Seminar Unpad Ungkap Naskah Sunda Kuno tentang Pencegahan Stunting

Seminar Unpad Ungkap Naskah Sunda Kuno tentang Pencegahan Stunting
Budayawan Sunda yang juga Ketua Umum Majelis Adat Sunda Abah Anton Charliyan. (Foto: Dok. Pribadi)

SUMEDANG, SUDUTPANDANG.ID – Seminar Nasional bertajuk “Anti Stunting dalam Naskah Sunda Kuno” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran (Unpad) mengungkap bahwa sejumlah manuskrip kuno Nusantara memuat pengetahuan terkait upaya pencegahan stunting melalui perawatan kesehatan ibu dan anak.

Keterangan tertulis Rabu (27/5/2026), menyebutkan bahwa kegiatan yang berlangsung di Jatinangor, Sumedang, Sabtu (24/5/2026), menghadirkan akademisi dan budayawan yang membahas keterkaitan kearifan lokal dengan isu kesehatan masyarakat modern.

Budayawan Sunda sekaligus Ketua Umum Majelis Adat Sunda Anton Charliyan mengatakan, naskah-naskah kuno menunjukkan adanya perhatian masyarakat Nusantara terhadap kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak sejak masa lampau.

Menurut Anton, salah satu naskah Sunda kuno Sanghyang Titisjati Pralina memuat panduan mengenai perawatan ibu hamil sejak awal kehamilan hingga proses tumbuh kembang bayi.

BACA JUGA  Museum Purna Bhakti Selenggarakan Seminar Serangan Oemoem 1 Maret 1949

“Ini menunjukkan bahwa para leluhur kita telah memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak sebagai dasar generasi yang berkualitas,” ujar budayawan yang akrab disapa Abah Anton.

Selain naskah Sunda, seminar juga menyoroti manuskrip dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki muatan serupa. Dalam naskah Lagaligo dari Bugis, misalnya, disebutkan pentingnya konsumsi ikan bagi ibu hamil dan balita untuk mendukung pertumbuhan anak.

Di Bali, terdapat Lontar Usada Taru Pramana yang memuat pengetahuan mengenai tanaman obat tradisional. Sementara di Jawa, serat Centhini dan naskah Merapi-Merbabu berisi ramuan herbal, pijat tradisional, hingga teknik pernapasan dan kebugaran.

Abah Anton menilai, beragam manuskrip tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal pendekatan kesehatan yang memadukan aspek medis tradisional, budaya, dan spiritual.

BACA JUGA  Cut Meyriska dan Roger Danuarta Klarifikasi Isu Rumah Tangga

“Ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dalam mendukung program kesehatan nasional, termasuk percepatan penurunan angka stunting,” katanya.

Seminar yang didukung Dana Indonesiana LPDP itu juga menghadirkan sejumlah akademisi, di antaranya Prof Nurhayati R, Dr Elis Nurhayati Suryani, Dr Undang Ahmad Darsa, dan Dr Wina Erwina.

Para peserta seminar sepakat bahwa manuskrip kuno tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang relevan untuk dikaji dalam konteks pembangunan kesehatan masyarakat saat ini.

Abah Anton berharap generasi muda semakin tertarik mempelajari manuskrip Nusantara yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia maupun Museum Sri Baduga sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya bangsa.(PR/01)