Selat Hormuz Makin Tegang, Iran Bantah AS Pegang Kendali Penuh

Avatar photo
Iran Buka Selat Hormuz untuk Kapal Komersial Selama Gencatan Senjata Lebanon
Ilustrasi

SUDUTPANDANG.ID – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran membantah klaim Amerika Serikat (AS) yang menyebut Washington memiliki kendali penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut. Iran menegaskan perlintasan kapal komersial dan tanker minyak tetap berada dalam pengawasan militernya.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan, kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa izin dan pengawasan dari pihak Iran.

Pernyataan itu disampaikan Zolfaghari melalui pesan video yang disiarkan media Iran.

Ia menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran.

Zolfaghari juga menyebut pernyataan mengenai pelayaran normal kapal di Selat Hormuz sebagai informasi yang tidak benar.

BACA JUGA  Trump Tak Akui Terlibat Serangan Israel, tapi Ancam Iran

Menurut dia, klaim tersebut menunjukkan tekanan yang dihadapi militer AS di tengah kemampuan pertahanan Iran.

Iran, lanjut Zolfaghari, terus memantau aktivitas militer AS dan Israel di kawasan tersebut.

Teheran juga menyatakan siap mengambil tindakan terhadap setiap ancaman yang dianggap membahayakan kedaulatan serta kepentingan nasional Iran.

Pengaruhi Perdagangan Energi

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik antara Iran dan AS.

Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia.

Karena itu, pembatasan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap perdagangan energi global, termasuk pasokan dan harga minyak.

BACA JUGA  Kemlu RI Pastikan Pemulangan 97 WNI Bertahap via Azerbaijan

Iran mulai memperketat pembatasan pelayaran di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran.

Sejak pembatasan diberlakukan, Washington berupaya memastikan kapal-kapal non-Iran tetap dapat melintas.

Namun, Iran masih mengaitkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan sejumlah tuntutan terhadap pemerintah AS.

Situasi itu membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum kembali seperti sebelum konflik. Ketidakpastian mengenai akses jalur tersebut pun terus menjadi perhatian pasar energi global.

Dengan posisi strategisnya dalam perdagangan energi, setiap eskalasi di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar minyak dan memperbesar dampak ekonomi dari konflik Iran-AS.(red)