JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Sanksi disiplin yang dijatuhkan Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) kepada mantan pelatih Tim Nasional Indonesia, Shin Tae-yong (STY), memunculkan beragam respons.
Salah satunya datang dari penikmat sepak bola nasional, Ayu Nirwana, yang menilai keputusan tersebut berpotensi memengaruhi reputasi Persija Jakarta sebagai klub besar Liga Indonesia, sekaligus menciptakan persepsi negatif terhadap sepak bola Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Ayu di Jakarta, Jumat (24/7/2026), menyusul mencuatnya pemberitaan mengenai sanksi yang dijatuhkan KFA kepada Shin Tae-yong setelah mantan pelatih Timnas Indonesia itu dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan Persija Jakarta.
Menurut Ayu, pada awalnya ia tidak mempermasalahkan keputusan Persija merekrut Shin Tae-yong. Namun, pandangannya berubah setelah muncul informasi mengenai sanksi disiplin yang dijatuhkan federasi sepak bola Korea Selatan terhadap pelatih asal Negeri Ginseng tersebut.
“Kalau sebelumnya saya menganggap itu sepenuhnya keputusan klub, setelah muncul kabar sanksi dari KFA tentu persoalannya menjadi lebih luas. Ini bukan lagi hanya soal kualitas pelatih, tetapi juga menyangkut reputasi klub dan citra sepak bola Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai Persija sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum merekrut pelatih, termasuk rekam jejak profesional dan persoalan yang tengah dihadapi calon pelatih tersebut.
Menurut Ayu, reputasi menjadi faktor penting bagi klub yang memiliki basis suporter besar dan menjadi salah satu wajah sepak bola Indonesia di kompetisi nasional.
“Kalau benar pelatih tersebut sedang menghadapi sanksi disiplin di negara asalnya, tentu akan muncul pertanyaan dari publik internasional. Hal seperti ini bisa berdampak terhadap citra klub maupun sepak bola Indonesia secara umum,” katanya.

Ayu juga menyinggung perjalanan karier Shin Tae-yong saat menangani klub Korea Selatan, Ulsan HD.
Ia menyebut masa kepelatihan yang berakhir lebih cepat menjadi salah satu catatan yang patut diperhatikan sebelum sebuah klub mengambil keputusan strategis.
Menurutnya, persoalan hubungan dengan pemain maupun dinamika internal tim dapat menjadi bahan evaluasi tersendiri dalam menilai rekam jejak seorang pelatih.
“Persoalannya bukan sekadar kemampuan melatih, tetapi bagaimana menjaga reputasi organisasi dan kepercayaan publik,” ujarnya.
KFA Jatuhkan Sanksi Disiplin

Shin Tae-yong dilaporkan menerima sanksi disiplin dari Korea Football Association (KFA) setelah terseret sejumlah kontroversi ketika menangani Ulsan HD.
Pelatih berusia 56 tahun itu hanya memimpin klub tersebut selama sekitar 65 hari sebelum diberhentikan pada Agustus tahun lalu.
Masa kepelatihannya diwarnai berbagai persoalan, mulai dari hubungan dengan sejumlah pemain, dugaan tindakan penyerangan, hingga isu aktivitas bermain golf saat tim menjalani laga tandang.
Sebelum keputusan KFA diterbitkan, Pusat Etika Olahraga di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan lebih dahulu melakukan pemeriksaan terhadap kasus tersebut.
Selanjutnya, KFA melalui Komite Fair Play menggelar rapat untuk menentukan bentuk sanksi disiplin yang akan dijatuhkan kepada Shin Tae-yong.
Berdasarkan hasil rapat tersebut, STY dinyatakan menerima sanksi disiplin yang dapat berupa penangguhan kualifikasi kepelatihan hingga 10 tahun, larangan mengikuti kompetisi, bahkan kemungkinan sanksi permanen sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan sepak bola Korea Selatan.
Meski demikian, sejumlah laporan media Korea Selatan menyebutkan bahwa ruang lingkup penerapan sanksi tersebut berlaku dalam yurisdiksi kompetisi sepak bola Korea Selatan dan tidak secara otomatis berlaku di kompetisi negara lain.
Shin Tae-yong Berikan Tanggapan
Menanggapi keputusan tersebut, Shin Tae-yong menyampaikan keberatannya melalui wawancara telepon dengan media Korea Selatan, Channel A.
Dalam keterangannya, mantan pelatih Timnas Indonesia itu mengaku memiliki pandangan berbeda terhadap proses maupun hasil keputusan yang dijatuhkan kepadanya.
Ia mengatakan terdapat sejumlah fakta yang menurutnya belum sepenuhnya terungkap. Namun, ia memilih untuk tidak menyampaikan seluruh versinya kepada publik karena mempertimbangkan dampaknya terhadap mantan anak asuhnya maupun situasi sepak bola di Korea Selatan.
“Ada banyak aspek yang menurut saya tidak adil, dan saya ingin mengungkapkan kebenaran. Namun, murid-murid saya bisa terluka jika saya berbicara, dan suasana sepak bola domestik juga tidak baik,” ujar Shin Tae-yong seperti dikutip dari wawancara bersama Channel A.
Reputasi Jadi Sorotan
Perkembangan kasus tersebut kini menjadi perhatian publik sepak bola Indonesia, terutama setelah nama Shin Tae-yong dikaitkan dengan Persija Jakarta.
Sejumlah pengamat menilai persoalan tersebut tidak hanya menyangkut aspek teknis kepelatihan, tetapi juga tata kelola, citra organisasi, dan kredibilitas klub di mata publik.
Di sisi lain, hingga kini belum terdapat pernyataan resmi dari Persija Jakarta mengenai dampak sanksi KFA terhadap status maupun rencana kerja sama dengan Shin Tae-yong.
Publik pun masih menunggu kejelasan dari pihak klub maupun perkembangan lebih lanjut terkait implementasi sanksi yang dijatuhkan federasi sepak bola Korea Selatan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia sepak bola modern, reputasi pelatih maupun klub merupakan bagian penting yang dapat memengaruhi kepercayaan publik, sponsor, hingga citra kompetisi secara keseluruhan.
Oleh karena itu, setiap keputusan strategis dalam perekrutan pelatih diharapkan mempertimbangkan tidak hanya prestasi, tetapi juga aspek integritas dan profesionalisme. (09/AGF).










