BOGOR, SUDUTPANDANG.ID – Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB) 98 memperingati Hari Lahir (Harlah) atau Milad ke-28 di Lapangan Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (9/8/2026). Perayaan ini menjadi momentum memperkuat persaudaraan, silaturahmi dan soliditas keluarga besar organisasi yang hadir dari berbagai daerah.
Rangkaian acara diikuti pengurus dan anggota dari Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta hingga Bandar Lampung. Dari Kabupaten Tangerang, rombongan DPC bersama DPAC se-Kabupaten Tangerang turut ambil bagian, termasuk DPAC Jambe beserta jajaran ranting se-Kecamatan Jambe.
Pendiri BPPKB Jambe, Lala Sutawijaya, S.H., juga hadir dalam perayaan tersebut. Sementara itu, perwakilan dari Kota Serang datang bersama sejumlah DPAC dengan titik kumpul di Sekretariat DPAC Walantaka.
Kehadiran perwakilan dari berbagai wilayah mencerminkan upaya memperkuat persaudaraan dan menjaga soliditas setelah organisasi melewati perjalanan selama 28 tahun.
Perayaan semakin istimewa dengan kehadiran tokoh Kasultanan Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, yang dikenal sebagai Pangeran Kuda Putih.
Dalam kesempatan tersebut, ia menganugerahkan gelar kehormatan sebagai anggota kehormatan keluarga Kasultanan Cirebon kepada Ketua Umum BPPKB 98 Abah H. Nur Indradjaja dan Sekretaris Jenderal Abah H. TB. Endoh Soegriwa.
Pemberian gelar tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perayaan, sekaligus mempertemukan semangat organisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi.
Tekankan Peran Sosial

BPPKB 98 didirikan sejumlah tokoh, di antaranya Dudung Sugriwa, Abah Ondi, Abah Uhat, Abah Atta, Abah Oyim, dan Abah Endoh.
Sejak berdiri, organisasi ini membawa semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap masyarakat. Peran tersebut diwujudkan antara lain melalui fungsi kontrol sosial serta kesediaan menerima pengaduan warga.
Dalam menjalankan aktivitasnya, BPPKB 98 menyatakan tetap mengedepankan norma hukum dan nilai-nilai Pancasila. Pada momentum ulang tahun kali ini, anggota juga diajak menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak yang berupaya menimbulkan perpecahan.
Suasana perayaan semakin semarak dengan pertunjukan seni tradisional. Sejumlah perwakilan daerah menampilkan pencak silat dan debus yang disaksikan peserta serta masyarakat di sekitar lokasi.
Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan kesenian tradisional yang berkembang di tengah masyarakat.(Aceng/01)




