“Alhamdulillah meski kami berada di Kabupaten Sambas, tapi semangat kami untuk mencerdaskan anak bangsa tetap jadi prioritas. Semoga terus terlahir generasi emas di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat.”
SAMBAS, SUDUTPANDANG.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. SMP Negeri 2 Sambas berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah menempati peringkat kedelapan atau masuk 10 besar peserta Puisi Etnik Pelajar Nusantara tingkat ASEAN.
Siaran pers SMP Negeri 2 Sambas, Kamis (15/1/2026), menyebutkan ajang tersebut diselenggarakan oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur (Perruas) pada Desember 2025 lalu.
Penghargaan diraih berkat keikutsertaan 16 siswa SMP Negeri 2 Sambas dalam program pelatihan dan penulisan Puisi Etnik Nusantara Pelajar ASEAN.
Kepala SMP Negeri 2 Sambas, Urai Sumadi, S.Pd., mengungkapkan, para siswa mengikuti rangkaian pelatihan dan bimbingan menulis sejak Maret hingga akhir Agustus 2025 di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia, Riski Puspita Sari. Riski juga berpartisipasi sebagai Penulis Puisi Etnik Nusantara 2025.
“Awalnya, sebanyak 18 siswa mengikuti program tersebut. Namun, setelah melalui proses kurasi, alhamdulilah 16 karya puisi dinyatakan lolos dan dibukukan dalam Antologi Puisi Etnik Nusantara Pelajar ASEAN,” ujar Urai Sumadi.
Secara keseluruhan, lanjutnya, peserta yang lolos kurasi berjumlah lebih dari 1.500 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Sebagai bentuk apresiasi, pada Oktober 2025 panitia Perruas mengundang guru pembimbing SMP Negeri 2 Sambas untuk menghadiri Festival Puisi Etnik Nusantara.
Dalam acara itu juga sekaligus peluncuran Antologi Puisi Etnik Nusantara dan Antologi Puisi Etnik Nusantara Pelajar ASEAN yang tercatat dalam rekor MURI
“Kegiatan tersebut digelar di Provinsi Jambi pada 20 sampai salah dengan 21 Desember 2025,” terang guru yang dikenal humanis itu.
Urai Sumadi, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras siswa dan guru, sementara perannya sebatas sebagai fasilitator dan motivator.
“Tugas saya hanya memfasilitasi dan memotivasi. Alhamdulillah, meskipun rata-rata baru berusia sekitar 14 tahun, siswa kami sudah mampu menghasilkan karya berupa buku yang memiliki ISBN,” ucapnya.
Terbitkan Buku Antologi

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya SMPN 2 Sambas juga telah berhasil menerbitkan buku antologi karya siswa.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa literasi dan kreativitas pelajar daerah mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional, apabila diberikan ruang, pendampingan, dan kepercayaan.
Ia berharap keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk terus mendorong budaya literasi serta pengembangan potensi siswa sejak usia dini.
“Alhamdulillah meski kami berada di Kabupaten Sambas, tapi semangat kami untuk mencerdaskan anak bangsa tetap jadi prioritas. Semoga terus terlahir generasi emas di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat,” pungkasnya.(PR/01)









