“Hingga November 2025, arus petikemas Pelindo Group tercatat mencapai 17,95 juta TEUs atau tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan dan mendekati target RKAP 2025. Kontribusi terbesar berasal dari SPTP Group dengan porsi sekitar 68 persen.”
JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) memaparkan arah strategi perusahaan dalam menekan ongkos logistik nasional melalui penguatan efisiensi layanan, peningkatan kapasitas terminal, serta transformasi operasional dan digitalisasi. Paparan tersebut disampaikan dalam kegiatan Media Gathering & Lunch Talk yang digelar Forum Wartawan Maritim Indonesia (Forwami) di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Ketua Forwami Hoddy Sitanggang menyatakan kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis antara media dan manajemen pelabuhan untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran terminal petikemas dalam sistem logistik nasional.
“Forum ini kami harapkan dapat memperkuat komunikasi yang terbuka dan konstruktif, sekaligus memberikan gambaran utuh kepada wartawan mengenai transformasi dan kontribusi strategis SPTP dalam mendukung ekosistem logistik nasional,” ujar Hoddy dalam sambutannya.
Corporate Secretary SPTP Widyaswendra mengapresiasi inisiatif Forwami dan dukungan pemberitaan media yang dinilai berperan penting dalam mendorong efisiensi logistik nasional.
“Kami berterima kasih atas peran Forwami dalam menyampaikan informasi yang konstruktif terkait upaya peningkatan efisiensi logistik, sejalan dengan mandat dan tanggung jawab SPTP,” kata Widyaswendra.
Sebagai pengelola terminal petikemas nasional, SPTP menegaskan komitmennya mendukung kebijakan pemerintah dalam menurunkan ongkos logistik melalui peningkatan efisiensi layanan kepelabuhanan, terutama di kawasan Indonesia Timur.
Widyaswendra menyoroti ketidakseimbangan muatan sebagai salah satu persoalan mendasar logistik nasional. Arus barang dari Indonesia Barat ke Timur umumnya terisi penuh, sementara pada jalur sebaliknya tingkat keterisian hanya sekitar 30 persen.
“Ketimpangan ini berdampak langsung terhadap tingginya ongkos logistik. Jika tingkat keterisian muatan meningkat, biaya logistik akan turun secara alami,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat tiga faktor kunci yang perlu terus diperkuat untuk menurunkan ongkos logistik di wilayah Indonesia Timur, yakni peningkatan konsumsi masyarakat melalui aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekspor-impor, serta masuknya investasi yang berkelanjutan.
Optimalisasi Terminal Dorong Produktivitas
SPTP secara konsisten melakukan berbagai langkah konkret guna mendukung target pemerintah menurunkan ongkos logistik nasional menjadi 8 persen. Salah satu contoh kinerja positif terlihat pada Terminal Petikemas Semarang yang diproyeksikan mencatat throughput 1 juta TEUs pada akhir 2025.
Pencapaian tersebut merupakan hasil dari penguatan kapasitas terminal secara menyeluruh, mulai dari peningkatan infrastruktur, modernisasi peralatan, pengembangan sistem operasi, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM).
“Langkah antisipatif ini terbukti efektif ketika Jawa Tengah menjadi salah satu tujuan utama investasi yang membutuhkan dukungan pelabuhan yang andal untuk kegiatan ekspor dan impor,” kata Widyaswendra.
Di tengah tantangan global berupa perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian geopolitik, sektor petikemas Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan sekitar 3 persen, sementara volume petikemas nasional masih tumbuh sekitar 5 persen.
Menjawab tantangan tersebut, SPTP melakukan transformasi operasional di 32 terminal petikemas serta digitalisasi dan sistemisasi di 15 terminal. Transformasi ini didukung penguatan people, process, dan technology, termasuk penerapan model perencanaan dan pengendalian operasi.
Hasilnya, kinerja terminal meningkat, kualitas layanan membaik, serta waktu sandar kapal menjadi lebih efisien. Selain itu, SPTP merencanakan elektrifikasi 73 unit peralatan utama dan pendukung sebagai bagian dari upaya efisiensi energi dan pengurangan emisi.
Ekspansi Rute dan Penguatan Konektivitas
Untuk memperkuat konektivitas logistik nasional dan internasional, SPTP telah membuka 37 rute pelayaran baru, baik domestik maupun internasional. Perusahaan juga memperluas kemitraan strategis, termasuk kerja sama investasi dan operasional Belawan New Container Terminal.
“Pelabuhan tidak lagi sekadar titik bongkar muat, tetapi harus berfungsi sebagai gateway ekspor-impor dan pusat transshipment internasional,” ujar M. Adji dalam sesi pemaparan.
Strategi tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional untuk menurunkan biaya logistik hingga 8 persen terhadap produk domestik bruto pada 2045 serta meningkatkan kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian nasional.
Hingga November 2025, arus petikemas Pelindo Group tercatat mencapai 17,95 juta TEUs atau tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan dan mendekati target RKAP 2025. Kontribusi terbesar berasal dari SPTP Group dengan porsi sekitar 68 persen.
Arus petikemas domestik masih mendominasi dengan porsi sekitar 67 persen, mencerminkan kuatnya pergerakan logistik antarpulau. Sementara itu, arus petikemas internasional juga menunjukkan tren pertumbuhan positif sebagai indikator meningkatnya daya saing pelabuhan nasional.
Roadmap Infrastruktur dan Peralatan
Untuk mengantisipasi pertumbuhan jangka menengah dan panjang, SPTP menyusun roadmap pengembangan peralatan petikemas periode 2026–2030, termasuk pengadaan dan optimalisasi quay container crane dan rubber tyred gantry di sejumlah terminal strategis.
Di sisi infrastruktur, berbagai proyek pengembangan dijalankan, antara lain perluasan dan konversi dermaga di Tanjung Emas, pengembangan kawasan Tanjung Perak, serta pembangunan dan rekonfigurasi terminal di Indonesia Timur guna memastikan kesiapan kapasitas terminal.
SPTP menilai pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya ditopang konsumsi domestik, tetapi juga program hilirisasi komoditas di kawasan timur Indonesia yang mulai menunjukkan hasil. Dampaknya, arus petikemas di wilayah tersebut mengalami peningkatan signifikan.
Menjawab peluang tersebut, SPTP menyatakan kesiapan mengelola hub port sebagai bagian dari cita-cita nasional menjadikan Indonesia pusat logistik maritim dunia, didukung letak geografis yang strategis serta pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik.
“Standarisasi layanan dan pengoperasian peralatan bongkar muat berkapasitas besar terus kami dorong agar terminal petikemas nasional mampu bersaing dengan pelabuhan modern dunia,” pungkas Widyaswendra.(01)


