Usai Halaqoh PTNU di Muktamar, Penasihat Menteri Wakaf Suriah Syaikh Mu’taz Kunjungi Tapteng-Sumut

Syaikh Suriah
Penasihat Menteri Wakaf Suriah, Prof Dr As Syaikh Mu'taz As Subayni Ad Dimasqi (dua dari kiri) saat didampingi KH Abdul Latif Malik, Lc, M.Pd yang akrab disapa Gus Latif (empat dari kiri) dan Dr Ifan Haryanto, M.Sc (tiga dari kiri) saat mengunjungi Situs Bersejarah penyebar Islam pertama di Indonesia Syeikh MahMud di Barus, kawasan Pantai Barat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (5/8/2026). FOTO: HO-Ifan Har

BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Penasihat Menteri Wakaf Suriah, Prof Dr As Syaikh Mu’taz As Subayni Ad Dimasqi, usai menghadiri Halaqoh Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (NU) yang secara pararel digelar dengan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren (Ponpes) Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, saat ini mengunjungi Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) di Pantai Barat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

“Bersama Ketua Panitia Halaqoh, KH Abdul Latif Malik, Lc, M.Pd yang akrab disapa Gus Latif, saya sedang mendampingi Syeikh Mu’taz ke lokasi sejarah penyebar Islam pertama di Indonesia Syeikh MahMud di Barus, di Pantai Barat Sumut, Tapanuli Tengah,” kata Sekretaris Panitia Halaqoh Dr Ifan Haryanto, M.Sc dari Tapteng saat dihubungi sudutandang.id dari Bogor, Jawa Barat, Ahad (6/8/2026).

“Beliau (Syeikh Mahmud di Barus) menyebarkan Islam dari abad ke-7 dari wilayah Sumatera,” tambahnya.

Sebelumnya, Prof Dr As Syaikh Mu’taz As Subayni Ad Dimasqi menjadi satu-satunya narasumber dari mancanegara pada “Halaqoh Pendidikan Tinggi NU: Peran Alumni & PCINU Internasional Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi & Pengembangan Ekosistem Industri Halal di Indonesia” yang digagas Forum Silaturahmi Pengurus Cabang Istimewa Nadhlatul Ulama (PCI NU) Internasional di Ponpes Al-Muhajirin 3, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada 28-29 Agustus 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun sudutpandang.id dari beragam sumber, Prof Dr As-Syaikh Mu’taz As-Subayni Ad-Dimasqi — atau sering ditulis juga Syekh Mu’taz Al-Subaini — adalah seorang ulama besar, pakar sanad (al-musnid), ahli hadis, sejarawan, dan akademisi terkemuka asal Suriah.

BACA JUGA  Polres Pasuruan Gelar Upacara Hari Pahlawan 2025, Kobarkan Semangat Melanjutkan Perjuangan

Ia dikenal memiliki hubungan keilmuan yang sangat erat dengan Indonesia melalui jaringan transmisi keilmuan tradisional Islam.

Syaikh Mu’taz digelari sebagai As-Syaikh Al-Musnid Al-Kabir karena merupakan salah satu pemegang rantai transmisi sanad hadis dan kitab-kitab klasik yang sangat dihormati di wilayah Syam (Suriah) dan dunia Islam dan dikenal sebagai murid utama Syekh Yasin Al-Fadani.

Kedekatannya dengan Indonesia salah satunya berakar dari gurunya, yakni Syekh Yasin Al-Fadani, ulama legendaris asal Padang, Sumatera Barat, yang menetap di Makkah dan dijuluki sebagai Musnid ad-Dunya (pakar sanad dunia).

Syaikh Mu’taz juga dikenal sebagai “Guru Para Mahasiswa Indonesia” dan telah mengajar selama hampir 35 tahun di Suriah. Ia menjadi guru, pembimbing, dan pemberi ijazah sanad bagi ratusan mahasiswa, santri, serta tokoh Muslim asal Indonesia yang menimba ilmu di Damaskus.

Syaikh Mu’taz aktif memperkuat hubungan diplomasi keagamaan dan pendidikan antara Suriah dan Indonesia. Beberapa momen penting keterlibatan beliau meliputi: Pembimbing PCI NU Suriah, yakni sejak lama mendampingi para kader NU yang belajar di Suriah, termasuk memimpin pembacaan sanad kitab-kitab penting, seperti “Arbain Nawawiyyah” dalam forum-forum ilmiah.

Pada Agustus 2025, Syaikh melakukan kunjungan resmi ke Indonesia dan diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU — saat itu — KH Yahya Cholil Staquf. Kunjungan ini bertujuan untuk menyambung kembali dan memperkuat rantai sanad keilmuan antara ulama Nusantara dan ulama Syam.

Selama berada di Indonesia, Syaikh mengisi berbagai kajian hadis, memberikan ijazah sanad massal di beberapa ponpes, seperti Ponpes Daarul Haliim di Bandung Barat), serta berziarah ke kampung halaman gurunya di Padang.

BACA JUGA  Haedar Nashir Kembali Pimpin Muhamadiyah

Sementara itu Gus Latif, yang saat itu masih menjabat Katib Syuriah PBNU, adalah juga Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin 3, Bahrul Ulum, Tambakberas, serta salah satu dzuriyah (keturunan) dari keluarga besar Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang tersambung sanad keturunan dan perjuangannya dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, yang karib disebut “Mbah Wahab”, pahlawan nasional sekaligus pendiri utama NU.

Gus Latif dalam aktivisme dan kepemimpinan adalah pionir di PCINU Suriah dan merupakan salah satu tokoh kunci dalam jajaran kepengurusan, dan tercatat pernah mengemban amanah penting dalam memperkuat jaringan kerja sama antar-PCI luar negeri.

Latar belakang akademiknya, yakni menyelesaikan pendidikan formal hingga meraih gelar Lc. studi sarjananya (S1) di Kulliyatuddakwah (Fakultas Dakwah) Universitas Syeikh Ahmad Kuftaro, Damaskus. Kampus ini didirikan oleh mantan Mufti Agung Suriah, Syeikh Ahmad Kuftaro, yang terkenal menggabungkan kedalaman ilmu syariat tradisional pesantren (turats) dengan metodologi dakwah kontemporer yang moderat.

Lalu, studi Magister Pendidikan (M.Pd) lulus dari Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Jombang.

Rekam jejak Gus Latif selama menempuh studi dan beraktivitas di Suriah berpusat pada perpaduan antara pencarian ilmu (talabul ilmi) di lembaga formal keagamaan serta kepemimpinan organisasi santri.

Sedangkan Ifan Haryanto, salah satu cendekiawan muda NU ini lulus pendidikan S1 Jurusan Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung (UTB) pada tahun 1999, kemudian melanjutkan S2 di University of Birmingham, Inggris pada tahun 2002. Ketika studi S2 di Inggris itu, ia menjabat Sekretaris Tanfidyah PCI-NU Inggris Raya.

BACA JUGA  Menanti Kedatangan Djoko Tjandra di Bandara Halim Perdanakusuma

Selain itu Ifan meraih gelar doktor (S3) di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB pada tahun 2012.

Saat ini, Ifan berkarir sebagai CEO salah satu perusahaan konsultan rekayasa teknik, ia juga menjabat Bendahara Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana NU (ISNU) serta Direktur Pusat Studi Indonesia tentang Masalah Perkotaan dan Daerah (Indonesian Center for Urban and Regional Studies/ICURS), dan Bendahara Pengurus Pusat LP Maarif PBNU.

Selain itu, Irfan juga tercatat sebagai staf pengajar tetap di Fakultas Pascasarjana Universitas Budiluhur serta aktif sebagai peneliti dan “advisor” pada beberapa lembaga pemerintah pada berbagai proyek/program perencanaan wilayah/kota/kawasan di Indonesia.

Ia juga pernah menjabat Sekretaris Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) masa bakti 2012-2017, yang saat itu dipimpin Muhammad Jusuf Kalla. (red/02)