FHI Dukung Dwi Kewarganegaraan Terbatas untuk Atlet Diaspora

FHI Dukung Dwi Kewarganegaraan Terbatas untuk Atlet Diaspora
PP FHI menyambut usulan dwi kewarganegaraan terbatas bagi talenta tertentu karena dinilai dapat membuka peluang pemain diaspora berkualitas memperkuat Timnas Hoki Indonesia. (Foto: istimewa/SP).

JAKARTA | SUDUTPANDANG.ID – Pengurus Pusat Federasi Hoki Indonesia (PP FHI) menyambut positif usulan Presiden Prabowo Subianto mengenai penerapan dwi kewarganegaraan terbatas bagi talenta tertentu, termasuk atlet.

Kebijakan tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi pemain diaspora berkualitas untuk memperkuat Timnas Hoki Indonesia.

Sekretaris Jenderal PP FHI Yasser Arafat Suaidy mengatakan, kebijakan dwi kewarganegaraan terbatas berpotensi memberikan keuntungan besar bagi perkembangan hoki nasional.

FHI saat ini memang tengah menjajaki sejumlah pemain keturunan Indonesia yang berkarier di Eropa.

“Pada prinsipnya, kalau ada peraturan seperti itu, sangat menguntungkan bagi hoki,” kata Yasser, Jumat (14/8/2026).

Menurut Yasser, Belanda menjadi salah satu negara yang menjadi perhatian FHI karena memiliki tradisi hoki yang kuat.

Di negara tersebut juga terdapat cukup banyak pemain keturunan Indonesia yang memiliki kemampuan dan pengalaman bertanding di level tinggi.

FHI melihat potensi diaspora tersebut sebagai salah satu sumber daya yang dapat membantu meningkatkan kualitas tim nasional.

Namun, proses naturalisasi selama ini menghadapi kendala karena sejumlah pemain tidak bersedia melepas kewarganegaraan asal mereka.

“Yang menjadi masalah sekarang, mereka keberatan kalau harus melepas kewarganegaraan Belandanya,” ujarnya.

Persoalan tersebut menjadi relevan setelah Presiden Prabowo mengusulkan perubahan undang-undang untuk membuka skema dwi kewarganegaraan secara terbatas.

Usulan itu disampaikan dalam pidato pengantar pemerintah atas RUU APBN 2027 beserta Nota Keuangannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8)

BACA JUGA  Pelan Tapi Pasti Jadi Strategi Teco Cetak Pemain Muda Handal

Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah ingin membuka peluang dwi kewarganegaraan secara selektif bagi talenta tertentu yang dibutuhkan Indonesia, termasuk atlet.

Menurutnya, diaspora yang memiliki kemampuan dan kontribusi bagi Indonesia tidak semestinya harus memilih antara kesempatan berkarier di tingkat global dan ikatan dengan tanah air.

Bagi FHI, rencana tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkuat skuad hoki nasional. Yasser menyebut banyak pemain keturunan Indonesia di Belanda yang memiliki kualitas tinggi dan berpotensi memenuhi kebutuhan tim nasional.

“Di Belanda banyak sekali keturunan Indonesia, dari kakek atau buyutnya, yang sekarang menjadi pemain di level top,” kata Yasser.

Salah satu pemain yang masuk radar FHI bahkan disebut saat ini memperkuat tim nasional junior Belanda. Pemain tersebut dinilai memiliki kemampuan teknis yang sesuai dengan kebutuhan Timnas Hoki Indonesia.

“Pemain dari Belanda ini pemain junior tim nasional Belanda dan sangat skillful. Yang menjadi pertimbangannya adalah dia harus melepas kewarganegaraan Belandanya,” ujar Yasser.

Kondisi tersebut membuat kebijakan dwi kewarganegaraan terbatas dinilai dapat memberikan solusi apabila nantinya disahkan melalui perubahan regulasi.

Pemain diaspora tidak harus langsung kehilangan kewarganegaraan asal ketika menjalani proses untuk memperkuat Indonesia, tentunya dengan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Yasser menilai masuknya pemain diaspora berkualitas dapat membantu mempercepat peningkatan prestasi hoki Indonesia.

BACA JUGA  Marques Bolden Jadi Orang Indonesia Pertama yang Tampil di NBA

Kehadiran mereka juga dapat memberikan pengalaman dan standar permainan baru bagi pemain yang selama ini berkembang di dalam negeri.

Menurut dia, target jangka panjang FHI bukan hanya meningkatkan prestasi di tingkat Asia, tetapi juga membawa hoki Indonesia semakin dekat dengan persaingan menuju Olimpiade.

“Kalau itu diberlakukan, sangat bagus untuk prestasi. Itu bisa mempercepat prestasi kita menuju level Olimpiade,” katanya.

FHI sendiri sebelumnya telah melakukan penjajakan terhadap empat pemain keturunan Indonesia yang berada di Belanda dan Jerman.

Para pemain tersebut dipantau dan menjalani uji kemampuan sebelum FHI menentukan kesesuaian mereka dengan kebutuhan tim nasional.

Dari empat pemain yang dijajaki, Yasser menyebut tiga di antaranya memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan Timnas Hoki Indonesia.

Sementara itu, satu kandidat asal Jerman dinilai belum memenuhi standar yang ditetapkan.

Proses penjajakan tersebut menunjukkan bahwa FHI tidak hanya mengandalkan pemain dari kompetisi domestik.

Diaspora Indonesia di negara-negara yang memiliki tradisi hoki kuat juga dipandang sebagai potensi untuk memperkuat kedalaman skuad nasional.

Salah satu pemain putri asal Jerman bahkan disebut telah bersedia melepas kewarganegaraannya untuk melanjutkan proses menjadi warga negara Indonesia. Pemain tersebut juga telah menjalani tes dan trial yang dilakukan FHI.

“Yang satu putri dari Jerman sudah mau melepas kewarganegaraannya. Kami sudah tes, trial, dan secara kualitas memang bagus,” ujar Yasser.

BACA JUGA  Presiden Prabowo Akan Umumkan Capaian Swasembada Beras dalam Panen Raya di Karawang

Meski demikian, FHI tetap harus mengikuti ketentuan hukum yang berlaku dalam proses perekrutan pemain diaspora. Apabila aturan dwi kewarganegaraan terbatas disahkan, mekanisme penerapannya juga akan menjadi faktor penting.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan diterapkan secara selektif dan terukur apabila perubahan undang-undang disetujui.

Pemerintah akan mengatur persyaratan, hak, dan kewajiban pemegang dwi kewarganegaraan serta mempertimbangkan aspek keamanan dan kepentingan nasional.

Bagi FHI, peluang tersebut dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas tim nasional.

Kombinasi pemain diaspora berkualitas dengan atlet lokal diharapkan menciptakan skuad yang lebih kompetitif dan mampu bersaing di level Asia.

Dengan dukungan regulasi yang tepat, FHI optimistis potensi pemain keturunan Indonesia di Eropa dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membawa hoki Indonesia menuju prestasi yang lebih tinggi, termasuk mengejar peluang tampil di Olimpiade. (09/AGF)