SUDUTPANDANG.ID – Center for Social Engagement (CSE), National Dong Hwa University (NDHU) mengunjungi Indonesia pada 7-14 Januari 2026 untuk bertemu dengan para pemangku kepentingan pekerja migran Indonesia (PMI). Lawatan ini merupakan bagian dari program University Social Responsibility (USR) untuk mewujudkan Taiwan sebagai negara yang ramah bagi pekerja asing.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan hingga November 2025, jumlah pekerja migran di Taiwan mencapai 865.811 orang, dengan mayoritas berasal dari Indonesia, yakni 332.993 jiwa. Berdasarkan jenis pekerjaannya, sebanyak 108.228 PMI bekerja di sektor produktif (manufaktur, anak buah kapal, hingga konstruksi) dan 183.820 orang bekerja di sektor kesejahteraan (perawat, pembantu rumah tangga, atau panti jompo).
Direktur CSE, June Ku, menjelaskan bahwa belajar langsung dari masyarakat Indonesia di tingkat akar rumput merupakan langkah awal untuk memperbaiki lingkungan kerja di Taiwan.
Selama di Indonesia, delegasi CSE mengunjungi Jakarta, Bandung, Indramayu, dan Cirebon untuk menemui berbagai pihak, termasuk para pekerja migran yang telah kembali, kantor penempatan, pusat pelatihan pekerja migran, Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), organisasi nonpemerintah (NGO), hingga Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat.
Saat berinteraksi dengan para mantan PMI, Ku menyoroti kondisi mereka yang kerap harus meminjam uang dalam jumlah besar dan terlilit utang untuk dapat bekerja ke luar negeri.
Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan kerja yang tinggi serta harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, ia berharap siklus tersebut dapat dihentikan.
“Yang saya pikirkan adalah bagaimana Taiwan, tentu bersama dengan NGO dan Indonesia, dapat memberikan pelatihan kepada para PMI yang hendak pulang. Misalnya, jika suaminya di Indonesia memiliki kebun, maka istrinya diajarkan cara merawat kebun dengan benar. Dengan begitu, saat pulang, ia sudah memiliki modal dan pengetahuan untuk melanjutkan hidupnya,” ujar Ku kepada para pekerja migran yang tergabung dalam komunitas Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi) di Indramayu yang didukung oleh Migrant CARE.
Dialog dengan Serikat Buruh Migran Indonesia, Migrant CARE, serta komunitasnya berfokus pada dua hal. Pertama, kesejahteraan PMI di sektor pengasuhan (caregivers). Berbeda dengan pekerja formal, skema kerja mereka tidak diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Akibatnya, upah mereka jauh di bawah standar nasional, tidak memiliki hari libur reguler, serta berada dalam relasi kuasa yang timpang dengan majikan.
Kedua, pendampingan terhadap keluarga PMI yang ditinggalkan. Karena Taiwan tidak mengizinkan pekerja kerah biru membawa keluarganya, anak-anak mereka dibesarkan oleh suami atau kakek-nenek. Tidak jarang, anak-anak tersebut tumbuh dengan kekurangan kasih sayang.
Kunjungi Indramayu
Di Indramayu, CSE NDHU juga mengunjungi SMK Negeri 1 Bongas dan menyapa para siswa yang berasal dari keluarga PMI. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman bahwa para siswa juga memiliki peluang untuk pergi ke Taiwan guna menempuh pendidikan, bukan hanya untuk bekerja.
Adapun dialog dengan LD PBNU membahas pentingnya peran agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini relevan mengingat masih terdapat majikan maupun agen perekrutan yang melarang PMI beribadah, mengenakan kerudung, atau bahkan memaksa mereka mengonsumsi babi dan makanan nonhalal. LD PBNU menyampaikan bahwa jika praktik semacam ini terus berlanjut, majikan justru akan dirugikan karena memiliki PMI yang rentan mengalami stres.
Diskusi dengan LD PBNU juga menghasilkan solusi praktis. Misalnya, dalam Islam sebenarnya tidak dilarang bagi PMI muslim untuk memasakkan daging babi bagi majikannya, selama tidak mengonsumsinya. Namun, masih banyak PMI yang belum memahami hal ini sehingga merasa bahwa memasak daging babi saja sudah merupakan dosa.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Ku menyatakan komitmen CSE NDHU untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak guna memperbaiki rezim ketenagakerjaan di Taiwan dan meningkatkan kesejahteraan hidup PMI.
“Apa yang dapat kami lakukan sebagai universitas yang berbasis di Hualien adalah memulainya dari komunitas yang ada di Hualien itu sendiri. Kami dapat membantu membangun dialog dan kesepahaman antara warga Taiwan di Hualien dan warga Indonesia yang tinggal di sana. Saya yakin, jika apa yang dilakukan di Hualien berhasil, hal itu juga dapat diterapkan di kota-kota lain,” kata Ku.
“Hualien merupakan daerah pedesaan dengan populasi lanjut usia yang cukup besar, sehingga tidak mengherankan jika banyak PMI bekerja di sana. Hualien juga memiliki rekam jejak yang inklusif dan terbuka terhadap budaya luar. Karena itu, saya yakin memulai dari Hualien merupakan langkah yang tepat,” tutup Ku.
Penulis: Vanny El Rahman, Peneliti doktoral di National Dong Hwa University









