Evaluasi EPA Jadi Sorotan, I.League Janji Perketat Disiplin Musim Depan

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 128;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 42;

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, mengevaluasi pelaksanaan kompetisi Elite Pro Academy (EPA) musim 2025/2026 dengan menyoroti masih tingginya pelanggaran disiplin yang terjadi sepanjang musim.

Evaluasi tersebut disampaikan usai berakhirnya rangkaian final EPA di Lapangan Garudayaksa Football Academy, Bekasi, Minggu (17/5/2026).

Kompetisi EPA musim ini resmi ditutup setelah Persija Jakarta U20 keluar sebagai juara EPA Super League U20 usai mengalahkan Malut United U20 dengan skor tipis 1-0 di partai final.

Penutupan kompetisi kelompok usia muda tersebut sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap kualitas pembinaan pemain muda di Indonesia, termasuk aspek sportivitas dan fair play.

Sebelum laga final U20 digelar, Persik Kediri sukses menjuarai EPA Super League U16, sementara Malut United tampil sebagai kampiun EPA Super League U18.

Adapun EPA Championship U19 yang digelar sehari sebelumnya dimenangkan oleh Sumsel United.

Asep menilai kompetisi usia muda tidak hanya berfungsi sebagai ajang pembinaan kemampuan teknis pemain, tetapi juga harus menjadi sarana membentuk karakter dan profesionalisme atlet muda sejak dini.

“Ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua. Tidak hanya klub, tetapi juga I.League, ofisial, perangkat pertandingan, hingga penonton untuk kembali kepada tujuan utama pembinaan usia muda. Pemain muda harus dibina agar memiliki sikap profesional dan menghindari pelanggaran sportivitas maupun fair play,” ujar Asep kepada awak media setelah final EPA Super League U20.

BACA JUGA  EPA Championship U19 2026 Resmi Bergulir

Menurut dia, berbagai insiden disiplin yang muncul sepanjang musim menjadi catatan serius bagi operator kompetisi.

Salah satu kasus yang paling menyita perhatian publik terjadi dalam pertandingan EPA U20 antara Bhayangkara Presisi Lampung melawan Dewa United Banten di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April 2026.

Pertandingan tersebut berakhir ricuh setelah terjadi insiden kekerasan di penghujung laga. Pemain Bhayangkara Presisi Lampung yang juga anggota Timnas Indonesia U17, Fadly Alberto Hengga, melakukan tendangan bergaya kungfu kepada pemain Dewa United, Rakha Nurkholis.

Aksi tersebut memancing emosi kedua tim dan sempat membuat situasi pertandingan memanas.

Namun, ketegangan berhasil diredam setelah kedua pemain memilih berdamai dan berjabat tangan seusai pertandingan.

Meski berakhir damai, Komite Disiplin PSSI tetap menjatuhkan hukuman tegas kepada para pemain yang terlibat.

Fadly Alberto Hengga menerima sanksi larangan bermain selama tiga tahun akibat tindakan yang dianggap mencederai nilai sportivitas sepak bola.

Asep menegaskan I.League mendukung penuh langkah tegas Komite Disiplin PSSI dalam menindak pelanggaran di kompetisi usia muda.

BACA JUGA  Laurentius Tetap Bertahan di Satria Muda

Menurutnya, pemberian hukuman yang tegas menjadi salah satu cara efektif untuk memberikan efek jera kepada pemain maupun ofisial.

“Kami terus memperkuat kampanye sportivitas dan fair play. Hukuman juga harus ditegakkan sesuai kode disiplin yang berlaku. Kami berharap itu bisa memberikan efek jera, meskipun kami tetap mempertimbangkan aspek pengembangan pemain karena mereka masih berada di usia pembinaan,” kata Asep.

Selain penegakan disiplin, I.League juga terus melakukan evaluasi terhadap format kompetisi EPA untuk musim depan.

Asep memastikan EPA Super League tetap akan mempertandingkan tiga kategori usia, yakni U16, U18, dan U20.

Namun, operator kompetisi berencana menambah kelompok umur pada EPA Championship yang musim ini hanya memainkan kategori U19.

Penambahan kelompok usia tersebut diharapkan dapat memperluas ruang kompetisi bagi pemain muda di berbagai daerah.

Tak hanya itu, I.League juga tengah menggodok kemungkinan perubahan format kompetisi agar lebih kompetitif dan efisien.

Beberapa opsi yang sedang dibahas antara lain kombinasi format round-robin dengan sistem swiss, hingga perpaduan konsep home and away dengan sistem series terpusat untuk klub-klub di luar Pulau Jawa.

Asep menyebut perubahan format itu masih dalam tahap pembahasan internal dan akan segera disosialisasikan kepada seluruh peserta kompetisi apabila sudah final.

BACA JUGA  Persiku Kudus U19 Runner-up EPA Championship

“Sekitar 70 persen konsepnya sudah kami godok. Mudah-mudahan dalam waktu dekat informasinya bisa kami sampaikan kepada seluruh klub peserta,” ujarnya.

EPA sendiri menjadi salah satu kompetisi pembinaan usia muda paling penting di Indonesia karena menjadi wadah pengembangan pemain potensial menuju level profesional.

Sejumlah pemain yang kini tampil di kompetisi Liga 1 maupun Timnas Indonesia diketahui merupakan lulusan kompetisi EPA.

Karena itu, aspek pembinaan karakter dinilai sama pentingnya dengan peningkatan kualitas teknis pemain.

I.League berharap evaluasi musim ini dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan kompetisi usia muda yang lebih sehat, kompetitif, dan menjunjung tinggi sportivitas pada musim mendatang.

Dengan berbagai evaluasi yang dilakukan, operator kompetisi berharap EPA tidak hanya melahirkan pemain berbakat, tetapi juga pesepak bola muda yang memiliki mental profesional serta menghormati nilai fair play di dalam maupun luar lapangan.