“Sepuluh tahun NPCT1 memperkuat operasional, konektivitas, dan keberlanjutan untuk menghadirkan layanan andal serta menciptakan nilai jangka panjang bagi ekosistem logistik Indonesia.”
JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – New Priok Container Terminal One (NPCT1) mencatat penanganan kumulatif sekitar 11 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) hingga September 2026, dalam satu dekade sejak mulai beroperasi pada Agustus 2016 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Pelayanan komersial NPCT1 dimulai pada 18 Agustus 2016, ditandai dengan kedatangan kapal kontainer MV Uni Perfect yang dioperasikan Evergreen.
Sejak beroperasi, volume penanganan peti kemas atau throughput NPCT1 terus meningkat. Secara kumulatif, terminal tersebut mencapai 1 juta TEUs pada 2018, 5 juta TEUs pada 2022, dan 10 juta TEUs pada 2025.
Pada periode Januari-September 2026, NPCT1 menangani 1.243.951,75 TEUs, meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 1.155.159,5 TEUs.
Direktur NPCT1 Abdul Azis mengatakan, perusahaan melakukan pengembangan proses operasional, layanan digital, peralatan, dan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan operasional terminal.
“Selama 10 tahun terakhir, NPCT1 terus memperkuat kapabilitas terminal untuk merespons dinamika operasional dan pertumbuhan kebutuhan yang terus berkembang. Kami meningkatkan proses operasional, menghadirkan solusi digital, menambah armada peralatan operasional, serta mempercepat penerapan peralatan dan infrastruktur yang semakin berkelanjutan,” kata Azis dalam keterangannya di kantor NPCT1, Terminal Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (27/10/2026).
Menurut Azis, pengembangan tersebut mendukung penanganan peti kemas sekaligus meningkatkan efisiensi operasional, keandalan layanan, keselamatan dan pemenuhan kebutuhan pelanggan.
Operasional NPCT1 juga melibatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Utara, KSOP Tanjung Priok, Bea dan Cukai Tanjung Priok, kantor pusat Pelindo dan Pelindo Regional/Cabang Tanjung Priok, Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Polsek Kalibaru, Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, asosiasi industri, media massa, pelanggan, serta masyarakat sekitar.
Penguatan Sistem Operasional
NPCT1 menerapkan sejumlah sistem untuk mengatur kapasitas lapangan penumpukan, arus truk, dan kegiatan bongkar muat peti kemas.
Salah satunya adalah Yard Planning Monitoring Dashboard, yang digunakan untuk memantau tingkat pemanfaatan lapangan penumpukan atau yard serta kinerja perencanaan. Sistem tersebut membantu tim operasional mengatur kapasitas lapangan, pergerakan peti kemas dan kegiatan kapal maupun angkutan darat.
Untuk mengelola kedatangan truk kontainer, NPCT1 menerapkan Truck Booking System (TBS) dan pengelolaan gate pass. Sistem tersebut digunakan untuk mengatur arus penerimaan (receiving) dan pengeluaran (delivery) peti kemas serta mengendalikan kepadatan di gerbang terminal.
Perusahaan juga berkoordinasi dengan regulator, asosiasi industri, dan pemangku kepentingan terkait untuk menyelaraskan pengaturan operasional.
Dalam kegiatan bongkar muat, NPCT1 menerapkan pengaturan backload untuk mendukung produktivitas kapal.
Pengaturan tersebut ditujukan untuk menjaga kelancaran kegiatan kapal dan pemanfaatan dermaga, terutama saat permintaan layanan meningkat.
Dari sisi peralatan, jumlah quay crane meningkat dari delapan unit pada 2016 menjadi sembilan unit pada 2026. Jumlah rubber-tyred gantry (RTG) bertambah dari 20 menjadi 29 unit, sedangkan prime mover meningkat dari 44 menjadi 51 unit.
Konektivitas dan Layanan Digital
Dari sisi komersial, NPCT1 memperluas jaringan layanan sejak mulai beroperasi pada 2016. Dari semula melayani empat perusahaan pelayaran, terminal tersebut kini terhubung dengan jaringan perusahaan pelayaran yang melayani 30 pelabuhan utama di berbagai rute perdagangan Asia, Amerika Serikat dan Eropa.
NPCT1 juga mengembangkan layanan digital untuk mendukung transaksi dan kebutuhan operasional pelanggan.
Salah satunya adalah Express Container Online System (ECON), platform digital untuk mendukung transaksi penagihan, pengelolaan gate pass, serta berbagai kebutuhan operasional pemilik barang (beneficial cargo owner) dan perusahaan pengurusan jasa kepabeanan atau freight forwarder. Layanan tersebut dikembangkan lebih lanjut melalui ECON+ pada 2024.
Pada 2022, NPCT1 menerapkan SAFE Pay, solusi pembayaran digital yang ditujukan untuk menyederhanakan transaksi dan mendukung proses pembayaran yang lebih cepat serta transparan.
Pada 2024, perusahaan memperkenalkan sistem Dual Cycle. Sistem ini memungkinkan truk mengantarkan peti kemas ekspor ke terminal sekaligus mengambil peti kemas impor dalam perjalanan yang sama. Skema tersebut ditujukan untuk meningkatkan utilisasi truk dan efisiensi pengangkutan.
Pada awal 2026, NPCT1 juga memperkenalkan layanan Customer Care melalui telepon, surat elektronik, dan WhatsApp untuk membantu pelanggan memperoleh informasi serta dukungan terkait layanan terminal.
Pengembangan Energi dan Pengurangan Emisi
NPCT1 menjalankan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi dari kegiatan operasional terminal.
Pada 2019, perusahaan menambah empat unit RTG bertenaga listrik. Inisiatif tersebut dilanjutkan dengan penerapan tahap pertama pembangkit listrik tenaga surya atau solar photovoltaic (PV) pada 2024 dengan kapasitas 610 kilowatt-peak (kWp).
Sistem tersebut diproyeksikan dapat mengurangi emisi karbon hingga 584 ton per tahun.
Pada 2025, NPCT1 menambah satu unit quay crane elektrik dan lima unit RTG hibrida. Penambahan peralatan tersebut mendukung kapasitas operasional terminal hingga 1,5 juta TEUs per tahun.
Pada Januari 2026, NPCT1 mengalihkan tujuh dari total 51 unit prime mover menjadi kendaraan listrik. Perusahaan menyatakan langkah tersebut menjadikannya operator terminal pertama di Jakarta yang melakukan transisi elektrifikasi pada truk internal.
Untuk pengembangan berikutnya, NPCT1 merencanakan tahap kedua pembangkit listrik tenaga surya yang diproyeksikan mengurangi emisi karbon sekitar 280 ton per tahun.
Perusahaan juga berencana menambah dua unit RTG elektrik dan secara bertahap mengonversi 10 unit RTG hibrida menjadi peralatan bertenaga listrik sepenuhnya.
Rangkaian inisiatif tersebut diproyeksikan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 600.000 liter dan menurunkan emisi karbon sekitar 1.000 ton per tahun.
Penguatan Keselamatan dan Kegiatan Masyarakat
Selain pengembangan kapasitas dan efisiensi energi, NPCT1 menjalankan program Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) untuk mendukung keselamatan, keamanan dan perlindungan lingkungan di area terminal.
Program tersebut mencakup penguatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, peningkatan tanggung jawab personel, serta keterlibatan pimpinan dan pekerja lini depan dalam membangun kesadaran terhadap keselamatan kerja.
NPCT1 juga mengintegrasikan aspek keselamatan dengan kegiatan operasional, keberlangsungan usaha, dan pengelolaan lingkungan.
Di wilayah sekitar terminal, khususnya Kalibaru, Jakarta Utara, perusahaan mendukung sejumlah kegiatan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan masyarakat, dan kesejahteraan sosial.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari hubungan perusahaan dengan masyarakat di wilayah tempat terminal beroperasi.
Abdul Azis mengatakan, perjalanan operasional selama satu dekade tidak terlepas dari dukungan karyawan, pelanggan, regulator, asosiasi industri, media massa dan masyarakat sekitar.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus tumbuh secara bertanggung jawab, memperkuat operasional, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan para pemangku kepentingan yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Azis.(Um/01)











