Sadikin Aksa Ungkap Alasan Klub Indonesia Sulit Bersaing di Asia

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Direktur Komersial I.League Sadikin Aksa mengungkapkan sanksi pembekuan FIFA dan pandemi COVID-19 menjadi dua faktor utama yang membuat klub-klub Indonesia kesulitan bersaing di kompetisi antarklub Asia dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Sadikin, kondisi tersebut membuat perkembangan sepak bola Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara.

Klub-klub dari negara lain dinilai memiliki kesempatan lebih besar untuk mempertahankan kompetisi dan mengembangkan sistem klub karena tidak mengalami penghentian aktivitas akibat sanksi FIFA maupun dampak pandemi dengan tingkat yang sama.

Pernyataan tersebut disampaikan Sadikin dalam acara Water Break PSSI Pers bertajuk “Membawa Liga Naik Kelas” yang digelar di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Sadikin mengatakan klub-klub di sejumlah negara Asia Tenggara tetap dapat menjalankan kompetisi dan aktivitas sepak bola selama masa pandemi.

Sementara Indonesia menghadapi persoalan tambahan berupa sanksi pembekuan FIFA yang berdampak terhadap perkembangan sepak bola nasional.

“Kalau ditanya klub-klub yang di Asia Tenggara ini kenapa lebih maju? Mereka tidak menghadapi larangan (pembekuan FIFA) dan tidak menghadapi masalah Covid. Mereka tetap jalan selama Covid. Dan larangan itu yang paling berat kita rasakan, larangan FIFA. Mereka enggak merasakan itu,” kata Sadikin.

BACA JUGA  I.League Matangkan Indonesia Women's League 2026/27

Menurutnya, ketertinggalan tersebut tidak dapat dipisahkan dari perubahan regulasi sepak bola Asia yang terjadi pada periode tersebut.

Ketika regulasi AFC berubah, klub-klub dari negara Asia Tenggara lainnya dapat langsung menyesuaikan diri dan melanjutkan proses transformasi.

“Kita pada saat itu mau mengikuti kena ban (sanksi). Akhirnya mindset klub-klub kita, kalau ditanya kita itu baru bisa bertransformasi bener ya tiga tahun terakhir,” ujar Sadikin.

Ia menilai proses transformasi klub-klub Indonesia baru berjalan lebih serius dalam tiga tahun terakhir.

Perubahan tersebut mencakup upaya meningkatkan tata kelola, profesionalisme, pengelolaan kompetisi, serta kesiapan klub menghadapi persaingan di tingkat Asia.

Sadikin juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah klub yang mampu mencatatkan prestasi di kompetisi Asia.

Salah satu contohnya adalah Persipura Jayapura yang pernah mencapai semifinal Piala AFC.

Namun, setelah pencapaian tersebut, belum ada klub Indonesia yang mampu menyamai atau melampaui prestasi Persipura di kompetisi antarklub Asia.

Menurut Sadikin, kondisi itu menunjukkan masih panjangnya perjalanan klub-klub Indonesia untuk dapat bersaing secara konsisten di level Asia.

Persaingan di kompetisi kontinental membutuhkan kesiapan klub dari berbagai aspek, bukan hanya kemampuan teknis di lapangan.

BACA JUGA  Evaluasi EPA Jadi Sorotan, I.League Janji Perketat Disiplin Musim Depan

Wakil Indonesia dalam kompetisi Asia pada musim sebelumnya adalah Persib Bandung.

Klub asal Jawa Barat tersebut hanya mampu melangkah hingga babak 16 besar Liga Champions Asia Dua, yang merupakan kompetisi antarklub Asia level kedua.

Pada musim ini, Indonesia kembali memiliki dua wakil di kompetisi antarklub Asia. Persib Bandung tampil di Liga Champions Asia Dua, sedangkan Borneo FC mewakili Indonesia di AFC Challenge League yang merupakan kompetisi level ketiga di Asia.

Keikutsertaan dua klub tersebut menjadi kesempatan bagi sepak bola Indonesia untuk meningkatkan pengalaman dan daya saing di kompetisi internasional.

I.League, selaku operator kompetisi sepak bola profesional Indonesia, memastikan akan memberikan dukungan kepada klub yang tampil di kompetisi Asia.

Dukungan tersebut dilakukan melalui penyesuaian jadwal pertandingan domestik serta dukungan finansial sesuai kebutuhan kompetisi.

Sadikin mengatakan I.League akan memberikan fleksibilitas terhadap jadwal kompetisi apabila klub Indonesia melaju lebih jauh di kompetisi Asia.

Penyesuaian terutama akan dilakukan ketika klub mencapai fase penting, seperti babak 16 besar atau bahkan final.

Kebijakan tersebut diperlukan agar klub tidak mengalami benturan jadwal yang dapat mengganggu persiapan menghadapi pertandingan internasional.

BACA JUGA  I.League Umumkan Hasil Club Licensing 2025/26

“Nanti perubahan (jadwal) itu ada pada saat kalau mereka masuk 16 besar, masuk final contohnya. Itu pasti ada penyesuaian lagi. Pasti kita akan mengakomodir klub-klub itu,” kata Sadikin.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu klub Indonesia tampil lebih maksimal di kompetisi Asia.

Selain memberi ruang persiapan yang lebih baik, kebijakan penyesuaian jadwal juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas klub secara bertahap.

I.League menilai keberhasilan klub Indonesia di kompetisi Asia akan memberikan dampak terhadap perkembangan sepak bola nasional.

Semakin sering klub tampil dan bersaing di level kontinental, semakin besar pula pengalaman yang diperoleh pemain, pelatih, dan manajemen klub.

Transformasi klub yang mulai berjalan dalam beberapa tahun terakhir diharapkan dapat menjadi fondasi untuk mengembalikan sepak bola Indonesia ke persaingan yang lebih kompetitif di Asia. (09/AGF).