Opini  

Wartawan vs Konten Kreator: Siapa Penjaga Kebenaran di Era AI?

Wartawan vs Konten Kreator: Siapa Penjaga Kebenaran di Era AI?
Sekjen AMKI Pusat, Dadang Rachmat, S.H. (Foto: Dok. Sudutpandang.id)

“Jika wartawan dan kreator konten berkolaborasi, memegang etika, memverifikasi fakta, dan berpihak pada publik, Indonesia akan memiliki generasi baru yang menjaga kebenaran, wartawan adaptif dan kreator konten bertanggung jawab.”

Oleh: Dadang Rachmat, S.H.
Sekjen Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Pemred Mitrapol

Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kita dihadapkan pada kenyataan tak terelakkan, dunia informasi telah berubah drastis. Dulu, masyarakat menunggu berita dari koran, radio, atau televisi. Kini, informasi mengalir melalui layar ponsel, sering kali bukan dari jurnalis, tetapi dari kreator konten.

Kemunculan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, algoritma media sosial, dan budaya viral mempercepat perubahan ini. Informasi bergerak cepat, sementara verifikasi membutuhkan waktu. Di sinilah muncul persaingan terselubung: antara kecepatan dan kebenaran.

Tak dapat dipungkiri, wartawan konvensional semakin sering merasa “ketinggalan”. Banyak peristiwa besar pertama kali muncul melalui unggahan masyarakat, YouTuber, TikToker, atau akun Instagram lokal. Wartawan kemudian hadir untuk konfirmasi.

Publik sering tidak peduli siapa yang memverifikasi. Mereka hanya ingin cepat mengetahui informasi. Wartawan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber, media tidak lagi jadi referensi.

BACA JUGA  Peradilan Jalanan dan Peradilan Hukum

Namun, tersisih bukan berarti kalah. Wartawan tetap memiliki tanggung jawab profesional, kode etik, mekanisme koreksi, redaksi, standar verifikasi, serta konsekuensi hukum dan moral. Kreator konten, meski kreatif dan dekat dengan audiens, tidak selalu memiliki batasan etika yang sama.

Krisis terbesar di era ini adalah kaburnya batas antara berita, opini, dan hiburan. Konten disajikan seolah fakta, opini seperti berita, rumor tampak seperti investigasi.

AI memperparah situasi. Deepfake, kloning suara, foto manipulatif, dan narasi otomatis dapat membuat hoaks tampak kredibel. Saat publik bingung, kepercayaan runtuh. Yang diuntungkan bukan wartawan atau kreator, melainkan penyebar kebohongan.

Media Konvergensi: Menjaga Kepercayaan

Wartawan harus hadir di seluruh saluran: teks, video pendek, podcast, laporan langsung, infografik, hingga ruang interaksi publik. Konvergensi bukan sekadar tren, melainkan cara mempertahankan pengaruh dalam membangun opini publik yang sehat.

Wartawan harus mampu:

  1. Mengolah fakta menjadi cerita yang mudah dipahami.
  2. Cepat, namun tetap terverifikasi.
  3. Melawan disinformasi dengan data, bukan emosi.
  4. Membangun kepercayaan melalui transparansi kerja jurnalistik.

Jika hanya bergantung format lama, publik akan menjauh, bukan karena wartawan tidak penting, tetapi karena mereka tidak berada di tempat audiens berkumpul.

BACA JUGA  Ketika Hakim Korupsi

Kreator Konten Bukan Musuh

Kreator konten adalah realitas baru dalam ekosistem informasi. Banyak yang mengangkat isu publik, isu lokal, dan mempercepat penyebaran informasi penting. Tanpa bimbingan, mereka dapat menjadi “pabrik opini” yang tidak terkontrol. Kolaborasi dan pembinaan lebih dibutuhkan daripada konflik.

Pembinaan kreator konten tidak membatasi ekspresi, tetapi menanamkan standar minimal agar konten tidak merusak publik:

  1. Bedakan fakta dan opini. Opini boleh ada, fakta tidak boleh dimanipulasi.
  2. Verifikasi sederhana. Periksa sumber, waktu, tempat, dan konteks.
  3. Hak untuk menjawab. Berikan kesempatan klarifikasi pada yang dituduh.
  4. Hindari monetisasi kebencian. Algoritma mungkin menyukai pertikaian, tapi masyarakat bukan korban.
  5. Pahami dampaknya. Konten keliru dapat merusak nama baik, memicu perselisihan, atau masalah hukum.

Dengan prinsip ini, kreator bukan sekadar pembuat konten, tetapi mitra dalam penyampaian informasi publik.

Nurani Jurnalisme Sebagai Panduan

Wartawan dan kreator memiliki tujuan yang sama: menyebarkan informasi. Perbedaannya ada pada jalur dan tradisi. Menjelang HPN 2026, perlu ditegaskan: teknologi berubah, format bergerak, tetapi nurani jurnalisme harus hidup.

BACA JUGA  AHY Dukung Anies-Khofifah, Siap Deklarasi dan Siap Menang

Wartawan harus berani mengungkap kebenaran, kreator harus mempertahankan integritas. Popularitas boleh penting, tetapi kebenaran lebih utama. Negara tidak kekurangan orang yang mampu berbicara; yang kurang adalah keberanian untuk mengungkap fakta.

AI dan kreator akan terus bertambah. Platform terus berubah. Masa depan pers bukan ditentukan teknologi, melainkan keberanian membela kebenaran.

Jika wartawan dan kreator konten berkolaborasi, memegang etika, memverifikasi fakta, dan berpihak pada publik, Indonesia akan memiliki generasi baru yang menjaga kebenaran, wartawan adaptif dan kreator konten bertanggung jawab.

Selamat Hari Pers Nasional 2026. Hidup Pers Indonesia!

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Pemimpin Redaksi Mitrapol