JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat (KONI Pusat) memperkuat diplomasi olahraga dengan Timor Leste melalui dukungan terhadap pengembangan kualitas pelatih. Upaya tersebut diwujudkan dalam Seminar Nasional Keolahragaan bertema “Pentingnya Kerangka Pengembangan Pelatih dalam Meningkatkan Prestasi Atlet Nasional” yang digelar pada (27/10/2026).
Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman menugaskan Kepala Bidang Kesejahteraan Pelaku Olahraga (Jahpelor), Prof. Dr. Johansyah Lubis, M.Pd., sebagai narasumber dalam seminar yang diselenggarakan bersama Confederacao Do Desporto De Timor Leste (CDTL), organisasi olahraga nasional Timor Leste.
Dalam kegiatan tersebut, Johansyah membagikan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem pengembangan pelatih yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan prestasi atlet.
“Pengembangan pelatih merupakan proses berkelanjutan yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan praktik, pengalaman dalam melatih, asesmen, dan pembaruan kompetensi,” ujar Johansyah.
Presiden CDTL Adranio Xavier Amaral yang turut menghadiri seminar menyampaikan harapannya agar kualitas pelatih di Timor Leste terus meningkat. Pengembangan tersebut dinilai penting untuk menjawab berbagai keterbatasan yang masih dihadapi dalam pembinaan olahraga nasional.

Johansyah menjelaskan, peningkatan kapasitas pelatih dapat ditempuh melalui tiga jalur yang saling melengkapi, yakni pendidikan dan lisensi federasi olahraga, pendidikan tinggi, serta sertifikasi kompetensi profesi.
Jalur pertama dilakukan melalui pendidikan dan lisensi yang diselenggarakan federasi cabang olahraga. Federasi nasional dapat memperkuat kerja sama dengan federasi internasional untuk mengembangkan kursus, standar kompetensi, dan jenjang lisensi sesuai karakteristik masing-masing cabang olahraga.
Jalur kedua adalah pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualifikasi akademik pelatih hingga jenjang sarjana atau S1. Dalam konteks kerja sama Indonesia dan Timor Leste, Johansyah menyoroti peluang kolaborasi antara Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) dan perguruan tinggi di Indonesia.
Kerja sama tersebut berpotensi memperluas akses pendidikan keolahragaan sekaligus memperkuat landasan ilmiah para pelatih dalam menjalankan program pembinaan atlet.
Selain itu, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dapat dijajaki untuk mengakui pendidikan dan pengalaman sebelumnya yang relevan. Pelaksanaannya tetap memerlukan kajian mengenai kesesuaian program studi, dokumen akademik, persyaratan mahasiswa internasional, serta ketentuan perguruan tinggi penerima.
Skema tersebut juga berpotensi membuka kesempatan bagi lulusan program diploma yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan dan meningkatkan kualifikasi akademiknya.
Adapun jalur ketiga adalah sertifikasi kompetensi profesi. Di Indonesia, mekanisme ini dapat ditempuh melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang keolahragaan yang memiliki lisensi BNSP.
“Jalur ini menekankan pembuktian kemampuan melalui asesmen terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai skema sertifikasi,” jelas Johansyah.
Menurut dia, ketiga jalur tersebut memiliki fungsi berbeda, tetapi dapat saling mendukung. Pendidikan tinggi memperkuat dasar keilmuan, pendidikan federasi mengembangkan kemampuan teknis sesuai cabang olahraga, sedangkan sertifikasi profesi mengukur kompetensi berdasarkan standar yang berlaku.
Sebagai tindak lanjut seminar, CDTL berencana membentuk kelompok kerja untuk merumuskan rekomendasi pengembangan sistem pelatih di Timor Leste. Hasil pembahasan kelompok tersebut nantinya diharapkan menjadi usulan kepada pemerintah setempat.
Kelompok kerja itu juga diharapkan mampu memetakan kebutuhan pelatih, mengidentifikasi tantangan pembinaan, serta menyusun tahapan pengembangan yang sesuai dengan potensi olahraga nasional Timor Leste.
Selain pengembangan kompetensi, seminar turut membahas kesiapan pelatih menghadapi SEA Games 2027 di Malaysia, terutama terkait pemahaman terhadap regulasi antidoping.
Johansyah menekankan pentingnya pelatih memahami World Anti-Doping Code 2027 beserta standar internasional yang mulai berlaku pada 1 Januari 2027.
Sebagai langkah persiapan, CDTL dan federasi cabang olahraga di Timor Leste direkomendasikan memfasilitasi pelatih mengikuti pendidikan antidoping melalui platform Anti-Doping Education and Learning (ADEL) milik Badan Antidoping Dunia (WADA).
Melalui kerja sama ini, KONI Pusat berharap diplomasi olahraga Indonesia dan Timor Leste tidak hanya mempererat hubungan antar lembaga, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia olahraga sebagai fondasi prestasi atlet di tingkat regional maupun internasional. (AGF/04)











