JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Upaya mencari dan mencetak Grand Master (GM) baru Indonesia menjadi salah satu fokus utama Japfa Chess Festival ke-16 Tahun 2026 yang digelar Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) bersama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Turnamen yang berlangsung di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, 1-6 September 2026 itu diikuti 523 pecatur dari berbagai daerah di Indonesia serta peserta dari sejumlah negara.
Kompetisi ini menjadi bagian dari pembinaan berjenjang PB Percasi untuk menemukan bibit potensial yang dapat dikembangkan menjadi pecatur kelas dunia.
PB Percasi menilai proses melahirkan GM baru membutuhkan kompetisi yang konsisten, pengalaman bertanding sejak usia dini, serta kesempatan menghadapi pecatur dengan level permainan yang lebih tinggi.
Wakil Ketua Umum IV PB Percasi Irjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan tingginya antusiasme peserta menjadi sinyal positif bagi masa depan catur Indonesia.
Jumlah peserta yang hampir menyentuh 600 orang bahkan membuat panitia harus membatasi jumlah pendaftar.
“Antusiasme peserta kali ini sangat luar biasa. Angkanya nyaris menyentuh 600 peserta dan terpaksa harus kami batasi. Jika tidak dibatasi, pesertanya pasti akan jauh lebih membludak,” kata Ahmad Ramadhan saat membuka Japfa Chess Festival 2026.

Menurut Ahmad, semakin banyak kompetisi digelar, semakin besar pula peluang menemukan pecatur muda berbakat yang memiliki potensi untuk berkembang hingga mencapai gelar GM.
Karena itu, PB Percasi terus mendorong agar pecatur Indonesia mendapatkan pengalaman bertanding di level nasional maupun internasional.
Pengalaman tersebut dinilai penting untuk membentuk mental, strategi, dan kemampuan menghadapi tekanan pertandingan.
Japfa Chess Festival 2026 juga menghadirkan duel internasional yang mempertemukan pecatur muda Indonesia dengan pemain dari negara lain.
Di sektor putra, International Master (IM) Satria Duta Cahaya menghadapi IM Dau Khoung Duy dari Vietnam.
Sementara di sektor putri, Woman International Master (WIM) Laysa Latifa dijadwalkan menghadapi Woman Grandmaster (WGM) Xeniya Balabayeva dari Kazakhstan.
Duel tersebut memberikan kesempatan bagi pecatur Indonesia untuk menguji kemampuan menghadapi lawan yang telah memiliki pengalaman di level internasional.
Pertandingan semacam ini diharapkan dapat mempercepat proses peningkatan kualitas pemain muda nasional.
Mewakili Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman, Wakil Ketua Umum III KONI Pusat Mayjen TNI Purn Andrie T.U. Soetarno mengatakan pembinaan untuk melahirkan atlet berprestasi harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Pembinaan prestasi mustahil dilakukan secara instan, melainkan harus berjenjang dan berkesinambungan dari usia dini,” ujar Andrie.
Ia berharap Japfa Chess Festival menjadi salah satu wadah yang mampu melahirkan Grand Master catur Indonesia. Menurutnya, keberadaan kompetisi rutin akan memberikan ruang bagi atlet muda untuk berkembang sekaligus mengukur kemampuan mereka.

“Melalui kejuaraan ini akan lahir sosok Grand Master catur Indonesia yang siap menorehkan prestasi di kancah dunia,” katanya.
Upaya berburu GM baru tersebut juga mendapat dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Pemerintah menilai catur memiliki karakteristik khusus karena menuntut kemampuan berpikir, konsentrasi, kedisiplinan, pengambilan keputusan, dan penyusunan strategi.
Plt Sekretaris Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Setiana Djafar mengatakan kompetisi seperti Japfa Chess Festival dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan prestasi catur Indonesia di tingkat internasional.
“Kejuaraan ini adalah bukti konkret komitmen Percasi mengangkat prestasi catur Indonesia di level internasional,” ujar Setiana.
Sementara itu, Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Rachmat Indrajaya menegaskan komitmen perusahaan dalam membantu proses regenerasi pecatur nasional. Kerja sama Japfa dengan PB Percasi telah berlangsung selama lebih dari 26 tahun.
Menurut Rachmat, dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui turnamen, tetapi juga pembinaan pecatur muda melalui program Japfa for Kids.
“Kami telah berkolaborasi dengan PB Percasi lebih dari 26 tahun. Hasilnya terbukti nyata. Dari program usia dini Japfa for Kids, kini lahir nama-nama juara,” kata Rachmat.
Ia berharap pembinaan yang dilakukan sejak tingkat sekolah dasar dapat menjadi fondasi untuk melahirkan pecatur dengan kualitas internasional.
“Harapan kami, anak-anak Indonesia, terutama sejak SD, bisa mendapatkan pembinaan yang lebih baik sehingga ke depan dapat muncul Grand Master baru,” ujarnya.
Japfa Chess Festival 2026 mempertandingkan berbagai kategori dengan total hadiah sekitar Rp298,9 juta.
Selain kompetisi utama, turnamen juga memberikan ruang bagi pecatur junior, kategori wanita, veteran, open, hingga pertandingan beregu.
Kehadiran peserta dari Jepang, India, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Vietnam semakin memperkuat atmosfer internasional dalam turnamen tersebut.
Bagi PB Percasi, target mencetak GM baru tidak dapat dicapai hanya melalui satu turnamen.
Namun, kompetisi seperti Japfa Chess Festival menjadi bagian penting dari ekosistem pembinaan yang memberikan kesempatan kepada pecatur muda untuk bertanding, mengevaluasi kemampuan, dan meningkatkan peringkat.
Dengan konsistensi kompetisi, pembinaan usia dini, serta dukungan pemerintah dan dunia usaha, PB Percasi berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang mampu menembus level internasional dan mengikuti jejak para Grand Master Indonesia sebelumnya. (09/AGF).











