JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) memperkuat pembinaan olahraga disabilitas dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam pencarian bakat dan pengembangan atlet.
Upaya tersebut dilakukan melalui Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas yang berlangsung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 18–20 September 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mendukung pembinaan atlet disabilitas.
ToT tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga disabilitas yang lebih terarah. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai olahraga adaptif, tetapi juga dibekali kemampuan mengenali potensi atlet berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah materi diberikan kepada peserta, di antaranya Identifikasi Bakat Olahraga Disabilitas dan Olahraga Adaptif. Materi ini membahas berbagai aspek yang perlu diperhatikan dalam menemukan potensi calon atlet disabilitas.
Proses identifikasi bakat tidak hanya melihat kemampuan fisik atlet. Peserta juga diajarkan mempertimbangkan jenis dan tingkat impairment, potensi fisik dan psikologis, karakteristik cabang olahraga, serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan atlet.
Pendekatan tersebut diperlukan agar proses pencarian dan pembinaan atlet dapat dilakukan secara tepat. Dengan pemetaan potensi sejak awal, atlet diharapkan dapat diarahkan pada cabang olahraga yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristiknya.
Selain identifikasi bakat, peserta memperoleh materi mengenai klasifikasi dan penanganan disabilitas. Materi tersebut menjadi bagian penting dalam olahraga disabilitas karena setiap atlet perlu ditempatkan pada sport class sesuai dengan dampak impairment terhadap aktivitas yang dibutuhkan dalam cabang olahraga tertentu.
Proses klasifikasi dilakukan melalui sejumlah tahapan. Di antaranya penilaian kondisi kesehatan, pemeriksaan impairment, penilaian minimum impairment criteria, hingga penentuan sport class dan sport class status.
Pemahaman mengenai klasifikasi tersebut diharapkan dapat membantu para penggerak olahraga disabilitas memahami proses pembinaan secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, pendampingan terhadap atlet dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku dalam olahraga disabilitas.
Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI Dante Rigmalia mengatakan pemberian kesempatan dan pelatihan yang tepat menjadi faktor penting dalam membantu penyandang disabilitas mengembangkan potensi mereka.
Menurut Dante, penyandang disabilitas membutuhkan ruang dan kesempatan yang memadai untuk mendapatkan pembinaan. Pelatihan yang dilakukan secara tepat dapat membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan hingga mencapai prestasi olahraga.
“Kami sangat yakin dengan memberikan kesempatan bagi teman-teman penyandang disabilitas mendapat ruang dilatih dengan baik, itulah yang akan membedakan teman penyandang disabilitas jadi berprestasi atau tidak,” ujar Dante.
Ia juga berharap kegiatan peningkatan kapasitas seperti ToT Penggerak Olahraga Disabilitas dapat terus dilaksanakan. Menurutnya, peserta yang telah mendapatkan pembekalan perlu mengembangkan pengetahuan tersebut agar dapat memberikan manfaat kepada lingkungan yang lebih luas.
“Kami sangat berharap kegiatan serupa ini bisa terus digulirkan. Teman-teman yang diberikan ToT hari ini harus dikembangkan kapasitasnya agar ke depan teman-teman bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang mendiseminasikan hasil dari ToT kepada teman yang lain,” katanya.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu aspek penting dalam membangun pembinaan olahraga disabilitas. Tidak hanya atlet yang perlu mendapatkan perhatian, tetapi juga tenaga pendamping, pelatih, penggerak olahraga, dan pihak lain yang terlibat dalam proses pembinaan.
Melalui kegiatan tersebut, Kemenpora berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di wilayah masing-masing. Penerapan materi di lapangan diharapkan mampu memperkuat proses pencarian bakat sekaligus pembinaan atlet disabilitas secara berkelanjutan.
Peserta juga diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada penggerak olahraga lainnya. Dengan pola tersebut, dampak pelatihan tidak berhenti pada peserta ToT, tetapi dapat berkembang menjadi peningkatan kapasitas sumber daya manusia di berbagai daerah.
Kemenpora menilai penguatan ekosistem olahraga disabilitas membutuhkan proses yang berkelanjutan. Identifikasi bakat, pemahaman olahraga adaptif, klasifikasi disabilitas, hingga pembinaan atlet perlu dilakukan secara terarah agar potensi atlet dapat berkembang secara optimal.
ToT Penggerak Olahraga Disabilitas di Kabupaten Bandung menjadi salah satu langkah dalam mendukung proses tersebut.
Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembinaan atlet disabilitas diharapkan semakin terstruktur dan mampu membuka lebih banyak peluang bagi penyandang disabilitas untuk berprestasi melalui olahraga. (09/AGF).











