JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Taman Safari Indonesia (TSI) mengadakan lomba foto dan video bertema “Story of the Wild, Capture Through Your Lens” (cerita alam liar, potret melalui lensamu), untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap satwa.
Direktur Pemasaran TSI, Hans Manansang dalam pernyataan yang dikutip di Jakarta, Kamis (6/7/2023) menjelaskan lomba tersebut diikuti oleh berbagai kalangan seperti fotografer profesional, media, komunitas, dan masyarakat umum dengan berbagai tingkat kemahiran.
Untuk mengikuti lomba foto dan video dari TSI tersebut, peserta bisa mendaftarkan diri dan karya melalui laman TSI (https://tamansafari.com/iapvc2023/).
Lomba tersebut berlangsung dari 28 Juni 2023 hingga 16 September 2023.
Para pemenang lomba tersebut akan diumumkan pada akhir Oktober 2023.
“Sebenarnya lomba foto dan video ini ditujukan untuk membangun kedekatan antara satwa dengan masyarakat, agar masyarakat semakin peduli dan dekat dengan keberadaan satwa,” katanya.
Hans Manansang bersama Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Eksploitasia juga memberikan pernyataan tersebut saat ditemui di Jakarta Aquarium dan Safari, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Selasa (4/7).
Ia mengatakan, ajang kreatif yang akan dilakukan untuk ke-32 kalinya ini merupakan wujud nyata dari komitmen Taman Safari Indonesia untuk terus mendorong edukasi dunia satwa termasuk upaya konservasinya di Indonesia.
“Kami percaya siapa saja bisa memberi kontribusi positif terhadap masa depan dan keberlanjutan satwa endemik di Indonesia bahkan dunia,” katanya.
Menurut dia ada ribuan foto yang sudah dikumpulkan dari lomba-lomba yang diadakan TSI sebelumnya.
“Hingga saat ini, jumlah foto yang sudah diikutkan dalam lomba foto Taman Safari Indonesia sudah mencapai sekitar 18.000 foto,” katanya.
Namun, kali ini pihaknya ingin lebih fokus kepada jumlah pengikut atau peserta yang terlibat karena tujuan lomba itu untuk mendekatkan atau meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap satwa liar.
TSI telah menampung total 8,700 satwa dari 400 spesies satwa dunia dan menyediakan fasilitas konservasi berstandar internasional.
Pusat konservasi dan riset TSI pun memiliki peran penting dalam perlindungan satwa, pemulihan, penangkaran, pelepasliaran serta pengembangan inovasi demi kelestarian mereka di Indonesia.
“Kami berharap melalui karya-karya yang dihasilkan, masyarakat jadi semakin terhubung dengan dunia satwa yang indah namun rentan ini dan membangkitkan kecintaan terhadap satwa dan melindungi satwa-satwa ini dari kepunahan,” kata Hans Manangsang.
Sementara itu Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Eksploitasia mengatakan bahwa lomba tersebut menjadi salah satu bentuk edukasi kepada publik.
“Dengan adanya edukasi ini, kita berharap bahwa pelestarian keanekaragaman hayati itu dapat dilakukan oleh semua orang,” katanya.
Ia mengatakan bahwa TSI adalah salah satu lembaga konservasi eksitu, yakni konservasi hayati di luar habitat aslinya.
“Peranan TSI dalam konteks eksitu adalah berkontribusi juga bagi kehidupan satwa liar. Dalam hal ini, kita punya program “eksitu link to insitu”. Jadi keberadaan konservasi eksitu ini mesti berkontribusi juga bagi kehidupan hayati di alam liar,” katanya.
Misalnya, kata dia, hewan yang dikonservasi oleh TSI itu hasil anakannya nanti sebagian akan dikembalikan ke alam liar untuk mendukung keberadaan hayati di habitat aslinya.
“Semua lembaga konservasi eksitu itu memiliki kewajiban yang demikian. Misalnya ia mengembangbiakan Jalak Bali. Nanti hasil anakan Jalak Bali itu nanti akan dikembalikan ke habitat aslinya,” kata Indra Eksploitasia. (02/Ant)