BOGOR, SUDUTPANDANG.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mulai menata sejumlah simpang di Jalur Puncak, Jawa Barat, sebagai upaya mengurai kemacetan yang kerap terjadi, terutama saat musim libur. Penataan ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026 menyusul instruksi Bupati Bogor.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan ada tujuh simpang yang menjadi prioritas penanganan, yakni Simpang Gadog, Simpang Pasir Muncang, Simpang Pasir Angin, Simpang Megamendung–Cipayung, Simpang Hankam, Simpang Pasar Cisarua, serta Simpang Taman Safari.
“Penataan simpang ini segera dieksekusi tahun ini sesuai arahan Bupati,” ujar Ajat usai rapat penataan jalur wisata Puncak di kawasan Cisarua, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, langkah penataan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Korlantas Polri, Dinas Perhubungan, hingga instansi teknis seperti PUPR. Kolaborasi ini dilakukan agar penanganan kemacetan dapat lebih tepat sasaran dan terintegrasi.
Selain penataan fisik, pemerintah daerah juga menyiapkan rekayasa lalu lintas, termasuk kemungkinan pemasangan lampu lalu lintas serta pengaturan jam operasional kendaraan di kawasan wisata tersebut.
Aspek keselamatan turut menjadi perhatian. Ajat menilai kondisi Jalur Puncak yang masih minim penerangan jalan umum (PJU) meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.
“Penerangan jalan perlu ditingkatkan karena kondisi di Puncak relatif gelap,” kata dia.
Penataan ini juga membutuhkan koordinasi lintas sektor karena sebagian ruas di Jalur Puncak berstatus jalan nasional. Untuk itu, Pemkab Bogor akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan agar proses penanganan dapat berjalan cepat.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta. Sejumlah pelaku usaha di kawasan Puncak disebut telah menyatakan kesiapan untuk berkontribusi, baik melalui penyediaan lahan maupun skema berbagi biaya.
Selain pembenahan simpang, pemerintah juga mendorong pembangunan jalur alternatif baru yang menghubungkan Pasir Muncang menuju Sukagalih hingga Citeko. Jalur ini diharapkan dapat mengurangi beban kendaraan di jalur utama Puncak.
Menurut Ajat, pembangunan jalur alternatif tersebut direncanakan dimulai tahun ini melalui skema karya bakti TNI guna mempercepat proses pengerjaan.
Upaya penataan ini merupakan bagian dari langkah jangka panjang untuk memperbaiki wajah kawasan Puncak, tidak hanya dari sisi kelancaran lalu lintas, tetapi juga penataan kawasan wisata secara menyeluruh.
Selama ini, kemacetan di Jalur Puncak kerap berulang, terutama saat akhir pekan panjang dan musim libur seperti Lebaran. Berbagai rekayasa lalu lintas, seperti sistem buka-tutup dan satu arah, dinilai belum mampu menjadi solusi permanen.
Analis kebijakan transportasi dari FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai persoalan kemacetan di Puncak tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga terkait kebijakan yang belum berkembang.
“Strateginya cenderung sama dari waktu ke waktu dan belum dievaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.(red)










