JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi kebencanaan nasional selama periode Kamis (23/7/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (24/7/2026) pukul 07.00 WIB.
Dalam laporan tersebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang paling dominan seiring meningkatnya intensitas musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan data Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, kejadian karhutla tercatat di beberapa provinsi, di antaranya Papua Barat Daya, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Meski sebagian besar kebakaran telah berhasil dipadamkan, BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi kering, termasuk kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Kepala pusat pengendalian operasi BNPB mencatat bahwa kondisi cuaca panas, rendahnya curah hujan, serta angin kencang menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api di sejumlah lokasi.
Oleh karena itu, upaya pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
Laporan pertama berasal dari Kota Sorong, Papua Barat Daya. Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Gunung Kali Ampat pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 12.30 WIT.
Asap pertama kali terlihat berasal dari kawasan Gunung Kali Ampat yang mencakup wilayah Kelurahan Klagate dan Kelurahan Malamso di Distrik Malaimsimsa serta Kelurahan Malanu di Distrik Sorong Utara.
Sekitar pukul 18.30 WIT, kobaran api mulai terlihat membesar di kawasan pegunungan. Cuaca yang panas disertai embusan angin kencang menyebabkan api cepat meluas ke area vegetasi kering.
Tim gabungan bergerak melakukan pemadaman dan berhasil mengendalikan api pada hari yang sama sehingga tidak meluas ke kawasan permukiman warga.
Namun, peristiwa serupa kembali terjadi pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 14.00 WIT di kawasan Gunung Woroth, Kelurahan Kakublik, Distrik Sorong Kota.

Hingga periode pelaporan berakhir, proses pemadaman masih dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, serta unsur terkait lainnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong melaporkan total luas lahan yang terbakar dari dua lokasi tersebut mencapai sekitar tiga hektare.
Petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama akses menuju titik api yang sulit dijangkau serta keterbatasan peralatan pemadaman.
Saat ini, Pemerintah Kota Sorong sedang memproses penetapan status Siaga Darurat Karhutla. Status tersebut diharapkan dapat mempercepat mobilisasi personel, peralatan, serta dukungan anggaran dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Di Provinsi Jawa Timur, kebakaran hutan juga terjadi di kawasan Gunung Karanglo yang berada di Desa Karanglo Kidul, Kecamatan Jambon.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (22/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB itu menghanguskan sekitar dua hektare kawasan hutan.
BPBD Provinsi Jawa Timur memastikan lokasi kebakaran berada jauh dari kawasan permukiman sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, pemadam kebakaran, aparat keamanan, serta relawan berhasil memadamkan api setelah melakukan upaya pemadaman selama beberapa jam.
Sementara itu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, juga mengalami dua kejadian kebakaran lahan pada Rabu (22/7/2026).
Lokasi pertama berada di lahan perkebunan tebu di Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan. Kebakaran kedua terjadi di kawasan rumpun bambu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Banjarejo.
Total luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai tiga hektare.
Setelah menerima laporan dari masyarakat, BPBD Kabupaten Blora bersama Dinas Pemadam Kebakaran, Satpol PP, serta warga setempat langsung melakukan upaya pemadaman.
Api akhirnya berhasil dipadamkan pada Kamis (23/7/2026), sehingga tidak meluas ke area pertanian maupun permukiman warga.
Masih di Provinsi Jawa Tengah, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Trokerton, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 16.10 WIB.
Kebakaran menghanguskan sekitar enam hektare lahan setelah api yang berasal dari pembakaran rumput ilalang merambat ke kawasan di sekitarnya.
Mengetahui kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Klaten bersama Dinas Pemadam Kebakaran, relawan, dan masyarakat segera menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Berkat respons cepat tim gabungan, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.45 WIB pada hari yang sama sehingga penyebaran api dapat dicegah.
BNPB mengingatkan bahwa musim kemarau berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan, kebakaran lahan, serta kekeringan di berbagai daerah.
Karena itu, pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan dengan meningkatkan patroli wilayah rawan karhutla, memastikan ketersediaan sumber air bersih, menyiapkan peralatan pemadaman, serta mempercepat langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.
Selain pemerintah daerah, masyarakat juga diminta berperan aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar.
BNPB juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana selama musim kemarau guna mengantisipasi potensi kekeringan yang diperkirakan masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat, BNPB berharap dampak bencana hidrometeorologi kering selama musim kemarau dapat diminimalkan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga dan kerugian akibat karhutla dapat ditekan semaksimal mungkin. (09/AGF).










