Gelombang PHK Industri Teknologi Berlanjut, Investasi AI Kian Masif

Avatar photo
Gelombang PHK Media
ilustrasi

“Berdasarkan data TrueUp, jumlah pekerja yang terdampak gelombang PHK di sektor teknologi diperkirakan melampaui 100.000 orang hingga akhir tahun.”

SUDUTPANDANG.ID – Industri teknologi global masih menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang 2026. Sejumlah perusahaan teknologi besar melakukan pengurangan tenaga kerja di tengah peningkatan investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Berdasarkan data yang dilansir Sudutpandang.id dari TrueUp, jumlah pekerja yang terdampak gelombang PHK di sektor teknologi diperkirakan melampaui 100.000 orang hingga akhir tahun.

Proyeksi tersebut bahkan berpotensi meningkat hingga 370.000 pekerja apabila tren pengurangan tenaga kerja terus berlanjut.

Pada Mei 2026, sejumlah perusahaan teknologi seperti Meta, Cisco, Intuit, dan PayPal mengumumkan langkah restrukturisasi yang diikuti pengurangan jumlah karyawan.

Meta dilaporkan memberhentikan sekitar 8.000 karyawan sebagai bagian dari transformasi bisnis yang berfokus pada pengembangan AI

BACA JUGA  Sejumlah Aparat Pasuruan Gelar Operasi Ketupat Semeru 2024

Selain itu, perusahaan disebut tengah mempertimbangkan penyesuaian peran bagi sekitar 7.000 karyawan untuk mendukung pengembangan dan implementasi teknologi AI.

Langkah tersebut sejalan dengan rencana investasi Meta yang dikabarkan mencapai lebih dari 100 miliar dollar AS pada 2026 untuk pembangunan pusat data AI dan infrastruktur pendukung lainnya.

PayPal juga mengumumkan rencana pengurangan sekitar 20 persen tenaga kerjanya dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Jumlah gelombang PHK tersebut setara dengan sekitar 4.760 pekerja berdasarkan jumlah karyawan saat ini.

Sementara itu, Cisco memangkas sekitar 4.000 karyawan. CEO Cisco Chuck Robbins mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat investasi perusahaan pada infrastruktur AI.

Intuit juga melakukan pengurangan sekitar 3.000 karyawan atau sekitar 17 persen dari total tenaga kerja globalnya. Perusahaan menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi organisasi.

BACA JUGA  Setop Jadi Budak Algoritma: Selamatkan Otak GenZ Sekarang

Restrukturisasi dan Adopsi AI

Penyebab gelombang PHK di sejumlah perusahaan teknologi juga terkait penyesuaian setelah perekrutan besar-besaran selama pandemi Covid-19.

Saat itu, permintaan terhadap layanan digital meningkat sehingga banyak perusahaan menambah jumlah tenaga kerja.

Ketika pertumbuhan bisnis mulai melambat, sejumlah perusahaan melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menyesuaikan kebutuhan bisnis.

Di sisi lain, penggunaan AI generatif semakin meluas dalam berbagai aktivitas bisnis, termasuk untuk membantu pekerjaan di bidang pemrograman, analisis data, pembuatan konten, hingga layanan pelanggan.

Perusahaan-perusahaan teknologi juga terus meningkatkan investasi pada pengembangan AI guna memperkuat daya saing dan produktivitas.

Proyeksi Industri Teknologi

Data TrueUp menunjukkan bahwa jika proyeksi PHK mencapai 370.000 pekerja hingga akhir 2026, angka tersebut akan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Meski masih berada di bawah jumlah PHK sektor teknologi pada 2023 yang mencapai sekitar 430.000 pekerja.

BACA JUGA  Cara Daftar SatuSehat, Aplikasi Pengganti PeduliLindungi

Seiring berkembangnya penggunaan AI di berbagai sektor, kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keahlian di bidang pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan teknologi AI juga terus meningkat.

Perkembangan tersebut menunjukkan transformasi industri teknologi global masih berlangsung, bersamaan dengan perubahan kebutuhan bisnis dan percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan.(red)