Gempa M 4,6 Guncang Sukabumi, Getaran Terasa hingga Cianjur

Avatar photo
Gempa bumi. Banjarbaru BMKG Sukabumi
ilustrasi

SUDUTPANDANG.ID – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (17/5/2026) malam. Getaran gempa dilaporkan terasa di sejumlah wilayah di Sukabumi hingga Cianjur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 22.15.01 WIB. Berdasarkan parameter pembaruan, kekuatan gempa tercatat Magnitudo 4,7.

Episenter gempa berada di laut pada koordinat 7,53 Lintang Selatan dan 106,72 Bujur Timur, atau sekitar 63 kilometer tenggara Kabupaten Sukabumi, dengan kedalaman 28 kilometer.

BMKG menyebut gempa tersebut termasuk gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif bawah laut.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif bawah laut,” kata Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, melalui keterangannya.

BACA JUGA  Sepanjang Februari 2024, Gunung Marapi Sumbar Meletus 60 Kali

Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan intensitas berbeda. Di wilayah Palabuhanratu, Cisolok, Cibadak, Cisaat, Cidahu, Cicantayan, Nagrak, Ciwidey, Nyalindung, Lengkong, Parungkuda, Caringin, Kota Sukabumi, hingga Cianjur, gempa dirasakan pada Skala Intensitas II MMI.

Pada skala tersebut, getaran dirasakan beberapa orang dan benda ringan yang digantung tampak bergoyang.

Sementara itu, di wilayah Cidolog, Cidadap, Pabuaran, Surade, Ciracap, Ciemas, dan Jampang Kulon, gempa dirasakan dengan Skala Intensitas III MMI.

Getaran terasa nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk besar yang melintas.

Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

BACA JUGA  Cegah Penularan Covid-19 IDI Minta Pemerintah Perketat Kedatangan Luar Negeri

BMKG juga menyampaikan bahwa informasi awal gempa dapat berubah seiring pembaruan data yang diterima.

“Informasi ini mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” tulis BMKG.(red)