“Fenomena badai salju ini tidak hanya menyebabkan pemadaman listrik, tetapi juga menelan korban jiwa. Sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dalam beberapa hari terakhir akibat kondisi ekstrem.”
SUDUTPANDANG.ID – Badai musim dingin yang membawa salju dan es tebal melanda Amerika Serikat (AS), menyebabkan puluhan ribu rumah mengalami pemadaman listrik. Tak hanya rumah penduduk gelap gulita, ribuan penerbangan dibatalkan pada Minggu (25/1/2026). Lebih dari 850.000 pelanggan terdampak, dengan Tennessee, Texas, Louisiana, dan Mississippi menjadi wilayah yang paling parah.
Menurut data PowerOutage.us, Senin (26/1/2026) pada pukul 10.47 pagi waktu setempat, jumlah pelanggan yang terdampak pemadaman listrik meningkat signifikan. Tennessee menjadi wilayah yang paling parah, dengan sekitar 290.000 pelanggan tanpa aliran listrik. Sementara Mississippi, Texas, dan Louisiana masing-masing mencatat lebih dari 100.000 rumah terdampak akibar badai salju.
Fenomena badai salju ini tidak hanya menyebabkan pemadaman listrik, tetapi juga menelan korban jiwa. Sedikitnya tujuh orang meninggal dunia dalam beberapa hari terakhir akibat kondisi ekstrem. Hujan salju lebat, es, dan suhu beku mengancam keselamatan warga, terutama mereka yang berada di luar rumah atau terjebak di kendaraan.
Badai salju dengan es tebal ini memaksa 21 negara bagian menetapkan status siaga darurat, memungkinkan pemerintah lokal menutup fasilitas publik dan mengerahkan bantuan federal.
Presiden AS Donald Trump menyebut kejadian ini sebagai peristiwa “bersejarah” mengingat luasnya dampak dan gangguan pada infrastruktur energi, termasuk lebih dari 130.000 rumah yang gelap gulita akibat badai di Texas dan Louisiana hingga Sabtu, 24 Januari 2026.
Ancaman bagi Transportasi dan Keselamatan
Hujan salju lebat menumpuk di jalan dan atap bangunan, meningkatkan risiko kecelakaan dan kerusakan properti. Lapisan es tebal membuat jalan licin sehingga menyebabkan kecelakaan berantai. Bandara-bandara utama pun menutup operasional, memaksa ribuan penerbangan dibatalkan.
Selain itu, suhu ekstrem yang menyertai badai menimbulkan risiko hipotermia. Di wilayah selatan yang jarang mengalami cuaca sedingin ini, keterbatasan infrastruktur pemanas memperparah ancaman bagi kelompok rentan, termasuk lansia dan anak-anak.
Otoritas lokal dan federal terus bekerja keras untuk menormalkan kondisi. Tim tanggap darurat diturunkan untuk memperbaiki jalur listrik, membuka jalan utama, dan membantu warga yang terdampak. Namun, pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap di rumah dan menghindari perjalanan yang tidak mendesak.
Badai musim dingin kali ini menjadi peringatan akan perlunya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang selama ini jarang terdampak salju dan suhu beku.(01)








