Nurul Mawaridah dari SMPN 4 Pasuruan Jadi Satu-Satunya Duta SATRIA KPK 2026 Asal Kota Pasuruan

Salah satu guru SMP Negeri 4 Pasuruan, terpilih sebagai peserta Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) KPK 2026 (Foto Istimewa)

PASURUAN — JATIM | SUDUTPANDANG.ID – Komitmen terhadap penguatan pendidikan karakter dan budaya integritas kembali membawa nama Kota Pasuruan ke tingkat nasional. Nurul Mawaridah, M.Pd., atau yang akrab disapa Bu Mawar, guru SMP Negeri 4 Pasuruan, terpilih sebagai peserta Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) KPK 2026.

Bu Mawar menjadi satu-satunya pendidik asal Kota Pasuruan yang terpilih dalam program nasional yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Direktorat Jejaring Pendidikan.

Terpilihnya Bu Mawar bukanlah proses yang singkat. Ia melewati serangkaian tahapan seleksi yang melibatkan tenaga pendidik dari berbagai jenjang dan daerah di Indonesia. Proses dimulai melalui rekrutmen terbatas pada 9–25 Juli 2026, dilanjutkan seleksi tahap II berupa penilaian video pada 1–3 Agustus 2026.

Setelah dinyatakan lolos, peserta mengikuti orientasi program, prematrikulasi melalui e-learning PADI, hingga pengumuman peserta SATRIA terpilih pada 19 Agustus 2026.

Bagi Bu Mawar, keterpilihan tersebut bukan sekadar pencapaian personal. Amanah sebagai SATRIA menjadi kesempatan untuk memperkuat peran pendidik dalam menanamkan nilai integritas dan antikorupsi melalui proses pendidikan yang dekat dengan kehidupan murid.

SATRIA Bukan Sekadar Duta Seremonial

Ada hal penting yang membedakan SATRIA dari sekadar predikat atau gelar kehormatan. SATRIA KPK bukanlah program untuk melahirkan duta yang berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menyiapkan insan pendidik sebagai agen dan penggerak nyata Pendidikan Antikorupsi di satuan pendidikan dan daerah masing-masing.

Melalui program ini, para pendidik terpilih dibekali kapasitas untuk mengintegrasikan nilai-nilai integritas dan antikorupsi ke dalam kehidupan pendidikan sehari-hari. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keberanian, kepedulian, dan nilai-nilai integritas lainnya diharapkan tidak berhenti sebagai materi yang disampaikan di kelas, tetapi hadir dalam pembiasaan, keteladanan, pengambilan keputusan, dan budaya sekolah.

Karena itu, tugas peserta SATRIA tidak selesai ketika rangkaian pelatihan berakhir. Justru setelah kembali ke daerah masing-masing, tantangan sesungguhnya dimulai: bagaimana gagasan yang diperoleh selama program dapat berubah menjadi aksi dan berdampak nyata.

Peserta didorong untuk mengaktifkan jejaring mitra Pendidikan Antikorupsi, menyusun dan menjalankan rencana aksi, serta membangun ekosistem integritas di lingkungan sekolah dan komunitas. Pendidikan antikorupsi juga diarahkan untuk merespons tantangan zaman, termasuk menjaga budaya kejujuran akademik, mencegah plagiarisme, serta menguatkan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial.

BACA JUGA  Mbah Sumi: Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak, Kepedulian Media Gerakkan Pemerintah Turun Tangan

Bagi Bu Mawar, perspektif tersebut membuat SATRIA memiliki makna yang lebih luas. Pendidikan integritas tidak harus selalu hadir dalam bentuk kegiatan khusus. Ia dapat tumbuh dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari di sekolah—dari cara guru memberikan teladan, cara murid mengerjakan tugas, keberanian mengakui kesalahan, hingga kebiasaan bertanggung jawab terhadap pilihan dan tindakan.

Belajar Memahami Integritas secara Lebih Mendalam

Rangkaian pembekalan SATRIA 2026 diawali dengan matrikulasi daring pada 24 dan 26 Agustus 2026. Para peserta mendapatkan penguatan mengenai peran strategis guru dalam keberlanjutan Pendidikan Antikorupsi.

Materi yang diberikan tidak hanya membahas nilai-nilai antikorupsi secara konseptual. Peserta diajak memahami berbagai persoalan nyata, termasuk pencegahan korupsi di sektor kehutanan, mengenali peran SATRIA sebagai sahabat teladan integritas, serta merefleksikan pengalaman belajar selama mengikuti e-learning.

Pembelajaran tersebut menjadi bekal sebelum peserta mengikuti pelatihan intensif dalam bentuk camp pada 8–10 September 2026 di Jakarta.

Tiga Hari Intensif di Kamp SATRIA

Kegiatan camp diawali dengan kedatangan dan check-in peserta pada 7 September 2026 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Pusdiklat) LAN RI Pejompongan.

Pada 8 September, peserta mendapatkan pengalaman langsung mengenal lingkungan KPK melalui tur Gedung Merah Putih KPK yang dipandu oleh Juru Bicara KPK. Peserta juga mengikuti dialog antikorupsi bersama pimpinan dan juru bicara KPK serta study tour ke Rumah Penyimpanan Benda Sitaan dan Barang Rampasan (Rupbasan) KPK.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan pembelajaran intensif mengenai kepemimpinan integritas. Peserta diajak membaca kondisi dan peta persoalan sebelum menentukan langkah perubahan melalui materi “Membaca Peta sebelum Melangkah” dan “Mindset of An Integrity Champion”.

Hari kedua, 9 September 2026, peserta memasuki materi yang lebih aplikatif. Salah satunya adalah sosialisasi Peta Kompetensi Pendidikan Antikorupsi, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai insersi PAK ke dalam kurikulum, baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler.

Peserta juga menyusun rencana aksi praktik insersi PAK serta berlatih membangun percakapan dan memfasilitasi dialog tentang Pendidikan Antikorupsi di kelas, sekolah, dan komunitas.

BACA JUGA  Penutupan MPLS SMPN 4 Pasuruan Berlangsung Meriah, Edukatif, dan Penuh Semangat 

Pertanyaan penting turut menjadi bagian dari refleksi melalui sesi “Benarkah Pendidikan Antikorupsi Berdampak atau Sekadar Terjadi?”. Sesi ini mendorong peserta untuk tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi memastikan pendidikan antikorupsi benar-benar memberikan dampak terhadap perilaku dan budaya di lingkungan pendidikan.

Pada hari terakhir, 10 September 2026, peserta memasuki tahap “Dari Gagasan menjadi Gerakan”. Rencana aksi yang telah disusun disempurnakan dan dipresentasikan sebagai langkah awal untuk membawa semangat integritas kembali ke daerah dan satuan pendidikan masing-masing.

Daily Vlog SATRIA, Bagikan Pengalaman hingga Raih Apresiasi

Di sela-sela padatnya rangkaian kegiatan, Bu Mawar juga aktif mendokumentasikan kegiatan SATRIA melalui mini daily vlog yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Konten tersebut menampilkan berbagai momen selama mengikuti rangkaian kegiatan SATRIA selama camp. Setiap unggahan juga ditandai (tagged) ke akun Instagram @jardik.kpk, sehingga pengalaman Bu Mawar turut menjadi bagian dari dokumentasi dan berbagi informasi mengenai program SATRIA dan juga membuka ruang berbagi kepada masyarakat dan rekan-rekan pendidik mengenai pengalaman mengikuti program Pendidikan Antikorupsi tingkat nasional.

Konsistensi tersebut mendapat apresiasi. Konten daily vlog kegiatan SATRIA yang diunggah Bu Mawar melalui Instagram mendapatkan apresiasi berupa gift.

Apresiasi tersebut menjadi penyemangat untuk terus berbagi. Bagi Bu Mawar, media sosial dapat menjadi ruang untuk menyebarluaskan praktik baik pendidikan sekaligus mengajak lebih banyak pendidik melihat bahwa pendidikan integritas dapat dikomunikasikan dengan cara yang dekat, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Membawa Pulang Misi, Bukan Sekadar Predikat

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan, Bu Mawar bersama peserta SATRIA lainnya membawa tugas dan tanggung jawab untuk mengimplementasikan hasil pembelajaran di daerah masing-masing.

Ada empat peran utama yang perlu dijalankan. Pertama, mengimplementasikan rencana aksi Pendidikan Antikorupsi di satuan pendidikan. Kedua, melakukan insersi nilai-nilai antikorupsi melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Ketiga, menjadi teladan dan penggerak integritas yang mampu membangun budaya antikorupsi di kelas, sekolah, dan lingkungan komunitas. Keempat, memfasilitasi dialog tentang integritas dan Pendidikan Antikorupsi, sehingga persoalan kejujuran, tanggung jawab, etika, dan keberanian mengambil keputusan yang benar dapat menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di lingkungan pendidikan.

BACA JUGA  Bocoran Kabinet 'Indonesia Emas' Prabowo-Gibran Viral di Medsos

“Menjadi bagian dari SATRIA bukan tentang membawa pulang sebuah predikat, tetapi membawa pulang tanggung jawab untuk menghidupkan nilai integritas dalam keseharian. Pendidikan antikorupsi harus hadir dalam tindakan, keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah,” ujar Bu Mawar.

Dukungan untuk Gerakan Pendidikan Antikorupsi

Komitmen tersebut juga mendapat dukungan secara kelembagaan. Melalui Surat Dinas KPK Nomor B/5207/DKM.00.01/82/08/2026, Direktur Jejaring Pendidikan KPK, Dian Novianthi, secara resmi meminta dukungan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pasuruan untuk menugaskan dan memberikan fasilitas kepada Nurul Mawaridah dalam mengimplementasikan rencana aksi Pendidikan Antikorupsi.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama program tidak berhenti sebagai pengalaman individual, melainkan dapat berkembang menjadi gerakan yang memberikan manfaat lebih luas.

Bagi Kota Pasuruan, keterpilihan Bu Mawar sebagai peserta SATRIA KPK 2026 menjadi sebuah kebanggaan sekaligus amanah. Kehadirannya dalam program ini bukan sekadar membawa nama sekolah dan kota ke panggung nasional, tetapi juga membawa pulang sebuah misi: menjadikan integritas sebagai nilai yang hidup dalam pendidikan.

Dari ruang kelas, nilai integritas diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, berkembang menjadi budaya. Dan dari budaya sekolah, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian untuk memilih yang benar.

Sebab, pendidikan antikorupsi pada akhirnya bukan sekadar mengajarkan tentang korupsi. Ia adalah ikhtiar menumbuhkan manusia yang jujur, bertanggung jawab, kritis, berintegritas, dan berani menjaga kebenaran bahkan ketika tidak ada yang melihat.(ACZ)