Serangan Rudal Iran Sasar Beberapa Negara Sekutu AS di Kawasan Teluk

Avatar photo
Serangan Iran
Petugas pemadam kebakaran Israel berupaya memadamkan api pada mobil di lokasi dampak proyektil setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel. (Foto:Dok. Times)

SUDUTPANDANG.ID – Iran terus melancarkan serangkaian serangan balasan dengan mengerahkan rudal dan drone ke target di beberapa negara di kawasan Timur Tengah menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Menurut pernyataan resmi dan laporan media internasional, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan ke‑30 pada Senin (9/3/2026).

Serangan Iran menargetkan pangkalan militer AS dan fasilitas militer Israel di beberapa wilayah dengan mengerahkan rudal balistik dan drone strategis. Gelombang serangan terbaru ini diumumkan bersamaan dengan pemilihan pemimpin tertinggi baru Iran.

Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan Dosen Tamu di HSE University Moskow, menilai bahwa serangan Iran tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga strategis.

BACA JUGA  AS Siap Perluas Kerja Sama budaya dengan Indonesia

Menurutnya, serangan balasan yang terdistribusi secara geografis ini menunjukkan kemampuan Iran mempertahankan pusat komando dan koordinasi serta menekan potensi dominasi AS dan sekutunya.

“Alih-alih mengalami syok strategis, Iran memilih memberikan respons yang berkelanjutan dan tersebar, mengubah konfrontasi dari satu teater menjadi ujian seluruh pertahanan udara, perlindungan angkatan laut, dan kohesi politik,” kata Sadygzade dilansir dari Russia Today (RT), Selasa (10/3/2026).

Sementara itu, dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, sejumlah target yang diserang termasuk pangkalan yang disebut sebagai “teroris AS” serta wilayah pendudukan di utara.

Selain itu, otoritas Bahrain melaporkan terjadi kebakaran di fasilitas Bapco akibat serangan Iran, meski tidak menyebabkan kerusakan besar.

Laporan media lain menyebutkan serangan balasan negeri Persia itu telah memicu siaga tinggi di negara‑negara Teluk, termasuk Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar, yang mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka untuk menghadapi rudal dan drone yang diluncurkan dari Iran.

BACA JUGA  MER-C: Israel Harus Hentikan Perusakan Situs Suci Keagamaan di Yerusalem

Media internasional Inggris juga melaporkan eskalasi serangan yang didukung milisi pro‑Iran terhadap target AS, Israel, dan sekutunya di Irak dan wilayah sekitarnya sebagai bagian dari respons terhadap serangan udara gabungan tersebut.

Sentimen regional semakin tegang setelah negara‑negara Teluk menutup atau membatasi ruang udara mereka akibat meningkatnya serangan rudal dan drone, serta adanya ancaman terhadap stabilitas jalur perdagangan seperti Selat Hormuz.

Kondisi ini berlangsung di tengah konflik yang telah memasuki hari kesembilan sejak serangan awal AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menghantam berbagai target di Teheran, termasuk fasilitas pemerintahan dan militer.

Reuters melaporkan bahwa jika konflik semakin meluas, gangguan terhadap infrastruktur energi seperti terminal minyak utama Iran di Kharg Island berpotensi memperburuk pasokan minyak global.(red/berbagai sumber)