Timnas Soft Tennis Matangkan Persiapan Asian Games

Timnas Soft Tennis Indonesia mematangkan persiapan menuju Asian Games Nagoya-Aichi 2026. (Foto: IST/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Timnas Soft Tennis Indonesia terus mematangkan persiapan menghadapi Asian Games Nagoya-Aichi 2026.

Memasuki fase akhir pemusatan latihan nasional (pelatnas), para atlet menunjukkan perkembangan positif dari sisi teknik, fisik, dan mental.

Kesiapan tim mendapat perhatian langsung dari tim Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia. Wakil CdM Asian Games Nagoya 2026, Harry Warganegara, mengunjungi Pelatnas Soft Tennis Indonesia di Wisma Antam, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau persiapan cabang olahraga sekaligus memastikan kebutuhan nonteknis kontingen Indonesia menjelang keberangkatan ke Jepang.

Ketua Umum Pengurus Pusat Soft Tennis Indonesia (PP Pesti), Irjen Pol Dr. Awal Chairuddin, mengatakan persiapan tim sejauh ini berjalan sesuai rencana.

Program latihan disusun secara terstruktur agar para atlet dapat mencapai kondisi terbaik saat tampil di Asian Games.

“Alhamdulillah, persiapan tim sudah berjalan dengan baik. Konsep latihan juga tertata dengan baik. Dari sisi mental dan fisik sudah mulai terasa hasilnya, terlebih mereka telah menjalani try out di luar negeri dengan hasil yang cukup membanggakan,” ujar Awal.

Ia berharap kondisi atlet dapat terus terjaga hingga pertandingan berlangsung. Menurutnya, konsistensi kondisi fisik dan mental menjadi bagian penting agar Timnas Soft Tennis Indonesia mampu memberikan prestasi bagi Merah Putih.

Manajer Tim Soft Tennis Indonesia untuk Asian Games Nagoya 2026, Ferly Montolalu, menjelaskan pelatnas telah dimulai sejak Maret 2026.

BACA JUGA  DUS Masih Punya Pekerjaan Rumah Jelang Playoff IBL 2022

Hingga Agustus, persiapan telah berjalan sekitar lima bulan dan memasuki tahap pemantapan akhir.

Tim dijadwalkan berangkat menuju Asian Games pada 15 September 2026.

Dalam rangkaian persiapan, Timnas Soft Tennis Indonesia juga menjalani try out di Korea Selatan dengan mengikuti dua turnamen internasional.

Dari ajang tersebut, Indonesia membawa pulang tiga medali perunggu melalui nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.

Hasil try out tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus memberikan gambaran mengenai kekuatan calon lawan di Asian Games.

Jepang, Korea Selatan, dan China Taipei menjadi tiga negara yang dinilai masih dominan dalam persaingan soft tennis Asia.

Indonesia akan menurunkan tujuh atlet yang terdiri atas lima putra dan dua putri. Mereka akan berlaga pada lima nomor, yakni tunggal putra, ganda putra, tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran.

Target yang dipatok adalah tiga medali, yakni dua perak dan satu perunggu dari nomor beregu putra, ganda campuran, dan tunggal putri.

Salah satu andalan Indonesia, Tio Juliandi Hutauruk, akan tampil di nomor tunggal putra dan beregu. Ia menyebut persiapan bersama rekan-rekannya telah dilakukan secara maksimal.

Menurut Tio, tidak adanya turnamen lagi sebelum Asian Games membuat tim dapat lebih fokus menjalani latihan dan menyempurnakan persiapan.

“Sebagai atlet tentu kami ingin memberikan hasil yang terbaik untuk Asian Games ini. Apa pun hasilnya, perunggu, perak, atau emas, yang terpenting kami bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” kata Tio.

BACA JUGA  PSSI Mulai Era Baru Timnas Indonesia, John Herdman Siap Bangun Mental Pemenang

Optimisme juga disampaikan Allif Nafiiah. Atlet asal Jawa Tengah itu akan memperkuat Indonesia di nomor tunggal putri dan ganda campuran.

Allif mengakui persaingan di Asian Games akan sangat berat. Namun, dukungan pemerintah, pelatih, manajer, dan federasi menjadi modal penting bagi tim untuk tampil maksimal.

Ia juga menyoroti faktor aklimatisasi. Perbedaan suhu dan karakter lapangan di Jepang dinilai dapat memengaruhi permainan, termasuk pantulan bola. Pengalaman menjalani training camp di Jepang menjadi bekal tambahan bagi para atlet.

Pelatih putri Gularso Mulyadi menilai performa atlet saat ini telah mencapai sekitar 80 persen dari kondisi ideal. Dengan waktu persiapan yang tersisa, tim pelatih akan berfokus pada detail teknik dan menjaga kondisi atlet.

“Kalau saya lihat, persiapan mereka sekarang sudah sekitar 80 persen. Dengan sisa waktu kurang lebih satu bulan, kami akan memaksimalkan detail-detail pukulan agar permainan mereka semakin sempurna,” ujar Gularso.

Try out di Korea Selatan pada Juni menjadi pertandingan internasional terakhir sebelum fase pemantapan. Gularso menilai target dua medali perak realistis, meski peluang meraih emas tetap terbuka apabila atlet mampu tampil optimal.

Sementara itu, Harry Warganegara memastikan tim CdM terus memantau kebutuhan kontingen, khususnya aspek nonteknis. Kebutuhan tersebut meliputi keberangkatan, transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga perlengkapan atlet dan ofisial.

BACA JUGA  Kemenangan Jonatan Christie Jaga Asa Indonesia
Timnas Soft Tennis Indonesia mematangkan persiapan menuju Asian Games Nagoya-Aichi 2026. (Foto: IST/SP).

Tim CdM bersama NOC Indonesia telah mengunjungi sekitar 20 hingga 21 cabang olahraga untuk memantau kesiapan masing-masing kontingen.

Sebanyak 432 atlet dan 148 ofisial akan menjadi bagian dari kontingen Indonesia di Asian Games Nagoya 2026, di luar tim CdM.

Koordinasi terkait sport entry, data atlet, paspor, seragam, hingga kebutuhan keberangkatan juga terus dilakukan.

Indonesia juga menyiapkan Rumah Indonesia di Nagoya sebagai pusat aktivitas atlet, ofisial, NOC Indonesia, dan masyarakat Indonesia.

Keberadaan sekitar 28.000 warga Indonesia di wilayah Nagoya diharapkan turut memberikan dukungan kepada kontingen.

Dengan persiapan teknis yang terus dimatangkan dan kebutuhan nonteknis yang dipersiapkan, Timnas Soft Tennis Indonesia kini memasuki fase krusial menuju Asian Games Nagoya-Aichi 2026.

Target dua medali perak dan satu perunggu menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi tujuh atlet Merah Putih untuk bersaing di level Asia. (09/AGF).