“Ini bukan hanya soal makanan. Ini tentang rasa kemanusiaan, bahwa kita saling melihat, saling mendengar.”
JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Di tengah gelombang demonstrasi nasional yang menyita perhatian publik, ribuan warganet dari Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Korea Selatan dan Inggris bersatu dalam gerakan solidaritas digital. Dengan satu klik di aplikasi ojek daring, mereka mengirimkan makanan dan minuman untuk para pengemudi ojol di Indonesia bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai saudara yang ingin menyampaikan: kalian tidak sendirian.
Dengan satu klik di aplikasi ojek daring, mereka memesan makanan dan minuman untuk para pengemudi ojol di Indonesia bukan sebagai pelanggan, melainkan sebagai saudara yang ingin menyampaikan: kalian tidak sendirian.
Gerakan ini bermula dari inisiatif spontan warganet Thailand dengan akun X (dulu Twitter) bernama @sighyam. Dalam unggahannya, ia mengajak rekan-rekannya untuk memanfaatkan fitur pengubahan lokasi di aplikasi Grab, guna mengirimkan makanan kepada para driver ojol di Indonesia yang tengah berjibaku dalam situasi yang tidak mudah.
Ajakan tersebut viral, menyebar cepat ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Singapura. Salah satu pelopor dari Malaysia, pengguna @izwanhs, membagikan bukti pesanan makanannya di media sosial, lengkap dengan catatan yang ditujukan kepada pengemudi: “Terima kasih telah berjuang. Ini untukmu.”
Dalam waktu singkat, gerakan ini menjelma menjadi gelombang empati lintas batas negara. Warganet dari Korea Selatan dan Inggris juga turut bergabung, menunjukkan bahwa kebaikan benar-benar tidak mengenal jarak maupun bahasa.
“Saya hanya ingin mereka tahu, bahwa di luar sana ada yang peduli,” tulis @izwanhs, pengguna asal Malaysia yang menjadi salah satu pelopor gerakan ini.
Dari Aksi Kecil Menjadi Gelombang Solidaritas
Tidak lama setelah viral, gerakan ini menjadi fenomena. Banyak pengemudi ojol melaporkan menerima pesanan “tak bertuan” dengan pesan yang menghangatkan hati: “Ini untukmu. Terima kasih sudah berjuang.”
Beberapa di antara mereka bahkan menangis ketika mengetahui makanan yang mereka terima berasal dari negara lain. Dalam unggahan di media sosial, terlihat wajah-wajah lelah yang berubah menjadi senyum haru saat membuka kotak makanan dan membaca pesan penyemangat.
Sebagian pesanan juga diarahkan ke titik-titik kumpul komunitas ojol atau dikirim ke lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membantu distribusi. Tak hanya makanan, bantuan yang dikirim meliputi obat-obatan, air mineral, hingga kebutuhan pokok.
“Ini bukan hanya soal makanan. Ini tentang rasa kemanusiaan, bahwa kita saling melihat, saling mendengar,” ujar Laila, relawan LSM di Jakarta yang turut membantu distribusi.
Mengisi Kekosongan dengan Cinta
Aksi solidaritas ini muncul di tengah krisis yang sedang berlangsung. Sejak 25 Agustus 2025, ribuan orang turun ke jalan dalam gerakan yang disebut “Revolusi Rakyat Indonesia”. Demonstrasi menolak kenaikan tunjangan anggota DPR yang melonjak drastis di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit.
Namun, situasi memburuk ketika Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol, meninggal dunia dalam bentrokan saat aksi. Peristiwa tragis ini memicu gelombang solidaritas yang lebih besar bukan hanya di Indonesia, tetapi juga menyentuh hati masyarakat internasional.
Kematian Affan menjadi simbol penderitaan pekerja informal yang tak hanya berjuang di jalan, tetapi juga dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak. Dari sinilah, banyak orang mulai bertanya: apa yang bisa saya lakukan, meski dari jauh?
Kekuatan Kecil yang Menggerakkan Dunia
Terkadang, aksi kemanusiaan tidak membutuhkan megafon, hanya niat tulus. Gerakan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara, agama, atau bahasa.
“Kami di Singapura mungkin tidak bisa ikut turun ke jalan. Tapi kami bisa kirimkan semangat lewat makanan. Mungkin itu sederhana, tapi kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian,” ujar pengguna Instagram asal Singapura.
Media sosial dibanjiri dengan ucapan terima kasih dari warganet Indonesia. Banyak yang mengaku terharu dan bangga atas perhatian yang ditunjukkan oleh sesama warga Asia. Komentar-komentar seperti “Terima kasih, saudara serumpun” atau “Kalian luar biasa” menghiasi unggahan tentang gerakan ini.
Kepedulian Menyatukan Kita
Di tengah dunia yang sering kali terbelah oleh kepentingan, kekuasaan, dan batas geopolitik, gerakan kecil ini membuktikan bahwa kepedulian adalah bahasa universal. Bahwa di balik layar ponsel, ada tangan-tangan tak terlihat yang menjangkau, menguatkan, dan menyembuhkan.
Ketika makanan menjadi simbol cinta, kita belajar bahwa bantuan tak selalu harus besar. Cukup satu pesanan nasi kotak, satu kalimat penyemangat, satu klik dari seberang lautan dan itu bisa mengubah hari seseorang.
Karena kadang, harapan tidak datang dalam bentuk besar. Ia datang dalam bentuk paling sederhana: sebungkus makanan dan pesan yang berkata, “Kami bersamamu.”(01)


