Serangan di Gaza dan Pembatasan Akses Al-Aqsa Warnai Ramadan di Palestina

Avatar photo
Serangan di Gaza dan Pembatasan Akses Al-Aqsa Warnai Ramadan di Palestina
Serangan di Gaza dan Pembatasan Akses Al-Aqsa Warnai Ramadan di Palestina.(Foto: Dok. Anadolu)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Serangan udara di Jalur Gaza dan pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur mewarnai pelaksanaan Ramadan di wilayah Palestina. Peristiwa tersebut terjadi di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat.

Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya lima orang tewas akibat serangan yang terjadi pada Jumat (27/2/2026) dini hari. Dua orang dilaporkan tewas dan satu lainnya luka-luka dalam serangan udara di Gaza bagian tengah.

Serangan pesawat nirawak di wilayah selatan Jalur Gaza juga dilaporkan menewaskan tiga orang serta melukai sejumlah warga.

Militer Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok bersenjata Hamas di wilayah Rafah, Gaza selatan.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut pasukannya mengidentifikasi kelompok bersenjata yang muncul dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur sebelum melakukan serangan bersama Angkatan Udara Israel.

BACA JUGA  Wilayah Laut Banda-Maluku Diguncang Gempa M5,9, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami

Sementara itu, otoritas kesehatan di Gaza yang berada di bawah Hamas menyatakan sedikitnya 618 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Di pihak Israel, militer menyebut sedikitnya lima tentaranya tewas dalam periode yang sama. Pembatasan akses media di Gaza membuat verifikasi independen terhadap angka korban menjadi terbatas.

Selain serangan di Rafah, sumber setempat melaporkan pesawat nirawak Israel menyerang pos polisi di Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, yang menewaskan tiga polisi. Jenazah korban dan warga yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Nasser.

Serangan terpisah di dekat pusat kepolisian di pintu masuk Kamp Pengungsi Al-Bureij, Gaza tengah, juga dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai sejumlah warga.

BACA JUGA  Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB: Israel Ingin Lenyapkan Palestina

Di Yerusalem Timur, ribuan warga Palestina dari Tepi Barat berkumpul di pos pemeriksaan Qalandia pada Jumat kedua Ramadan untuk menuju Masjid Al-Aqsa. Namun, banyak di antara mereka dilaporkan ditolak masuk meski memiliki izin.

Seorang warga Ramallah, Jawdat Ceradat, menyatakan dirinya ditolak melintas tanpa penjelasan meski telah menunjukkan izin resmi. Warga lainnya dari Al-Khalil dan seorang perempuan Palestina juga melaporkan mengalami penolakan serupa saat hendak menunaikan ibadah di Masjid Al-Aqsa.

Sejak pendudukan tahun 1967, Israel menerapkan sistem perizinan bagi warga Palestina Tepi Barat yang ingin memasuki Yerusalem Timur. Tahun ini, otoritas Israel mengumumkan kuota 10.000 warga Palestina yang diizinkan berkunjung ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadan dengan syarat usia tertentu dan izin khusus.

Hamas dalam pernyataannya menilai serangan terbaru di Gaza menunjukkan kurangnya komitmen terhadap upaya mediasi internasional. Kelompok tersebut juga menyebut pernyataan negara-negara penjamin gencatan senjata belum memberikan dampak nyata di lapangan.

BACA JUGA  Hamas: Warganya Jadi Tawanan di Gaza, Zionis Israel Tak Peduli

Ketegangan yang terus berlanjut di Gaza serta pembatasan akses ibadah di Yerusalem Timur menunjukkan situasi keamanan di wilayah Palestina masih rapan, meski gencatan senjata telah memasuki fase lanjutan.(red/sumber: Anadolu)