Presiden Prabowo Dorong PTPN Tingkatkan Produktivitas Gambir Rakyat

Presiden Prabowo Dorong PTPN Tingkatkan Produktivitas Gambir Rakyat
Foto:Dok. PTPN IV PalmCo

KARAWANG, SUDUTPANDANG.ID – Presiden RI Prabowo Subianto mendorong PTPN untuk berperan aktif meningkatkan produktivitas gambir rakyat melalui penguatan hilirisasi dan pemanfaatan teknologi. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat meninjau panen raya sekaligus pengumuman swasembada pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, Presiden menyaksikan pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern serta meninjau sejumlah produk hilirisasi berbasis komoditas unggulan nasional.

Salah satu komoditas yang menarik perhatian Presiden adalah gambir, tanaman endemik Indonesia yang selama ini belum banyak dikenal publik, tetapi memiliki potensi besar di pasar global.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Komoditas seperti gambir, menurutnya, perlu diolah lebih lanjut di dalam negeri agar memberikan nilai tambah yang lebih besar, membuka peluang industri baru, serta meningkatkan pendapatan petani di sentra produksi.

Dorongan Presiden Prabowo tersebut sekaligus menjadi sinyal bagi Kementerian Pertanian dan Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan, termasuk PTPN, untuk mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem hilirisasi berbasis riset, teknologi, dan kemitraan dengan petani rakyat.

Komoditas Endemik Berorientasi Pasar Global

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa menyatakan sepakat dengan Presiden Prabowo. Ia menyebut, gambir merupakan komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian, padahal memiliki posisi kuat di pasar internasional.

BACA JUGA  DPR Apresiasi Kolaborasi Unair, TNI, BIN dan Polri Soal Penelitian Obat Covid-19

“Selama ini orang mengenal gambir hanya dikaitkan dengan sirih. Padahal, gambir adalah produk strategis. Bahkan, ada negara yang sekitar 90 persen kebutuhan gambirnya dipasok dari Indonesia,” ujar Jatmiko di sela kegiatan.

Ia menjelaskan, gambir mengandung antioksidan dengan kadar sangat tinggi, bahkan melebihi green tea yang selama ini dikenal luas sebagai produk kesehatan. Kandungan tersebut membuat gambir berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi.

“Gambir dapat diolah menjadi produk pangan seperti teh, bahan baku kosmetik, sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Taninnya bahkan digunakan sebagai bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan luasnya pemanfaatan gambir,” katanya.

Namun, Jatmiko mengakui, sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi. Karena itu, hilirisasi dinilai menjadi langkah krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di dalam negeri.

Fokus Peningkatan Produktivitas

Jatmiko menambahkan, langkah awal yang paling realistis adalah meningkatkan produktivitas gambir rakyat dari lahan yang sudah ada. Saat ini, produktivitas gambir di tingkat petani masih relatif rendah, yakni sekitar 0,5 ton per hektare.

BACA JUGA  APEC 2025: Prabowo Soroti Peran AI untuk Perkuat Ketahanan Pangan

“Dengan pendekatan riset dan perbaikan metode pengolahan daun gambir, produktivitas bisa ditingkatkan menjadi 0,75 ton bahkan hingga 1 ton per hektare. Itu berarti ada potensi kenaikan 50 hingga 100 persen, yang dampaknya langsung terasa pada pendapatan petani,” ujarnya.

Peningkatan produktivitas tersebut, kata dia, akan diperkuat dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan gambir yang disesuaikan dengan hasil riset dan kebutuhan pasar. Langkah ini penting agar rantai nilai gambir tidak berhenti pada penjualan bahan baku.

“Kita tidak bisa membangun pabrik tanpa memahami pasar. Produk yang memiliki permintaan kuat dan peluang penguasaan pasar itulah yang harus didorong lebih dulu,” kata Jatmiko.

Keunggulan Alam Sulit Ditandingi

Dari sisi akademik, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Dr Eng Muhammad Makky S TP M Si, menilai gambir memiliki keunggulan geografis yang sangat spesifik.

“Sumatera merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Tanaman ini tumbuh di Sumatera Barat, Sumatera Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun, kondisi abiotik dan ekosistem yang paling mendukung terdapat di Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” ujarnya.

Menurut Makky, keunggulan alam tersebut menjadikan gambir sulit dikembangkan secara optimal di negara lain. Meski demikian, keunggulan komparatif itu perlu diikuti dengan peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir.

“Keunggulan alamnya sudah ada. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan memastikan gambir diolah menjadi produk bernilai tinggi. Di sinilah peran riset dan teknologi menjadi sangat penting,” katanya.

BACA JUGA  PTPN Group Raih Penghargaan dari Polres Banjar

Sebagai mantan konsultan Bank Dunia, Makky menekankan pentingnya kolaborasi antara BUMN, perguruan tinggi, dan petani agar pengembangan gambir dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang luas.

Momentum Hilirisasi Komoditas Rakyat

Dorongan Presiden Prabowo terhadap hilirisasi gambir dinilai menjadi momentum penting bagi pengembangan komoditas rakyat berbasis keunggulan lokal.

Dengan pengelolaan yang tepat, gambir berpotensi menjadi produk unggulan ekspor sekaligus motor penggerak ekonomi daerah di sentra-sentra produksi Sumatera.

Peningkatan produktivitas, pembangunan industri pengolahan, serta pengembangan produk turunan gambir diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah.(PR/01)