JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Federasi Futsal Indonesia (FFI) resmi bertransformasi menjadi Asosiasi Futsal Indonesia setelah keputusan tersebut disahkan dalam Kongres Biasa organisasi futsal nasional. Perubahan nama dan struktur organisasi itu menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat tata kelola serta pengembangan futsal Indonesia agar lebih profesional dan kompetitif di tingkat internasional.
Ketua Umum FFI Michael Victor Sianipar mengatakan kongres yang digelar baru-baru ini menghasilkan sejumlah keputusan penting yang akan menjadi fondasi baru bagi perkembangan futsal nasional ke depan. Salah satu agenda utama kongres adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan tim nasional futsal Indonesia serta kompetisi liga domestik.
Menurut Michael, evaluasi tersebut diperlukan untuk mengukur efektivitas program pembinaan sekaligus menyusun arah kebijakan baru agar futsal Indonesia mampu berkembang lebih baik di berbagai level kompetisi.
“Tadi kami menyelesaikan serangkaian acara. Di kongres ini ada beberapa hal signifikan. Selain review pencapaian timnas futsal dan perkembangan liga, kami juga memutuskan beberapa hal strategis,” ujar Michael Victor Sianipar.
Ia menjelaskan, perkembangan futsal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Tidak hanya dari sisi prestasi tim nasional, tetapi juga meningkatnya kualitas kompetisi domestik dan antusiasme masyarakat terhadap olahraga futsal.
Karena itu, organisasi membutuhkan penyesuaian sistem dan tata kelola agar mampu mengimbangi perkembangan tersebut. Salah satu langkah yang diputuskan dalam kongres adalah penyesuaian Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Michael menyebut penyesuaian tersebut dilakukan agar aturan organisasi futsal selaras dengan Statuta PSSI 2025 sebagai induk sepak bola nasional. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan sinkronisasi regulasi antara futsal dan sepak bola Indonesia.
“Penyesuaian AD/ART futsal mengacu pada statuta PSSI 2025 dan kami memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Namun peserta kongres sudah menyetujui langkah tersebut,” katanya.
Selain perubahan regulasi, kongres juga menyepakati transformasi identitas organisasi. Nama Federasi Futsal Indonesia kini resmi diubah menjadi Asosiasi Futsal Indonesia.
Michael menegaskan perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama, melainkan bagian dari transformasi kelembagaan agar organisasi futsal nasional memiliki sistem yang lebih modern, kuat, dan profesional.
“Setelah kongres ini, perubahan nama tersebut akan kami laporkan kepada PSSI untuk ditindaklanjuti agar tetap sesuai dengan statuta PSSI,” ujarnya.
Transformasi organisasi itu diharapkan menjadi momentum baru bagi futsal Indonesia dalam meningkatkan kualitas pembinaan, kompetisi, hingga prestasi di level internasional.
Dalam kongres tersebut, organisasi juga melakukan penyegaran struktur kepengurusan. Michael mengumumkan penunjukan Budi Setiawan sebagai Sekretaris Jenderal baru untuk memperkuat manajemen organisasi.
Sementara di jajaran pimpinan, selain Atta Halilintar yang tetap menjabat sebagai Wakil Ketua Umum, kini terdapat posisi Wakil Ketua Umum II yang diemban oleh Novel.
Michael mengatakan perubahan struktur kepengurusan dilakukan untuk meningkatkan efektivitas organisasi dalam menjalankan program-program pengembangan futsal nasional.
Menurut dia, futsal Indonesia membutuhkan kolaborasi yang kuat antara organisasi, klub, pelatih, pemain, hingga pemerintah agar mampu menciptakan ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Ia menegaskan seluruh keputusan kongres memiliki visi besar untuk memperkuat sinergi antara futsal dan sepak bola Indonesia. Dengan sistem organisasi yang lebih baik, futsal diharapkan dapat berkembang sejajar dengan cabang olahraga lain yang telah lebih mapan.
“Langkah kami sudah jelas, membangun sinergi dan ekosistem dengan sepak bola. Apa yang sudah terjadi di pusat akan lanjut ke level daerah,” katanya.
Michael juga mengungkapkan bahwa transformasi organisasi tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PSSI Erick Thohir yang mendorong seluruh organisasi olahraga di bawah naungan PSSI untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola.
“Pesan dari Pak Erick, kalau futsal ingin naik kelas maka organisasinya juga harus naik kelas,” ucap Michael.
Ia memastikan perubahan di tingkat pusat nantinya juga akan diterapkan hingga level daerah melalui pembinaan dan penataan organisasi futsal provinsi maupun kabupaten/kota.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem pembinaan yang terintegrasi mulai dari kompetisi akar rumput hingga tim nasional.
Selain itu, penguatan organisasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas kompetisi futsal nasional yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam melahirkan pemain-pemain potensial.
Transformasi Federasi Futsal Indonesia menjadi Asosiasi Futsal Indonesia juga mendapat perhatian dari berbagai pelaku olahraga futsal nasional. Banyak pihak berharap perubahan tersebut mampu membawa futsal Indonesia semakin berkembang dan memiliki daya saing lebih tinggi di level Asia maupun dunia.
Dengan dukungan organisasi yang lebih modern dan profesional, futsal Indonesia diharapkan dapat mencetak prestasi yang lebih konsisten di berbagai ajang internasional sekaligus memperluas basis pembinaan atlet muda di seluruh Indonesia.
Perubahan ini menjadi babak baru perjalanan futsal nasional menuju sistem organisasi yang lebih kuat, kompetitif, dan berorientasi pada prestasi jangka panjang. (09/AGF).



