Kabur dari Jeratan Scrolling Tanpa Akhir

Kabur dari Jeratan Scrolling Tanpa Akhir
Kemal H Simanjuntak.(Foto: istimewa)

“Saat seluruh generasi terjebak dalam scrolling tanpa akhir, Appstinence datang untuk mengingatkan bahwa kendali seharusnya tetap di tangan manusia.”

Oleh Kemal H. Simanjuntak

Bayangkan seorang anak Silicon Valley tempat lahirnya segala candu digital yang kita kenal justru memimpin pemberontakan melawan makhluk ciptaan kampung halamannya sendiri. Ini bukan plot film fiksi ilmiah, melainkan kisah nyata seorang alumna Harvard berusia 24 tahun yang menciptakan gerakan “Appstinence”. Namanya sendiri sudah jenaka, gabungan dari “app” dan “abstinence” (pantang), seolah media sosial adalah semacam zat adiktif yang membutuhkan program detoksifikasi khusus. Dan sejujurnya, bukankah memang begitu, terutama ketika jutaan orang kini terjebak dalam pola scrolling tanpa akhir yang semakin sulit dikendalikan?.

Gerakan ini lahir dari ironi yang cukup pekat. Seseorang yang besar di jantung teknologi dunia yang mungkin ayahnya bekerja di perusahaan pengembang algoritma untuk membuat kita tak bisa berhenti melakukan scrolling kini mengajak kita semua menekan tombol “delete account”. Ini seperti anak pemilik pabrik rokok yang tiba-tiba berkampanye antimerokok, mulia, namun juga terasa lucu jika dipikir-pikir. Justru di situlah kekuatannya, karena ia memahami persis bagaimana mesin itu bekerja dari dalam dan bagaimana pola scrolling tanpa akhir sengaja diciptakan untuk menahan penggunanya, sehingga ia memilih untuk keluar.

BACA JUGA  Peran Pemerintah Masih Dibutuhkan untuk Mengangkat Martabat Wartawan Indonesia

Appstinence bukan sekadar gerakan “tutup gawai, buka buku” yang klise. Ini adalah perlawanan terhadap seluruh ekosistem yang dirancang orang-orang jenius untuk merampas waktu dan perhatian kita. Para insinyur di Silicon Valley dibayar jutaan dolar untuk merancang notifikasi yang sempurna bunyi yang tepat, warna yang menarik, serta waktu pemunculan yang membuat kita penasaran. Mereka mempelajari psikologi manusia lebih dalam daripada kebanyakan psikolog, demi satu tujuan membuat kita tidak bisa lepas dari layar. Kini, generasi yang tumbuh sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen sosial terbesar dalam sejarah mulai berkata, “Cukup!”.

Yang menarik dari gerakan ini adalah pendekatan holistiknya. Gerakan ini tidak bertujuan menghakimi orang yang masih aktif di Instagram atau Twitter, melainkan memberi pilihan dan kesadaran. Banyak di antara kita bahkan tidak menyadari berapa jam yang habis untuk menonton video kucing atau debat politik yang ujungnya hanya meningkatkan tekanan darah, semua terjadi karena pola scrolling tanpa akhir yang dirancang membuat kita terus terpaku pada layar. Appstinence mengajak kita pause sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar yang kita inginkan untuk hidup kita? Atau kita hanya menjadi zombie yang terus melakukan scroll karena algoritma menyuruh begitu?

Tentu saja, berhenti dari media sosial pada era 2024 ibarat mencoba hidup tanpa oksigen. “Bagaimana aku tahu kabar teman-teman?”, “Acara penting ada di Facebook!”, “Jaringan profesionalku di LinkedIn!” Semua alasan itu valid, tetapi juga dapat menjadi dalih. Manusia bersosialisasi dan berkarya selama ribuan tahun tanpa perlu tahu apa yang dimakan teman lamanya untuk sarapan. Mungkin kita tidak perlu seterkoneksi itu. Mungkin fear of missing out (FOMO) yang kita rasakan justru adalah produk sampingan dari platform yang mendapatkan keuntungan dari ketakutan kita sendiri.

BACA JUGA  Strategi Penanganan COVID-19, Taiwan Manfaatkan Teknologi Inovatif

Gerakan yang dipimpin perempuan muda ini juga menyentuh isu kesehatan mental yang semakin krusial. Berbagai studi menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial berlebihan dengan depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri terutama di kalangan generasi muda. Kita membandingkan hidup kita yang berantakan dengan highlight reel orang lain yang sudah melalui filter dan proses sunting. Kita mengukur nilai diri dari jumlah likes dan followers, seolah validasi dari orang asing di internet lebih penting daripada hubungan nyata. Ini adalah epidemi yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental satu generasi, dan Appstinence menawarkan jalan keluar.

Karena itu, gerakan ini bukan antiteknologi secara membabi buta. Ini soal mengambil kembali kendali. Soal memilih kapan kita berinteraksi dengan teknologi, bukan membiarkan teknologi menentukan kapan kita harus menatap layar. Ini tentang menyadari bahwa aplikasi-aplikasi itu gratis bukan karena perusahaan teknologi murah hati, tetapi karena kita data, perhatian, dan waktu kita adalah produknya. Dan kadang, sebuah produk perlu mogok kerja.

BACA JUGA  Penyelesaian Penzaliman di Medsos Tidak Cukup Minta Maaf Bermaterai

Jadi, apakah kita semua harus langsung menghapus seluruh akun dan hidup seperti pertapa digital? Tentu tidak. Namun mungkin, hanya mungkin, kita bisa memulai dengan satu hari tanpa media sosial. Satu hari tanpa mengetahui siapa yang putus, siapa yang menikah, atau siapa yang makan sushi mewah. Siapa tahu, kita menemukan bahwa hidup tanpa 500 notifikasi per hari ternyata cukup menyenangkan. Bahkan mungkin lebih menyenangkan. Appstinence bukan ajakan kembali ke zaman batu, melainkan langkah maju dengan kesadaran penuh sesuatu yang, ironisnya, semakin langka pada era informasi ini.

*Penulis Kemal H Simanjuntak adalah Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)