Opini  

Komunitas Hipnotis Indonesia Merambah Dunia

Komunitas Hipnotis Indonesia
Foto: Dok. PKHI

“Ekspansi PKHI menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan kesehatan mental berbasis hipnoterapi hingga ke komunitas diaspora Indonesia di berbagai negara.”

Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Senior dan Kolumnis

Minat masyarakat untuk mempelajari ilmu hipnotis bagi keperluan hipnoterapi di Indonesia terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, peminatnya juga datang dari kalangan perantau Indonesia di luar negeri.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (DPP PKHI), Avifi Arka, mengungkapkan bahwa tingginya minat menjadi ahli hipnoterapi belum sebanding dengan jumlah penderita gangguan yang berakar pada persoalan kejiwaan.

Sekretaris Jenderal PKHI, A. Fauzan Asmara, dalam keterangan pers, Selasa (28/4/2026), menyebutkan bahwa selama 12 tahun berdiri, jumlah anggota PKHI terus bertambah dan kini mencapai sekitar 16.000 praktisi hipnoterapi.

Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan sebagian berada di luar negeri. Keahlian hipnoterapi juga dipelajari serta dipraktikkan oleh warga Indonesia di sejumlah negara, antara lain Jepang, Australia, Inggris, Arab Saudi, Malaysia, dan Timor Leste.

Dalam agenda Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Surabaya pada 25-26 April 2026, PKHI turut melantik Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Luar Negeri (DPD/DPLN) di sejumlah wilayah baru, termasuk Jepang, Australia, Inggris, Arab Saudi, Malaysia, Timor Leste, serta beberapa provinsi di Indonesia.

BACA JUGA  Pembunuhan Wartawan di Sumut

Ketua Pelaksana Silatnas PKHI, Donny, menyatakan bahwa ekspansi organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan kesehatan mental berbasis hipnoterapi hingga ke komunitas diaspora Indonesia di berbagai negara.

Pemahaman masyarakat mengenai hipnotis untuk kepentingan hipnoterapi juga dinilai semakin berkembang. Hipnotis dalam konteks ini berbeda dengan praktik kejahatan jalanan yang memanfaatkan sugesti untuk memperdaya korban.

Hipnoterapi dipahami sebagai metode terapi melalui proses hipnosis dengan tujuan membantu mengurai persoalan psikologis yang tersimpan di alam bawah sadar.

Dalam praktiknya, proses terapi dilakukan dengan menganalisis persoalan kejiwaan yang menjadi akar masalah seseorang melalui pendekatan hipnoterapi.

Metode tersebut sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia psikologi. Tokoh psikoanalisis Sigmund Freud pernah membahas hipnosis dan metode penyembuhan melalui hipnosis dalam karya berjudul The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud.

Karena itu, hipnoterapi kini dipandang sebagai pendekatan yang dapat dijelaskan secara ilmiah dan semakin populer dalam kajian psikologi modern.

BACA JUGA  Bersama Satu Kata dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Avifi Arka mengatakan, aktivitasnya saat ini tidak hanya berfokus pada pendidikan dan pengembangan hipnoterapi, tetapi juga melayani kebutuhan wawancara akademik mahasiswa psikologi tingkat magister dan doktor dari berbagai universitas.

Selain itu, PKHI juga terus melakukan pembinaan anggota serta menyiapkan penyelenggaraan uji kompetensi bagi praktisi hipnoterapi.

Menurut Avifi, PKHI merupakan organisasi profesi mitra Kementerian Kesehatan di bidang hipnosis. Anggotanya berasal dari alumni lembaga kursus pelatihan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta lembaga pelatihan kerja di bawah Kementerian Ketenagakerjaan.

Ia menambahkan, melalui Indonesian Hypnosis Centre (IHC), PKHI juga menjalin kerja sama pendidikan, pelatihan, dan penelitian dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan Transpersonal Clinical Hypnotherapy di Indonesia.

Silatnas PKHI di Surabaya turut diisi seminar yang menghadirkan pembicara Kwartarini Wahyu Yuniarti dari Fakultas Psikologi UGM dan Pukovisa Prawiroharjo dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).

Fauzan Asmara menjelaskan, kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 praktisi hipnosis dan ahli hipnoterapi dari Indonesia maupun luar negeri. Sebagian peserta lainnya mengikuti secara daring.

Dalam kegiatan itu turut hadir Tri Rismaharini yang juga dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia.

BACA JUGA  AHY Dukung Anies-Khofifah, Siap Deklarasi dan Siap Menang

Menurut Avifi, selama menjabat Menteri Sosial periode 2020-2024, Risma dinilai memiliki perhatian terhadap persoalan kesehatan mental masyarakat.

Risma mengungkapkan, banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan psikologis selain bantuan kebutuhan dasar.

Ia menilai persoalan seperti kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran anak, hingga trauma akibat bencana sering kali berkaitan dengan luka psikologis yang tidak tertangani.

Karena itu, Risma mendorong praktisi PKHI agar tidak hanya bergerak di kalangan perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan kesehatan mental konvensional.(*)

*Penulis Mohammad Nasir adalah wartawan senior yang lama berkarier di Harian Kompas dan Kolumnis