Jacksen Tiago Puji Talenta MSC All-Stars 2026

Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F. Tiago, menilai banyak pesepak bola putri muda bertalenta di atas rata-rata bermunculan dalam MSC All-Stars 2026. (Foto: IST/SP)

KUDUS, SUDUTPANDANG.ID – Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge (MSC), Jacksen F. Tiago, menilai turnamen MSC All-Stars 2026 menjadi panggung lahirnya banyak pesepak bola putri muda bertalenta.

Menurutnya, kualitas para pemain yang tampil pada ajang tersebut berada di atas rata-rata dan memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung Tim Nasional Indonesia pada masa mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Jacksen saat menghadiri rangkaian pertandingan MSC All-Stars 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (26/6/2026).

Mantan pelatih Persipura Jayapura itu mengaku menemukan banyak hal positif selama mengamati jalannya kompetisi yang mempertemukan pemain-pemain terbaik hasil seleksi dari berbagai kota di Indonesia.

Menurut Jacksen, sejumlah pemain muda menunjukkan kemampuan teknik, kecerdasan bermain, hingga mental bertanding yang sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan melalui pembinaan berkelanjutan.

“Kalau saya menilai, sebenarnya banyak hal baru yang saya temukan di sini. Banyak talenta yang menurut saya berada di atas rata-rata bermunculan di kompetisi ini,” ujar Jacksen.

Selama beberapa hari pelaksanaan turnamen, ia mengamati sejumlah pemain yang tampil menonjol di berbagai posisi.

Beberapa nama yang mendapat perhatian khusus di antaranya penyerang All-Stars Solo, Ika Wonda, gelandang All-Stars Kudus Sabrina Dwi Ristiyana, gelandang All-Stars Tangerang Rayna Picessa, serta bek All-Stars Jakarta Hafizah Lubna.

BACA JUGA  Juara Baru Warnai MilkLife Soccer Challenge Bandung Seri 2

Menurutnya, keempat pemain tersebut memperlihatkan kualitas permainan yang sangat baik dan berpotensi berkembang apabila mendapatkan pembinaan secara konsisten.

Meski demikian, Jacksen menegaskan bahwa bukan hanya empat pemain tersebut yang memiliki prospek cerah.

Ia menilai hampir seluruh tim peserta memiliki pemain-pemain berbakat yang dapat berkembang menjadi pesepak bola profesional apabila dibina melalui program yang tepat.

Menurut Jacksen, keberhasilan mencetak pemain berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan bakat alamiah.

Talenta muda membutuhkan sistem pembinaan yang berkesinambungan, metode latihan yang terarah, serta kompetisi yang rutin agar kemampuan mereka terus berkembang.

“Kalau kita membina mereka secara konsisten dengan persiapan khusus yang jelas dan framework yang bagus, saya sangat yakin dalam lima sampai tujuh tahun ke depan mereka bisa menjadi tulang punggung Timnas Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pembinaan sepak bola putri harus dimulai sejak usia dini agar para pemain memiliki fondasi teknik, fisik, dan mental yang kuat sebelum memasuki level kompetisi yang lebih tinggi.

Karena itu, keberadaan MilkLife Soccer Challenge dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun ekosistem sepak bola putri nasional.

Menurut Jacksen, kompetisi usia sekolah dasar seperti MSC memberikan ruang yang sangat penting bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman bertanding.

BACA JUGA  Kalahkan Popsivo 3-2, BBT ke Grand Final

Ia mengaku tertarik bergabung dalam program pembinaan tersebut karena sejak lama memiliki keinginan untuk berkontribusi pada pengembangan pemain usia muda.

Baginya, membangun fondasi pembinaan jauh lebih penting daripada hanya berorientasi pada prestasi jangka pendek.

Jacksen juga memberikan apresiasi kepada Bakti Olahraga Djarum Foundation sebagai penyelenggara MilkLife Soccer Challenge.

Ia menilai kompetisi tersebut dikelola secara profesional dengan visi jangka panjang yang jelas dalam membangun sepak bola putri Indonesia.

Menurutnya, keseriusan penyelenggara terlihat dari sistem kompetisi yang terus berkembang serta keberlanjutan program pembinaan yang telah disiapkan.

Tidak hanya berhenti pada kelompok usia sekolah dasar, para pemain nantinya memiliki jalur pembinaan yang berkesinambungan menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Jacksen menjelaskan setelah MilkLife Soccer Challenge, para pemain dapat melanjutkan pembinaan melalui Hydroplus Soccer League untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Selanjutnya, tersedia Campus League sebagai wadah kompetisi bagi pemain usia Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurutnya, keberadaan jenjang kompetisi tersebut menjadi nilai lebih karena para pemain memiliki kesempatan berkembang secara berkelanjutan hingga usia sekitar 17 tahun.

BACA JUGA  Dibantai Jakarta, Malang Janji Bangkit Lebih Kuat!

Dengan adanya sistem pembinaan yang terstruktur, potensi pemain muda tidak akan terhenti hanya pada satu turnamen, melainkan terus berkembang melalui kompetisi yang sesuai dengan kelompok usianya.

Jacksen optimistis apabila program pembinaan seperti MilkLife Soccer Challenge terus berjalan secara konsisten, Indonesia akan memiliki lebih banyak pesepak bola putri berkualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Ia berharap seluruh pihak, mulai dari penyelenggara, pelatih, sekolah, orang tua, hingga klub sepak bola, terus memberikan dukungan terhadap pembinaan sepak bola putri usia dini agar cita-cita melahirkan generasi emas sepak bola putri Indonesia dapat terwujud.

Melalui kompetisi yang berjenjang dan sistem pembinaan yang berkelanjutan, Jacksen meyakini masa depan sepak bola putri Indonesia akan semakin cerah dengan lahirnya pemain-pemain muda berbakat yang siap memperkuat Timnas Indonesia pada tahun-tahun mendatang. (09/AGF).