JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Perbincangan di media sosial ramai menyoroti ketegangan antara netizen Korea Selatan vs netizen Asia Tenggara atau ASEAN. Aksi saling serang di ruang digital tersebut berlangsung di berbagai platform, terutama di media sosial X, dan masih menjadi perhatian warganet lintas negara.
Percakapan tersebut kerap disebut sebagai “perang digital” oleh warganet karena melibatkan balasan komentar, sindiran, hingga penggunaan tagar oleh netizen Korea vs Asia Tenggara.
Kendati demikian, interaksi netizen Korea Selatan vs Asia Tenggara tersebut berlangsung di ruang daring dan tidak mewakili seluruh masyarakat dari negara-negara terkait.
Berawal dari Insiden Konser di Malaysia
Berdasarkan penelusuran sudutpandang.id, Minggu (15/2/2026), terhadap unggahan warganet, ketegangan ini berawal dari sebuah konser artis Korea Selatan yang digelar di Malaysia.
Dalam konser tersebut, hadir sejumlah fansite asal Korea Selatan yang menggunakan kamera profesional untuk mendokumentasikan acara.
Fansite dalam komunitas penggemar K-pop dikenal sebagai penggemar yang secara rutin mengambil foto atau video idola mereka dalam berbagai kegiatan, seperti konser atau acara jumpa penggemar.
Namun, sejumlah unggahan menyebutkan bahwa penggunaan kamera berukuran besar yang diangkat tinggi dinilai mengganggu pandangan penonton lain dan dianggap melanggar aturan konser.
Sejumlah warganet menyebutkan bahwa saat ditegur, terjadi perdebatan yang kemudian berlanjut ke media sosial.
Tuduhan Ujaran Bernada Rasis di Media Sosial
Ketegangan meningkat setelah muncul unggahan yang menuding adanya komentar bernada rasis terhadap penonton non-Korea, khususnya dari kawasan Asia Tenggara.
Tudingan tersebut kemudian menyebar luas dan memicu reaksi dari warganet di berbagai negara Asia Tenggara.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, warganet menyoroti penggunaan kata-kata yang dinilai merendahkan secara fisik maupun stereotip rasial.
Percakapan tersebut kemudian berkembang menjadi saling balas komentar antarakun dari berbagai negara.
Percakapan Meluas dan Saling Serang Daring
Perdebatan tidak hanya berhenti pada unggahan awal. Warganet dari kedua pihak terlibat dalam saling balas komentar, termasuk penggunaan bahasa masing-masing serta perbandingan budaya dan identitas.
Sejumlah warganet Asia Tenggara menilai penggunaan bahasa Korea dalam komentar bernada menyerang sebagai bentuk eksklusivitas, sementara sebagian warganet Korea Selatan juga merespons dengan narasi tandingan.
Situasi ini memicu meningkatnya volume percakapan dan memperluas jangkauan isu tersebut.
Figur Publik Ikut Terseret Percakapan
Dalam perkembangan selanjutnya, sejumlah figur publik ikut disebut dalam percakapan warganet.
Salah satunya aktor Indonesia Baskara Mahendra, yang namanya muncul dalam unggahan perbandingan fisik oleh sejumlah akun.
Unggahan tersebut kemudian memicu respons dari warganet Indonesia. Di sisi lain, salah satu personel grup K-pop BTS, Kim Nam-joon, juga disebut dalam percakapan sebagai bagian dari saling sindir antarpengguna media sosial.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara konser maupun otoritas terkait mengenai insiden awal yang disebut sebagai pemicu ketegangan tersebut.
Ketegangan antarwarganet lintas negara bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan serupa kerap muncul dan umumnya dipicu oleh unggahan yang diterjemahkan, dipotong dari konteks awal, lalu menyebar luas di media sosial.(berbagai sumber)

