Teknologi Kecerdasan Buatan: China Hidupkan Lagi Orang Mati Melalui Audio Visual Berdurasi 30 Detik

SUDUTPANDANG.ID – Perusahaan-perusahaan di China berlomba menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dengan teknologi AI (artificial intelligence) alias kecerdasan buatan.

Melansir South China Morning Post (SCMP) melalui indozone, penciptaan orang-orang yang sudah meninggal ini hanya mengandalkan materi audio visual berdurasi 30 detik dari almarhum.

“Dalam hal teknologi AI, China berada di kelas tertinggi di dunia. Dan ada begitu banyak orang di China, banyak di antaranya yang memiliki kebutuhan emosional, sehingga memberi kami keuntungan dalam hal permintaan pasar,” kata Pendiri Perusahaan AI Super Brain, Zhang Zewei, Rabu (20/12/2023).

Dikatakan, teknologi ini akan menghadirkan humanisme jenis baru.

Zang yang juga pendiri Silicon Intelligence yang berbasis di Nanjing Sima Huapeng menambahkan, dengan potret dan fotografi, yang membantu orang memperingati orang mati dengan cara yang revolusioner.

BACA JUGA  Ini Dia Komodo yang Akan Diekspor ke Afrika dan Asia

Namun seorang peneliti dari Pusat Kematian dan Masyarakat di Universitas Bath, Inggris, Tal Morse mengungkapkan, pihaknya khawatir dengan keberadaan bot hantu ini.

Sebab, dibalik kenyamanan yang diberikan untuk orang yang ditinggalkan, bot hantu ditakutkan akan mencemari ingatan orang yang ditinggalkan terhadap sifat dan sikap asli dari orang yang sudah meninggal.

“Pertanyaan kuncinya di sini adalah, seberapa setia bot hantu terhadap kepribadian yang dirancang untuk mereka tiru. Apa yang terjadi jika mereka melakukan hal-hal yang akan mencemari ingatan orang yang seharusnya mereka wakili?” kata Morse.

“Pertanyaan kuncinya di sini adalah, seberapa setia bot hantu terhadap kepribadian yang dirancang untuk mereka tiru. Apa yang terjadi jika mereka melakukan hal-hal yang akan mencemari ingatan orang yang seharusnya mereka wakili?” kata Morse.

BACA JUGA  Komdigi Gercep! Bongkar Grup 'Fantasi Sedarah', Meta Diultimatum Tutup Akses

Menurut Zang semua teknologi baru adalah pedang bermata dua.”Selama kami membantu mereka yang membutuhkan, saya tidak melihat ada masalah,” ungkap Zhang.

Sumber: south china morning post/indozone