alam”, dengan fasilitator tiga fungsionaris FOKSI, yakni Teguh Laksana, Atta Verin dan Adi Marseila.

FOKSI adalah organisasi nirlaba yang lahir pada 5 Februari 1998, yang muncul dari sebuah keprihatinan akan degradasi mutu lingkungan hidup dan kelestarian satwa endemik Indonesia sehingga para jurnalis mencoba berhimpun menggandeng kekuatan dengan para akademisi, pengusaha, peneliti, birokrat, hobies (pecinta satwa), pecinta lingkungan, untuk bersama-sama menjalankan misi konservasi.

Sedangkan OWAKA adalah program pelatihan dan edukasi khusus bagi para jurnalis untuk mendalami isu-isu pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan satwa liar, di mana kegiatan ini secara historis digagas oleh FOKSI.

BACA JUGA  Bupati Asahan Hadiri Turnamen Sepak Bola Korpri Kota Medan

Susanti Withaningsih, yang memaparkan tema “Eksistensi Konservasi Satwa Langka Indonesia: Prediksi & Solusi 2026–2051” di depan peserta lokakarya, yakni pelajar SLTP dan SLTA anggota Gerakan Pramuka Sumedang itu menjelaskan bahwa pemodelan ilmiah itu untuk memotret eksistensi satwa dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.

Dikemukakannya bahwa ada model lain untuk bisa memantau eksistensi satwa liar. Misalnya, memakai model “species distribution” yang menunjukan peta kehilangan habitat akibat perubahan iklim.

Lalu, model “niche shingkage“, yakni adanya penyusutan ruang ekologis akibat kenaikan suhu global, di mana data menunjukkan dengan cara ini, hilangnya habitat yang dramatik.

Prediksi satwa liar lenyap juga dipotret dengan cara “mountaintop extinction“. Langkahnya, yakni memonitor spesies endemik dataran tinggi akan bergeser ke elevasi lebih tinggi hingga sampai pada lokasi yang tidak ada ruang tersisa. Artinya tinggal menungu kepunakan di ketinggian dataran tersebut.

Cara lainnya, kata dia, sering disebut “fragmentasi dataran rendah“, yakni suatu saat karena perubahan iklim, maka gajah dan orangutang misalnya, akan terisolasi dalam pulau pulau habitat yang memperparah konflik dengan manusia.

Kemudian, tambahnya, dengan model “spatial connectivity & circuit theory” (memotret isolasi populasi). Pemodelan konektivitas ini untuk mengidentifikasi koridor satwa yang terputus akibat pembangunan insfrasturktur linier semacam pembangunan jalan tol, pertambangan dan perkebunan skala besar.

BACA JUGA  Inilah Capaian Kinerja Kejaksaan Bidang Pembinaan dan Intelijen Sepanjang 2024

“Kondisi ini bisa memutus alur gen etik antarsubpopulasi dan mempercepat akumulasi lethal equivalents ( ekuivalen mematikan) dan sekaligus memperdalam extinction debt (hutang kepunahan yang belum terbayar) yang sudah terjadi,” katanya.

 

Owaka sumedang
Narasumber dan fungsionaris FOKSI berfoto bersama pada lokakarya pra-Orientasi Wartawan Konservasi (OWAKA) yang digagas Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) bekerja sama dengan Gerakan Pramuka Unpad di Gedung D Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisip Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Selasa (28/7/2026). FOTO: HO-Pramuka Unpad-FOKSI

Pendorong Mematikan

Menurut dia manusia tidak bisa hidup sendiri, maka manakala habitat atau satwa lenyap sesungguhnya manusia punya hutang atas kepunahannya. Pemikiran ini, disebut extinction debt (hutan kepunahan yang belum dibayar).

Misalnya, kepunahan akan terjadi karena “living dead population“. Artinya, populasi yang secara genetik terlalu kecil untuk bertahan, meskipun individunya masih hidup sekarang. Sebagai contoh, satwanya tinggal satu ekor, maka diapapun penjagaannya, akan mati juga karena tidak bisa berkembang biak.

Selain itu, ada lagi yang disebut “effective population size“. Contohnya, harimau sumatera, badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan orangutan (pongo) sudah di bawah ambang batas minimal kelestarian genetiknya.

Ia memberi contoh, misalnya, ada aturan 50/500, yang menunjukan ambang batas kelangsungan hidup satwa. Minimal 50 individu artinya batas minimum untuk mencegah “inbreeding” dalam jangka pendek. Sementara harusnya lebih dari 500 individu batas untuk mempertahankan potensi adaptif evolusioner jangka panjang terhadap perubahan lingkungan.

Sementara badak sumatera kurang dari 80 individu, jauh di bawah ambang batas kritis. Artinya populasi ini berada dalam bahaya kepunahan genetik nyata.

Sementara soal proyeksi 2051 bagaimana nasib satwa liar, Susanti menilai tergantung skenario mana yang akan ditempuh. Ia menyebut ada tiga skenario. Pertama skenario buruk. Artinya ada pembiaran saja, badak sumatera akan punah lokal.

BACA JUGA  Ganjar Pranowo: Menyelesaikan Problem Kemiskinan Terbaik Adalah Dengan Pendidikan

Harimau sumatera di bawah jumlah 50 dan orangutan terfragmentasi ekstrem, sehingga semuanya tinggal menunggu kepunahan.

Ia menambahkan bahwa skenario moderat, yakni dilakukan intervensi parsial. Laju kepunahan memang melambat, namun kurva tidak berbalik. Artinya populasi ditahan stabil saja jumlahnya walaupun tetap tidak viable (hidup layak) jangka panjang.

“Yang terbaik adalah aktivitas habitat pulih, intervensi genetikc berhasil dan tata kelola ekosentris menstabilkan populasi kritis berjalan,” kata anggota Asian Raptor Research and Concervation Network ini.

Namun yang pasti, semua pihak harus menyadari, ada empat pendorong kepunahan yang bekerja bersamaan.Empat hal itu, fragmentasi dan degradasi habitat, perubahan iklim global, perburuan dan perdagangan melalui jaringan siber, dan penyakit zoonotik dan invasif, demikian Susanti Withaningsih. (Red/02)