Konsep Ekowisata Kebun Raya Bogor Diapresiasi Menparekraf

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno (dua dari kanan) saat berjalan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, didampingi Wali Kota Bogor sekaligus Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Bima Arya bersama dan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Abdullah Azwar Anas serta para wali kota anggota APEKSI jalan sehat keliling Kebun Raya Bogor (KRB), Sabtu (3/9/2022). FOTO: kotabogor.go.id

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyambut baik konsep ekowisata di Kebun Raya Bogor, yang mengedepankan konsep konservasi hingga edukasi.

“Dengan begitu, masyarakat yang berkunjung tidak hanya berwisata menikmati keasrian Kebun Raya Bogor, namun juga memperoleh edukasi,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (5/9/2022).

IMG-20220125-WA0002

Menparekraf menyampaikan terima kasih kepada pengelola yang terus menampung aspirasi masyarakat agar Kebun Raya Bogor, selain dijaga dari segi keberlanjutannya, namun juga membuka peluang masyarakat mendapatkan berkesempatan wisata dan edukasi.

Sebelumnya, PT Mitra Natura Raya (MNR) berhasil memenangkan “beauty contest” pengelolaan empat kebun raya, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas (Cianjur, Jabar), Kebun Raya Purwodadi (Pasuruan, Jatim), dan Kebun Raya Eka Karya Bali pada 2019.

Dalam kurun tiga tahun terakhir ini, PT MNR melakukan pembenahan dan inovasi sehingga fungsi kebun raya dalam edukasi dan wisata dapat berjalan optimal sekaligus mendukung tiga fungsi lainnya, yaitu konservasi, penelitian serta jasa lingkungan.

Terobosan dilakukan dengan perbaikan dalam pengelolaan tiket masuk kebun raya dengan menerapkan sistem elektronik, dari yang sebelumnya konvensional (manual).

Saat ini tiket masuk ke kebun raya dilakukan secara terintegrasi dan penjualannya bisa dilakukan melalui daring di laman www.kebunraya.id.

Sebanyak 18 toilet umum yang ada di kebun raya sudah dibenahi. Kini, tidak ada lagi pungutan toilet dalam upaya meningkatkan fungsi pelayanan publik di empat kebun raya.

Selain itu, juga dilakukan revitalisasi sejumlah taman-taman tematik agar dapat memanjakan kebutuhan pengunjung di kebun raya.

Kemudian, menggandeng UMKM, penampilan budayawan lokal, dan ilustrator terbaik di Indonesia untuk bekerja sama dalam mengembangkan buah tangan yang diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian di sekitar kebun raya.

Pada 2021, juga dihadirkan sarana edukasi dan wisata malam pertama serta terbesar di Indonesia yang bernama Glow.

Dengan menggunakan area sekitar 3 persen dari total luas Kebun Raya Bogor yang mencapai 87 hektare, program Glow menghadirkan Taman Pandan, Taman Meksiko, Taman Akuatik, Taman Astrid, Lorong Waktu, dan Ecodome.

Khusus Taman Astrid, pada area ini menceritakan tentang sejarah terbentuknya Kebun Raya Bogor hingga sampai sekarang menjadi wilayah konservasi dan pusat penelitian alami yang memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu botani dan farmasi.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, menjelaskan program Glow memiliki nilai edukasi yang tinggi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Dengan metode komunikasi yang adaptif sesuai perkembangan zaman saat ini, BRIN berharap Kebun Raya Bogor dapat menjadi tujuan dan rujukan bagi anak-anak muda. Tidak hanya berwisata, namun lebih jauh lagi untuk memahami akar budayanya serta meningkatkan kecintaannya terhadap lingkungan alam.

“Sesuai regulasi, fungsi kebun raya meliputi konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan. Program Glow yang dijalankan PT MNR telah meliputi fungsi edukasi dan pendidikan serta tetap mendukung BRIN untuk menjalankan tiga fungsi lainnya sehingga amanat yang ditetapkan oleh pemerintah pusat tetap terjaga,” katanya.

Untuk menjalankan fungsi konservasi, Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya BRIN berperan sebagai pengelolanya.

Adapun Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Laboratorium dan Kawasan Sains dan Teknologi BRIN untuk mengelola laboratorium penelitian, serta Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Koleksi berperan untuk pemeliharaan koleksi.

“Kami memiliki komitmen yang sama dengan masyarakat bahwa Kebun Raya Bogor ini adalah aset bangsa yang harus selalu dijaga dan dapat dioptimalkan untuk kemajuan masyarakat. Karena itu terobosan dan inovasi harus terus dilakukan tanpa meninggalkan akar budaya yang ada,” katanya. (Red/ANT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.