Duta dan Laisa Tumbang di Duel Match JAPFA Chess

Pecatur Indonesia WIM Laisa Latifah (kanan) saat tampil pada kategori Duel Match JAPFA Chess Festival 2026 di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026). (Foto: IST/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Pecatur andalan Indonesia, IM Satria Duta Cahaya dan WIM Laisa Latifah, gagal meraih kemenangan pada babak kedua kategori Duel Match JAPFA Chess Festival 2026 di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Satria Duta harus mengakui keunggulan pecatur Vietnam, IM Cuong Duy Dao, sedangkan Laisa Latifah tumbang di tangan WGM Xenya Balabayeva dari Kazakhstan. Hasil tersebut membuat kedua pecatur Indonesia baru mengoleksi 0,5 poin dari dua ronde catur klasik.

Sebaliknya, Cuong Duy Dao dan Xenya Balabayeva telah mengumpulkan 1,5 poin dari dua pertandingan yang dimainkan dalam format catur klasik.

Satria Duta yang memiliki rating FIDE 2412 menyerah pada langkah ke-43 setelah memainkan Pembukaan Italia menghadapi Cuong Duy Dao yang memiliki rating 2509.

Pertandingan berlangsung ketat hingga memasuki fase kritis. Namun, tekanan waktu membuat Satria Duta kesulitan mempertahankan posisinya.

Pecatur Indonesia IM Satria Duta Cahaya (kanan) saat tampil pada kategori Duel Match JAPFA Chess Festival 2026 di Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026). (Foto: IST/SP).

Kondisi tersebut akhirnya dimanfaatkan Cuong Duy Dao untuk mengamankan kemenangan.

Usai pertandingan, Duta mengakui kekalahan tersebut tidak terlepas dari tekanan waktu dan kurangnya kewaspadaan ketika memasuki momen penting dalam permainan.

Menurutnya, lawan yang dihadapi memiliki gaya permainan menyerang yang tajam. Selain itu, Cuong Duy Dao juga memiliki keunggulan dari sisi peringkat FIDE.

BACA JUGA  Harumkan Indonesia, 14 Atlet Kurash Raih Medali Union of South East Asia 2024

“Babak ini harusnya saya posisinya tidak kalah lah, tapi saya mungkin kena karena waktu terdesak dan banyak hal lain, jadinya lama-lama terus kalah,” ujar Satria Duta.

Meski gagal meraih poin penuh, Duta tidak ingin larut dalam hasil tersebut. Ia menargetkan kemenangan pada duel berikutnya dengan pendekatan permainan yang lebih agresif.

“Targetnya ya pasti menang duel match-nya. Di sisa babak mungkin lebih nyerang sih biar coba cari poin berikutnya. Tapi kalau enggak yang klasik enggak bisa menang, ya minimal remis dulu,” katanya.

Kekalahan dua wakil Indonesia tersebut turut mendapat perhatian pengamat catur nasional, Kristianus Liem. Menurut Kris, secara rating Elo, lawan-lawan yang dihadapi Duta dan Laisa memang berada di atas mereka.

Namun, ia menilai perbedaan kekuatan tersebut bukan satu-satunya faktor. Pecatur Indonesia masih perlu meningkatkan inisiatif mandiri, keuletan dalam permainan, serta jam terbang menghadapi turnamen catur klasik tingkat internasional.

Kris melihat peluang Indonesia untuk mengejar ketertinggalan masih terbuka. Terlebih, setelah kategori catur klasik, persaingan akan berlanjut pada nomor catur cepat atau rapid dan catur kilat atau blitz.

BACA JUGA  GM Novendra Priasmoro Pimpin JAPFA FIDE Rated 2026

Menurutnya, karakter permainan cepat justru menjadi salah satu keunggulan pecatur Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari banyaknya kompetisi rapid dan blitz yang diikuti pecatur nasional dalam berbagai turnamen domestik.

“Kalau untuk catur klasik agak repot, ya. Karena itu memang benar-benar kelas pemain itu kelihatan benar di situ. Enggak bisa lari,” ungkap Kris.

Ia menambahkan, pecatur Indonesia berpeluang memberikan perlawanan lebih kuat ketika memasuki nomor rapid dan blitz karena memiliki pengalaman yang lebih banyak pada format permainan cepat.

“Jadi mereka, pecatur kita lebih banyak lebih matang gitu, ya, main di blitz, di rapid gitu. Mungkin bisa ngambilnya di rapid, blitz,” lanjutnya.

Kris berharap Duta dan Laisa mampu bermain lebih agresif pada sisa pertandingan catur klasik. Menurutnya, kesempatan saat memegang buah putih harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebelum memasuki pertandingan rapid dan blitz.

“Kalau di klasik saya kira berat, ya. Begitu pegang putih seperti enggak ngelawan. Pegang putih unggul tapi enggak bisa menyelesaiin. Hasilnya draw gitu. Jadi ya itu situasi yang kelihatan,” katanya.

Sementara itu, persaingan pada kategori open JAPFA Chess Festival 2026 juga berlangsung ketat. Hingga babak ketiga, sebanyak 11 pecatur masih mencatatkan poin sempurna setelah membukukan tiga kemenangan beruntun.

BACA JUGA  Misi Sari Penuhi Target, Bawa JEP ke Final Four

Mereka adalah NM Marwanto, IM Anjas Novita, IM Gilbert Elroy, Nathanael, FM Fabian Glen Mariano, IM Arif Abdul Hafiz, IM Nayaka Budhidharma, IM Azarya Jodi Setyaki, FM Muhammad Kamalsyah, NM Ahmad Fauzi, dan WIM Shafira Devi Herfesa.

Pada kategori senior putri, Nafisah Hanun dari Banten memimpin klasemen sementara dengan tiga poin. Ia meraih hasil sempurna setelah menyapu bersih tiga ronde.

Nafisah mendapat tekanan dari tiga pecatur yang sama-sama mengoleksi 2,5 poin, yakni Veronica Jefany Sheryl Kichi Makalew, Zilla Altofun Nisa, dan Auliarochmah.

Persaingan JAPFA Chess Festival 2026 pun masih terbuka. Bagi Duta dan Laisa, sisa pertandingan menjadi kesempatan untuk memperbaiki hasil sekaligus menunjukkan kemampuan pecatur Indonesia sebelum memasuki fase catur cepat dan blitz. (09/AGF).