KONI DKI: Atlet Tak Boleh Jadi Korban Dualisme

Ketua Umum KONI DKI Jakarta Hidayat Humaid menegaskan dualisme kepengurusan cabang olahraga tidak boleh menghambat hak atlet membela daerah pada PON XXII 2028. (Foto: AGF/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Hidayat Humaid, menegaskan bahwa konflik atau dualisme kepengurusan di cabang olahraga (cabor) tidak boleh merugikan atlet.

Menurutnya, setiap atlet harus tetap mendapatkan hak yang sama untuk mengikuti proses seleksi dan membela DKI Jakarta pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pernyataan tersebut disampaikan Hidayat dalam Diskusi Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Jaya bertema “Optimalisasi Jakarta sebagai Kota Penyangga PON XXII NTB/NTT 2028” yang berlangsung di Kantor KONI DKI Jakarta, Kamis (30/7).

Menurut Hidayat, dinamika organisasi merupakan hal yang lumrah dalam sebuah induk cabang olahraga. Namun, persoalan internal tersebut tidak boleh menghambat pembinaan maupun kesempatan atlet untuk berprestasi di ajang olahraga nasional.

“Kalau organisasi berdinamika silakan saja, tetapi tidak boleh melarang-larang atlet untuk ikut bertanding membela provinsi,” tegas Hidayat.

Ia menekankan bahwa atlet merupakan aset utama olahraga daerah yang harus mendapat perlindungan. Karena itu, proses seleksi menuju PON XXII 2028 harus dilaksanakan secara profesional, transparan, dan berdasarkan prestasi, bukan dipengaruhi persoalan kepengurusan organisasi.

BACA JUGA  Modern Pentathlon NTT Target Juara di PON XXII 2028, PP MPI Resmi Lantik Pengurus Baru

Hidayat mengatakan KONI DKI Jakarta telah berulang kali mengingatkan pengurus cabang olahraga yang tengah menghadapi potensi dualisme agar tetap mengutamakan kepentingan atlet.

“Terhadap pengurus cabang olahraga yang kemungkinan ada potensi dualisme atau sedang berdinamika, kami sudah sampaikan berkali-kali. Jangan sampai persoalan organisasi berdampak kepada atlet,” ujarnya.

Menurut dia, atlet telah menghabiskan waktu, tenaga, dan dedikasi untuk menjalani latihan selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, mereka berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk tampil dan mengharumkan nama DKI Jakarta di PON.

Selain memastikan hak atlet tetap terlindungi, KONI DKI Jakarta kini memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas pembinaan menuju PON XXII 2028.

Hidayat mengatakan pembinaan atlet menjadi prioritas utama agar Jakarta mampu mempertahankan tradisi sebagai salah satu provinsi dengan prestasi terbaik di ajang PON.

Ia menjelaskan, KONI DKI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi dalam menyiapkan berbagai kebutuhan penyelenggaraan, termasuk revitalisasi venue olahraga yang akan digunakan selama PON berlangsung.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapan Jakarta sebagai kota penyangga PON XXII 2028, di mana sebanyak 17 cabang olahraga dijadwalkan dipertandingkan di ibu kota.

BACA JUGA  Kemenpora Rampungkan Review 52 Cabor SEA Games 2025, Fokus Analisa Target Medali

“Kami terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memastikan kesiapan venue maupun pembinaan atlet berjalan beriringan sehingga target prestasi dapat tercapai,” katanya.

Hidayat mengungkapkan KONI DKI Jakarta sebenarnya telah memulai program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) sejak 2025 sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju PON 2028.

Namun, pelaksanaan program tersebut belum dapat berjalan secara optimal karena keterbatasan anggaran yang tersedia. Kondisi tersebut terutama dirasakan pada cabang-cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Jakarta sebagai kota penyangga.

Meski demikian, KONI DKI tetap berkomitmen menjaga kesinambungan pembinaan atlet melalui berbagai program latihan, evaluasi, dan kompetisi agar performa atlet terus meningkat menjelang PON.

Hidayat optimistis dukungan pemerintah daerah terhadap pembinaan olahraga akan semakin meningkat seiring semakin dekatnya pelaksanaan PON XXII.

Pada PON XXII 2028, DKI Jakarta menargetkan berpartisipasi di seluruh 71 cabang olahraga yang dipertandingkan dengan total sekitar 1.800 nomor pertandingan.

Target tersebut menunjukkan keseriusan Jakarta untuk tidak hanya berperan sebagai kota penyangga penyelenggaraan PON, tetapi juga mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama olahraga nasional.

BACA JUGA  Erick Thohir Resmi Jadi Ketua Umum PSSI

Menurut Hidayat, keberhasilan Jakarta pada PON mendatang tidak hanya diukur dari jumlah medali yang diraih, tetapi juga dari keberhasilan menjaga proses pembinaan atlet, tata kelola organisasi yang sehat, serta penyelenggaraan yang profesional.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pengurus cabang olahraga, pelatih, hingga atlet, dapat menjaga soliditas dan mengesampingkan kepentingan organisasi demi prestasi olahraga.

“Yang paling penting adalah memastikan atlet dapat bertanding dengan tenang, memperoleh kesempatan yang adil, dan memberikan kemampuan terbaiknya untuk mengharumkan nama DKI Jakarta di PON XXII 2028,” pungkas Hidayat. (09/AGF).