SUDUTPANDANG.ID – Badan intelijen Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam serangan drone Iran yang menyasar sejumlah fasilitas milik Central Intelligence Agency (CIA) di kawasan Teluk. Penyelidikan dilakukan setelah muncul analisis yang menilai serangan tersebut memiliki tingkat presisi dan efektivitas yang tinggi.
Mengutip laporan Reuters, Jumat (24/7/2026), informasi mengenai penyelidikan itu disampaikan oleh empat sumber yang mengetahui proses intelijen AS. Seluruh sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas isu yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Menurut laporan tersebut, para analis intelijen AS menilai pola serangan dan akurasi drone memunculkan dugaan adanya dukungan teknologi maupun bantuan operasional dari pihak lain. Salah satu kemungkinan yang kini didalami adalah dugaan keterlibatan Rusia.
Penyelidikan tersebut juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk setelah serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada akhir pekan lalu yang dilaporkan menewaskan dua prajurit AS.
Berdasarkan keterangan sejumlah sumber kepada Reuters, sedikitnya dua fasilitas CIA menjadi sasaran serangan pada Maret 2026. Salah satunya berada di kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, sementara fasilitas lainnya berada di wilayah timur Irak.
Dua pejabat Barat di kawasan Teluk yang menerima pengarahan intelijen mengatakan serangan di Riyadh diduga menggunakan dua drone Shahed buatan Iran yang telah mengalami peningkatan kemampuan. Salah satu drone dilaporkan menghantam bagian luar gedung, sementara drone lainnya memasuki celah yang terbentuk sebelum meledak di dalam bangunan.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.
Reuters juga melaporkan adanya memo internal milik salah satu lembaga intelijen negara Barat yang menyebut Rusia kemungkinan berperan membantu proses penargetan fasilitas CIA. Namun, identitas lembaga penyusun memo tersebut tidak diungkap.
Sumber lain yang dikutip Reuters menyatakan Rusia diduga membantu meningkatkan akurasi drone Shahed-136 melalui sistem navigasi satelit Kometa-M. Teknologi itu disebut memiliki kemampuan navigasi yang lebih presisi dan lebih sulit diganggu dibandingkan sistem yang sebelumnya digunakan Iran.
Laporan mengenai dugaan pengiriman sistem Kometa-M sebelumnya juga pernah diberitakan The Wall Street Journal pada Maret 2026. Namun, pemerintah Rusia membantah laporan tersebut dan menyebutnya tidak benar.
Hingga berita ini ditulis, CIA belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi. Gedung Putih mengarahkan permintaan komentar kepada CIA, sementara Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementerian Pertahanan Rusia, dan pemerintah Arab Saudi juga belum merespons permintaan komentar Reuters.
Sementara itu, mantan Kepala Stasiun CIA Daniel Hoffman mengatakan dugaan kerja sama antara Rusia dan Iran dalam operasi tersebut dinilai sejalan dengan hubungan strategis yang telah terjalin antara kedua negara.
“Mereka memiliki kepentingan yang sama untuk mengurangi, bahkan menghilangkan, pengaruh Amerika Serikat di wilayah yang mereka anggap sebagai kawasan pengaruhnya,” kata Hoffman, seperti dikutip Reuters.
Hingga kini, dugaan keterlibatan Rusia masih berada pada tahap penyelidikan intelijen AS. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah AS yang menyimpulkan adanya keterlibatan Rusia dalam serangan tersebut.(red/reuters)










