BANDA ACEH, SUDUTPANDANG.ID – Tiga Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi) Aceh resmi memiliki nakhoda baru untuk masa bakti 2026-2030.
Pelantikan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan olahraga berkuda sekaligus menyiapkan atlet menghadapi PON XXII/2028 Nusa Tenggara Timur-Nusa Tenggara Barat (NTT-NTB).
Tiga kepengurusan yang dikukuhkan terdiri atas FN Pordasi Pacu Aceh, FN Pordasi Equestrian Aceh, dan FN Pordasi Berkuda Memanah Aceh. Prosesi pelantikan berlangsung di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Selasa (6/10/2026).
Rahmuddiansyah dipercaya memimpin Pengprov FN Pordasi Pacu Aceh. Ia dilantik Sekretaris Umum FN Pordasi Pacu Pusat Ir. MT Prasetyo Oedjiantono, MSCE.
Sementara Vira Wiara menjadi Ketua Pengprov FN Pordasi Equestrian Aceh dan dilantik Ketua Umum FN Pordasi Equestrian Dewi Larasati, SH. Adapun Dr. Andika Putra SA, Sp.PD, FINASM dipercaya memimpin Pengprov FN Pordasi Berkuda Memanah Aceh dan dilantik Ketua Umum FN Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano.
Wakil Ketua Umum II KONI Pusat Mayjen TNI Purn Soedarmo yang mewakili Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman mengatakan Aceh memiliki modal penting untuk mengembangkan olahraga berkuda.
Menurut Soedarmo, salah satu kekuatan Aceh adalah keberadaan venue berkuda pacu yang sebelumnya digunakan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.
“Saya memberikan ucapan selamat kepada ketiga Ketua Pengprov FN Pordasi Provinsi Aceh yang baru saja dilantik. Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi besar dalam olahraga berkuda,” ujar Soedarmo.
Ia mendorong venue yang telah digunakan pada PON XXI/2024 tersebut dioptimalkan kembali untuk kegiatan pembinaan, kompetisi, dan pengembangan olahraga berkuda di Aceh.
Tidak hanya mengejar prestasi, pengembangan olahraga berkuda dinilai dapat memberikan dampak lebih luas. Menurut Soedarmo, ekosistem berkuda berpotensi mendukung pertumbuhan sport tourism dan sport industry di Aceh.
“Lebih dari itu, pengembangan olahraga berkuda di Aceh dapat mendorong pertumbuhan sport tourism dan sport industry, sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah,” katanya.
Di sisi organisasi, KONI Pusat meminta tiga Pengprov FN Pordasi Aceh segera membangun tata kelola yang profesional. Penguatan hubungan dengan pengurus kabupaten/kota dan klub juga dinilai penting agar program pembinaan berjalan lebih terarah.
Soedarmo juga menekankan peningkatan kualitas pelatih, wasit dan juri, serta penyelenggaraan kompetisi sebagai bagian dari strategi peningkatan prestasi.
Pesan tersebut sejalan dengan target masing-masing federasi. Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu Aceh Rahmuddiansyah berkomitmen menghidupkan kembali olahraga pacu kuda di Aceh.
Ia melihat tingginya antusiasme masyarakat terhadap pacu kuda saat PON XXI/2024 sebagai modal untuk mengembangkan olahraga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
“Tentu kami berkomitmen untuk menghidupkan kembali pacu kuda di Aceh. Melihat ke belakang dalam penyelenggaraan PON, pacu sangat diminati masyarakat,” kata Rahmuddiansyah.
Sementara itu, Vira Wiara menempatkan pembinaan atlet usia dini sebagai salah satu prioritas FN Pordasi Equestrian Aceh. Peningkatan kualitas pelatih juga akan dilakukan untuk menemukan bibit potensial yang dapat dipersiapkan menghadapi Kejurnas dan PON XXII/2028 NTT-NTB.
“Kami dari Pengprov FN Pordasi Equestrian Aceh akan menargetkan penguatan pembinaan atlet sejak usia dini, serta peningkatan kualitas pelatih guna menjaring bibit atlet potensial,” ujar Vira.
Adapun Andika Putra menjadikan pelantikan sebagai titik awal untuk memperkuat olahraga berkuda memanah di Aceh. Program yang disiapkan mencakup pembinaan atlet usia dini, peningkatan jumlah kompetisi, hingga penyediaan sarana latihan.
Target tersebut memiliki pijakan prestasi yang kuat. Berkuda memanah Indonesia baru saja menorehkan hasil positif dalam IHAA Asian Greater Championship 2026 di Moskow, Rusia, pada 25-27 September 2026. Kontingen Indonesia meraih tujuh medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu.
Dengan waktu sekitar dua tahun menuju PON XXII/2028, agenda seleksi dan babak kualifikasi menjadi perhatian utama. Pengurus pusat FN Pordasi mengingatkan tiga Pengprov Aceh agar segera mempersiapkan atlet dan program kompetisi.
“Dua tahun menuju penyelenggaraan PON XXII/2028 NTT-NTB bukanlah waktu yang panjang. Seleksi PON dan babak kualifikasi PON harus menjadi prioritas,” tegas Sekretaris Jenderal FN Pordasi Pacu Pusat.
Penguatan organisasi tersebut merupakan bagian dari transformasi FN Pordasi. Pada 2024, organisasi olahraga berkuda itu melakukan transformasi menjadi empat federasi nasional, yakni FN Pordasi Pacu, FN Pordasi Equestrian, FN Pordasi Polo, dan FN Pordasi Berkuda Memanah.
Transformasi tersebut diarahkan untuk membuat pembinaan lebih fokus sesuai disiplin olahraga dan federasi internasional masing-masing.
Di Aceh, optimalisasi venue PON XXI/2024 diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem berkuda secara berkelanjutan.
Dengan dukungan fasilitas, kompetisi, pembinaan, serta tata kelola yang baik, olahraga berkuda Aceh diharapkan tidak hanya melahirkan atlet menuju PON, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari sport tourism dan sport industry daerah. (09/AGF).











